Mirage

Mirage
Sultan sekali dia


Siang harinya, Lingga berangkat ke kantor dan meninggalkan Mira sendiri di apartemennya, karena ada hal penting yang harus ia urus.


Si ratu es itu belum bangun juga setelah pertempurannya dengan Lingga yang entah sudah berapa kali mereka lakukan pagi itu.


"Ehm …,"


Mira tampak menggeliat di atas ranjang, sambil tangannya meraba tempat di sampingnya. Ia menepuk-menepuknya saat tak mendapati apapun di sana.


Wanita itu pun kemudian membuka matanya dan menoleh ke kanan dan kiri, namun tak ada siapapun juga. Mira pun kemudian bangun dan duduk bersandar di head board.


"Ehm … kemana dia?" tanyanya pada diri sendiri.


Ia meraih ponselnya yang berada di atas nakas, dan melihat jam yang tertera di layar.


"Wah … gue tidur terlalu lama. Apa dia ke udah kantor?" gumamnya.


Mira kemudian membuka riwayat panggilan. Banyak sekali panggilan masuk dari nomor asing, yang sangat dia kenal siapa pemiliknya.


"Harus ku save dengan nama apa yah?" tanyanya pada diri sendiri.


Jari telunjuknya ia diketuk-ketukkan ke sisi dagunya, sambil memikirkan nama yang akan ia pakai untuk menamai nomor asing tersebut.


Tiba-tiba, Mira tersenyum dan segera mengetik sesuatu di papan ketik ponselnya.


"Save." Mira terus mengembangkan senyumannya sambil memandangai nama yang tertera di sana.


Dia kemudian melakukan panggilan ke nomor tersebut. Pada deringan pertama, panggilan langsung tersambung.


"Halo," sapa suara yang terdengar di seberang.


"Kenapa nggak bangunin aku sih!" keluh Mira berlagak sok galak.


"Ma … maaf, Mir. Tadi kamu tidurnya pules banget. Aku nggak tega ganggunya," sahut orang yang adalah Lingga itu.


"Sekarang lagi di mana?" tanya Mira ketus.


"Aku … aku di kantor sekarang," jawab Lingga sambil menoleh ke kanan dan kiri seolah lupa bahwa di tengah berada di mana.


"Benarkah? Kau tidak sedang membohongiku kan, Kak? Bisa saja kan kau sekarang di badara dan akan meninggalkanku lagi," gerutu Mira sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan, dan berusaha menahan tawanya.


Sambungan tiba-tiba terputus, dan membuat Mira terbelalak.


"Kok dimatiin sih? Dasar nyebelin!" Mira membanting ponselnya di atas kasur dan merebahkan dirinya.


Ponsenya kembali berdering. Kali ini, Mira dengan malas meraba sampingnya dan meriah benda yang masih berbunyi itu.


Sebuah panggilan vidio masuk ke ponselnya. Ia melihat nama yang tertera di layar, dan seketika senyumnya mengembang kembali.


Mira kemudian duduk dan bersandar di head boar, kemudian membenahi penampilannya terlebih dulu sebelum menerima panggilan vidio itu.


"Halo," sapa Mira dengan berakting merajuk.


"Jangan marah dong. Aku beneran di kantor nih," ucap Lingga sambil memutar kursi yang di dudukinya, dan menunjukkan seluruh penjuru ruang kerjanya di kantor.


Mira melihat dengan ekspresi datar, dan bibir yang agak manyun.


"Percaya kan sekarang? Aku nggak mungkin ninggalin kamu tanpa pamit lagi, Mir. Kan aku udah janji akan selalu ada di samping kamu," ucap Lingga dengan serius.


Pria itu tak tahu jika Mira saat ini tengah menahan tawanya dengan susah payah, melihat Lingga yang begitu ketakutan saat dirinya merajuk.


"Udah dong, jangan ngambek lagi yah. Aku janji deh, besok-besok kalau mau pergi, aku bangunin kamu dulu bentar. Ayo dong, Sayang. Jangan marah lagi, hem," bujuk Lingga yang melihat Mira masih tetap diam dan cuek.


"Ya udah. Tapi hari ini kau mau ngemall. Jangan larang yah. Aku bosen di rumah terus," rengek Mira.


"Siapa yang minta ditemenin? Aku mau pergi sendiri hari ini. Kami nggak boleh larang, titik!" sahut Mira ketus.


"Hah … ya udah. Tapi kamu hati-hati yah. Kalau ada papa segera hubungi aku," pesan Lingga.


"Duitnya?" Mira lagi-lagi berlagak jual mahal namun merengek seperti anak kecil yang meminta permen.


"Akan ku transfer ke rekeningmu sekarang juga," sahut Lingga.


"Berapa? Seratus?" tanya Lingga menawarkan.


"Ckk … pelit." Mira kembali melengos, namun dalam hati dia tertawa melihat Lingga yang begitu menuruti permintaannya.


"Oke, kau transfer lima rauts juta sekarang. Kalau masih kurang, langsung beritahu aku," ucap Lingga.


"Benarkah?" tanya Mira dengan mata berbinar dan senyum yang seketika mengembang.


"*Iya, Sayang. Apa sih yang nggak buat kamu. Tapi jangan nga*mbek lagi yah," seru Lingga membuat Mira tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya yang butih.


"Oke," ucapnya sambil membuat simbol O dengan telinjuk dan ibu jarinya.


Lingga nampak tersenyum di seberang sana, menatap keceriaan di wajah wanita itu.


"Ya sudah, aku kerja lagi yah. Kalau nggak selesai, ntar malem aku bisa pulang telat," ucap Lingga.


"Ya udah. Aku juga mau siap-siap buat jalan," sahut Mira.


"Hati-hati yah. Selamat bersenang-senang. Jangan lupa bayaranku nanti malam," ucap Lingga sambil mengerlingkan sebelah matanya ke arah Mira.


"Iissshh … dasar perhitungan. Udah sana kerja. Cari uang yang banyak yah," ujar Mira yang kemudia tergelak di depan kamera.


"Awas kamu yah … Lingga terus memandangi Mira sambil ikut tertawa … ya sudah. Aku tutup dulu ya," pamit Lingga.


"Bye, Sayang," sahut Mira.


"Apa? Apa tadi kau bilang? Sayang?" tanya Lingga yang pura-pura tak dengar perkataan Mira.


"Iiihhhh … nggak ada siaran ulang! Weeekkkk …," sahut Mira sambil menjulurkan lidah, dan Lingga seketika tergelak melihat tingkah wanitanya itu.


Mira sekilas melihat tawa pria itu, dan kemudian menutup panggilan vidio tersebut.


"Hah … ayo kita cek rekeningku," gumam Mira sesaat setelah sambungan terputus.


Mira menekan beberapa kali tombol-tombol yang ada di layar ponselnya, hingga ia melihat nominal yang fantastis telah masuk ke dalam rekekning miliknya.


"Wah … sultan sekali dia. Baiklah, apa aku harus bikin list belanja dulu?" gumamnya sambil memikirkan barang-barang apa yang akan dia beli nanti.


"Ah … kenapa aku seperi orang susah. Bod*h! Sudah lah aku mau mandi dan bersiap-sipa shopping," ucapnya sambil bangun dan beranjak menuju ke kamar mandi.


.


.


.


.


Sultan mah dimana2 juga bebas😎😎


next eps besok lagi yah😁


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁