Mirage

Mirage
Sebuah permintaan


Siang itu, Mira dan Steve pergi ke sebuah restoran dengan konsep out door, di mana tersedia meja dengan payung besar di atasnya, untuk menaungi tamu yang berada di bawahnya.


Siang itu cukup terik, sehingga semua meja mengembangkan payung-payungnya, begitu pun Mira dan Steve.


Makanan sudah dipesan, dan seperti biasa, daging panggang selalu menjadi pilihan Mira di mana pun dia berada. Namun kali ini, dia lebih memilih orange juice ketimbang wine sebagai minuman pelengkapnya.


Mereka pun makan siang dengan santai sambil berbincang-bincang ringan. Terlihat bahwa Steve sangat senang bisa berdua dengan Mira saat itu. Pria bermarga Lee tersebut selalu melempar senyum yang menawan kepada Mira.


Namun, si ratu es justru kebalikannya. Dia kembali menunjukkan sifat dinginnya, yang tak mau terngaruh dengan segala pesona lelaki.


Hidangan penutup pun datang. Mira memilih klapertart dingin sebagai dessert di siang hari yang cukup panas ini.


"Oh iya, Steve. Aku dengar kau sedang mempertimbangkan kerja sama dengan Shine group? Bukankah itu proyek potensial untuk mu? Kau sendiri yang pernah bilang kan kalau sengaja ikut sayembara itu," ucap Mira yang memulai tujuan awalnya mengajak pria itu makan bersama.


Steve yang tengah meminum capuchino panasnya pun hampir tersedak akibat pertanyaan Mira. Dia kini tau maksud wanita di depannya yang dengan sengaja mengajaknya makan siang berdua.


Dia pun kemudian meletakkan cangkirnya kembali di atas meja. Pria itu memandang tajam ke arah Mira sambil sedikit memicingkan kedua bola matanya.


"Apa kau diminta Tuan Lingga untuk membujukku?" tanya Steve.


"Tidak. Dia bahkan tak tau kalau kita bertemu saat ini. Aku hanya ingin tau alasanmu saja," jawab Mira sambil kembali menyuapi mulutnya dengan sesendok klapertart.


Steve meraih sebelah tangan Mira, dan menggenggamnya erat.


"Aku menyukaimu, Mir. Tidak bisakah aku memiliki kesempatan untuk itu?" tanya Steve.


Mira meletakkan sendoknya, dan membalas menggenggam tangan pria di hadapannya itu.


"Steve. Sejak dulu, hatiku sudah menjadi miliknya. Dan kau tau, sekarang bahkan aku sudah sepenuhnya milik pria itu. Aku tak mungkin menerimamu hanya karena masalah kalian yang kekanakan ini," ucap Mira sambil mengusap lembut punggung tangab Steve.


"Tapi, kita bisa mencobanya, Mir. Aku yakin, aku lebih baik dari dia. Aku selalu melihat jika dia sering bersikap kasar padamu, dan aku sangat tidak suka akan hal itu," ucap Steve mencoba membujuk si wanita es itu.


"Dia tidak kasar, Steve. Akulah yang sering memprovokasinya. Dan lagi, aku sekarang sedang hamil anaknya," ungkap Mira yang membuat Steve membolakan kedua matanya seketika.


Pria itu menarik tangannya dari genggaman tangan Mira, dan tertawa kecut. Dia menggelengkan kepalanya seakan tak mempercayai perkataan Mira tadi.


"Tidak … tidak … aku tak percaya ucapanmu, Mir. Bisa saja kan itu hanya alasanmu untuk menolakku. Iyakan?" terka Steve.


Mira mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia mengeluarkan lembar terakhir hasil visumnya, lengkap dengan foto USG yang menunjukkan adanya janin di dalam perut si ratu es itu.


"Kau bisa lihat ini," Mira meletakkan lembaran itu di hadapan Steve.


Pria itu pun menghentikan tawanya, dan meraih kertas yang disodorkan oleh Mira. Ia membaca dengan seksama setiap tulisan yang ada di atas kertas itu, hingga dia mengernyitkan kedua alisnya saat menangkap inti dari setiap tulisan itu.


"Mir, ini … ini serius?" tanya Steve yang masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Ya, Steve. Itu asli. Aku menemukannya dibagian akhir laporan hasil visumku, dan aku mengambilnya sebelum asisten Lingga membawanya ke kantor polisi," sahut Mira sambil kembali memakan dessert-nya.


"Apa … apa dia sudah tau?" tanya Steve sambil meletakkan kertas itu kembali di atas meja.


Steve tak percaya jika ada seorang wanita yang sesantai itu menanggapi kehamilannya, bahkan ini sebuah kehamilan di luar nikah.


Dia pun kembali meraih tangan Mira.


"Mir. Ikutlah denganku. Kita bisa membesarkan anak ini bersama. Aku bisa menyayanginya seperti anakku sendiri. Kamu tidak usah beritahukan hal ini pada pria itu. Biar aku saja yang menjaga dan merawat kalian, hem," bujuk Steve.


Mira tersenyum mendengar semua ucapan dari pria bermarga Lee itu.


"Yah … kau mungkin bisa. Tapi aku tak bisa yakin, Steve. Kau tau, aku dulu punya seorang ayah tiri, dan dia sama sekali tak pernah mau peduli padaku. Aku pun sudah berjanji pada anak ini, jika memang pria itu tak mau menerimanya, cukup aku yang akan merawatnya. Jadi, maafkan aku Steve."


"Bukankah dari awal, kita memang lebih cocok sebagai teman, bukan pasangan. Aku mohon padamu, bantu aku agar anak ini bisa mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Dia sudah janji akan menikahiku, saat rencana bisnisnya mulai berjalan di benua Eropa sana. Apa kau tidak mau membantu keponakanmu ini, hem?" bujuk Mira.


Steve sungguh tak percaya jika dia harus mundur sebelum bisa maju.


"Ini namanya kalah sebelum berperang, Mir" Steve mengusap kasar wajahnya hingga rambut depannya terlihat berantakan.


"Ini bukan perang, Steve. Dari awal, kau memang tak punya kesempatan. Kita hanya bisa berteman. Atau mungkin, kau bahkan tak mau lagi berteman denganku setelah ini?" ucap Mira dengan wajah yang ia buat sememelas mungkin.


Rayuan maut Mira sungguh tak bisa dihindari oleh pria manapun, begitu juga dengan Steve. Meski hatinya terasa sakit dan bahkan hancur karena ditolak oleh Mira, akan tetapi dia tak bisa menolak permintaan wanita es itu.


"Mira, aku sangat senang bisa berada di sampingmu, meski hanya sebatas teman. Ya, walaupun akan terasa sedikit berbeda setelah kau mengetahui perasaanku. Tapi, untuk permintaanmu atas pria itu, aku masih harus mempertimbangkannya lagi. Tak apa kan?" ujar Steve.


Mira tersenyum, dan meraih kembali tangan Steve yang sudah berada di atas meja.


"Aku akan menunggu kabar baik dari mu, Uncle Steve." Mira mengubah panggilannya kepada Steve, dan secara resmi menjadikannya sebagai pagar pembatas untuk pria itu, agar tidak lagi menaruh hati padanya.


Steve hanya mampu tersenyum getir, menahan rasa sakit dan kecewa di dalam hatinya. Namun, rasa cintanya kepada Mira membuatnya tak mampu untuk meluapkan semua hal itu di hadapan si ratu es.


.


.


.


.


Nah lho … babang setip udah di suruh mundur alon-alon tuh.


Steve : nyanyi aka yuk lah thor. dari pada galau🤧


Hayuk … seeeerrrrr … aku mundur alon-alon mergo sadar aku sopo … ha e ha e ya …


Dah lah … suara othor fals, abaikan aja😅


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁