Mirage

Mirage
Sebuah Solusi


“Sebelumnya, Mami sekeluarga ingin meminta maaf kepadamu, atas apa yang sudah terjadi di masa lalu. Meski rasanya sudah begitu terlambat, namun Mami ingin memberitahukan semuanya kepadamu, Mari, ” Ucap Aletta.


Wanita itu pun kemudian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Kejadian setelah seorang gadis kecil tak sadarkan diri, ketika berhasil menyelamatkan Lingga dari serangan penculik yang justru berakhir dengan melukai tubuh kecil gadis itu.


Dia pun bercerita tentang apa yang dibicarakan oleh suaminya dan juga Sofia, ibu dari si gadis kecil, tentang apa yang harus dilakukan agar Mari kecil bisa terhindar dari kejahatan yang bisa saja masih mengintai keluarga Wijaya.


“Karena itu lah, kami terpaksa meninggalkanmu di sini, Nak. Maafkan kami. Kami pun sebenarnya ingin membawamu serta ke keluar negeri, tetapi kami mengira jika kamu akan lebih baik di sini. Kami tak tahu jika hidupmu justru akan seberat ini di tanah air. Maafkan kami, Nak. Maafkan kami,” pungkas Aletta.


Wanita itu tak mampu untuk bersikap biasa saja sepeti sebelumnya. Airmata sudah membanjiri wajah cantik bak pualam itu.


Tuan Wijaya yang duduk disampingnya pun, merangkul pundak sang istri, dan mengusap lembut lengan atas Aletta.


Mira pun tak bisa berkata apapun lagi. Dia memang sempat marah dengan keluarga itu, karena sudah meninggalkannya begitu saja, bahkan saat dirinya dalam keadaan sekarat.


Namun, setelah melihat kehadiran Aletta dan keluarga itu kembali, rasa marahnya justru hilang.


Mungkin yang aku rasakan selama ini bukan benci, tapi rindu yang teramat, atas kehilangan mereka yang selama waktu itu sudah menghiasi hari-hariku, batin Mira.


Lingga beranjak dari sofa yang didudukinya dan pindah di atas tangan sofa yang berada di belakang Mira. Pria itu pun merangkul wanitanya dan mengusap lembut pundak Mira.


Wanita itu menoleh dan Lingga pun membalas tatapan Mira sembari tersenyum. Si ratu es membalas senyum prianya tipis.


Aletta nampak menghentikan tangisnya, dan berusaha untuk kembali berucap kepada wanita yang dicintai oleh putra sulungnya itu.


“Sekarang, kita bicarakan masalah hubunganmu dengan Arya,” ucap Aletta kepada pasangan di depannya itu.


Lingga berhenti mengusap pundak Mira, dan merem*snya sedikit kuat. Mira pun meraih tangan pria itu, dan akhirnya mereka pun saling menggenggam tangan masing-masing.


“Jujur, saat Mami tau kalau Arya tinggal bersama seorang wanita pekerja malam, Mami kecewa dan ingin agar dia menyudahi hubungan terlarangnya dengan mu. Tapi, saat Mami tau itu kamu, Mami justru ingin agar kalian segera bersatu,” ungkap Aletta.


Mira menatap Aletta dalam-dalam. Dia mengerutkan kedua alisnya karena tak mengerti maksud dari ucapan wanita paruh baya itu.


“Kenapa, Mi? Apa alasannya?” tanya Mira.


“Tidak ada alasan khusus, hanya karena itu kamu, maka Mami tidak akan menghalangi hubungan kalian. Hanya saja...,” sahut Aletta.


Wanita paruh baya itu kemudian menoleh ke arah suaminya. Dia seolah tak mampu untuk meneruskan perkataannya.


Tuan Wijaya yang paham akan bahasa tubuh sangat istri pun, mengambil alih pembicaraan tersebut.


“Tapi masalahnya, seperti yang kamu tau, kami adalah keluarga pemilik dari Shine group. Sebuah perusahaan ritel ternama di Asia, yang sebentar lagi akan melebarkan sayapnya ke benua Eropa. Jadi, sudah pasti pernikahan kalian akan menjadi sorotan warga yang ada di muka bumi ini.”


“Jika saat ini kamu muncul begitu saja dimuka umum, semua yang mengenalmu pasti mengatakan jika istri pewaris Shine group adalah seorang wanita penghibur. Aku tau, kamu pasti paham akan hal itu. Benarkan, Mari?” tanya Tuan Wijaya.


Mira hanya mengangguk lemas, dengan wajah yang tertunduk malu.


“Tapi, Yah. Kita bisa menghentikan pemberitaan miring soal Mira. Kita bisa bayar mereka agar tidak menyebarkan hal negatif tentang wanitaku,” ucap Lingga yang mencoba membela wanitanya.


“Bisa saja. Dengan kekuasaan yang kita miliki, hal itu sangat mungkin dilakukan. Tapi, Ar. Asal kamu ingat, media elektronik dan cetak, bisa dihitung jumlahnya. Tapi, kekuatan jari tangan netizen dan mulut manusia di muka bumi ini yang berjumlah triliyunan, tidak bisa kita hentikan semuanya. Mereka akan terus membicarakan Mira di mana pun dia berada. Apa kamu sanggup menghadapi setiap tatapan sinis dan merendahkan dari mereka semua, Mari?” tanya Tuan Wijaya kepada calon menantunya.


Mira tak bisa menjawab apapun juga. Dia sadar betul akan hal itu.


“Itulah kenapa saya memilih untuk pergi dari negara ini, dan menghilang dari kehidupan Kak Arya. Karena sungguh sulit untuk membuat saya pantas menjadi pendampingnya,” tutur Mira


Lingga yang mendengarkan hal itu langsung dari mulut Mira pun, seketika bangkit berdiri. Tangannya mengepal dan menatap tajam ke arah kedua orang tuanya.


“Aku nggak peduli apa yang akan orang katakan. Kalau Ayah dan Ibu tidak bisa menerima Mira, maka aku akan keluar dari keluarga ini,” Seru Lingga.


Mira ikut berdiri dan menarik lengan prianya itu.


“Nggak. Aku nggak mau kalau nggak ada kamu. Cukup selama ini aku ke sana kemari mencari mu. Setelah ku temukan, mana mungkin ku lepas begitu saja,” sahut Lingga.


Dia meraih tangan Mira dan menggenggamnya erat. Pria itu seakan begitu takut jika harus kehilangan Mira lagi di dalam hidupnya.


Tuan Wijaya dan Aletta saling pandang, dan terlihat menghembuskan nafas dengan begitu berat.


“Sebenarnya, tidak harus se mendramatisir ini sih. Kami nggak bilang kalau Mari tidak boleh menikah dengan mu, Ar. Tapi, kami hanya khawatir dengan mentalnya, yang harus menghadapi omongan orang-orang di luar sana,” tutur Aletta.


“Kalian duduklah dulu. Kita bicarakan semuanya dengan kepala dingin. Tidak usah pake acara drama-drama segala seperti tadi. Itu menggelikan, Ar,” seru Tuan Wijaya.


Lingga dan Mira pun kembali duduk dengan kedua tangan mereka yang terus menggenggam erat satu sama lain.


“Kami punya sebuah rencana,” tutur Tuan Wijaya.


“Rencana apa, Yah?” tanya Lingga.


“Mari, kamu lanjutkan pendidikan mu, dan ambil bagian dalam bisnis keluarga kami. Bagaimana?” ujar Pria paruh baya itu


Mira menoleh ke arah Lingga dengan tatapan seolah tengah meminta tolong. Wanita itu merasa keberatan dengan rencana tersebut, karena hanya akan semakin membuatnya terbebani.


“Ehm... Seperti nya, itu bukan ide yang bagus,” ucap Lingga.


Tuan Wijaya dan istrinya saling pandang dan mengernyitkan kedua alis mereka. Setelah itu, mereka berdua kembali menatap Lingga dan Mira yang ada di depannya.


“Jadi, apa kamu punya saran yang lebih baik?” tanya Tuan Wijaya.


“Mira pandai membuat sketsa gambar sejak kecil, dan sampai sekarang pun, dia masih suka mencorat coret kertas dan menghasilkan gambar yang bagus. Bagaimana kalau dia mengambil jurusan fashion desighner, dan mengambil alih perusahaan ayah angkatnya. Aku rasa itu lebih baik. Dengan begitu, dia bisa menunjukkan dirinya pada dunia, kalau dia mampu dan layak untuk masuk ke dalam keluarga kita. Bagaimna menurut mu, Mir?” tanya Lingga.


“Aku rasa itu ide yang bagus. Kamu bisa mengambil alih seluruh perushaan Thomas, atau mungkin, dimulai dari salah satunya,” ucap Tuan Wijaya.


Mira seketika menatap ke arah pria tua itu dengan terkejut.


“Bagaimana, Papi tau tentang Thomas?” tanya Mira.


“Kami tau apa saja yang dilakukan bocah tengik ini. Jadi, sudah pasti kami bisa dengan mudah mencari tahu bagaimana kehidupanmu dan dengan siapa saja kamu pernah berhubungan,” jawab Aletta dengan entengnya.


Mira semakin tak punya muka di hadapan orang tua dari pria yang sangat dicintainya itu.


“Maaf, karena aku sangat tidak layak untuk Kak Arya,” ucap Mira lirih.


“Tidak. Dia juga sudah banyak merasakan tubuh wanita lain. Jadi, apa bedanya dengannmu? Mari, anggap saja kalian itu impas. Arya dapat bekas orang banyak, karena dia juga udah nyobain banyak wanita. Impas kan?” ucap Aletta yang lagi-lagi berbicara dengan begitu entengnya, hingga Cheria dan sang ayah hanya bisa geleng-geleng kepala.


Mulut Mami selalu nggak pake filter, batin Cheria.


Hah, dasar Ibu. Selalu saja menjatuhkanku di mana pun berada. Gimana kalau Mira sampe marah? Batin Lingga kesal.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁