Military Sweet Love

Military Sweet Love
Rencana Membunuh Yang Gagal


Pelayan perempuan itu membuat minuman jus buah, tanpa dicampurkan dengan apa pun. Duckin berusaha memastikannya, tanpa melewatkan sedikit pun prosesnya. Sudah banyak modal dusta, yang dilakukan oleh perempuan tersebut. Dari mulai menjatuhkan kulit buah, hingga menyenggol sendok di atas meja, untuk mengalihkan perhatian Duckin. Pelayan itu mengoles sedikit racun ke ujung sendok, lalu mencelupkannya ke dalam gelas.


"Kenapa? Tangannya mulai eror ya?" tanya Duckin, penuh selidik.


Dag-dig-dug, namun mempertahankan tindakan supaya tetap tenang. "Biasalah, hanya capek saja." Tangan kanan mengusap rambut, berpura-pura lelah. "Ini hanya kurang istirahat saja."


"Hari ini aku sedang baik hati, biar aku yang mengantarkan minuman untuk komandan Qairen." Duckin segera merebut nampan, yang ada didekat meja.


"Eh, tidak perlu repot-repot. Ini sudah menjadi tugasku, nanti aku ditegur dengan bos." Berusaha mencegah Duckin, melakukan hal tak seharusnya.


"Tenang, aku kenal dengan bos kamu. Pasti Duu Goval yang mengatur pesta Cemara ini." Duckin tersenyum lebar ke arahnya.


"Ya, aku tidak ingin melakukan kesalahan. Maka dari itu, aku ingin melakukan pekerjaan sebaik mungkin." jawabnya, menutupi maksud niat hati.


"Ah, kamu terlalu sungkan. Aku ini ajudan setianya, membiarkan aku mengantar minuman pasti tidak mengecewakan." Duckin menggunakan gaya bercanda.


"Baiklah, silakan lakukan yang kamu inginkan." jawabnya, dengan terpaksa mengalah.


Duckin sengaja meletakkan gelas yang berisi racun, di hadapan Duu Goval. Seorang pelayan muda memberi kode, dengan mengedipkan mata. Tidak lupa mengirim pesan ke ponselnya, bahwa minuman yang sekarang di genggamnya telah ditukar. Duu Goval merasa jengkel, lalu sengaja menjatuhkan gelas.


"Haduh, sangat disayangkan minuman segar ini tumpah. Ini semua karena salahku, yang fokus pada pesan ajudan ku!" alibi Duu Goval.


"Jangan sungkan, aku bisa meminta tolong pelayan untuk membuatnya." Duckin tersenyum, lalu melirik ke arah pelayan yang berada tidak jauh.


Sementara di sisi lain, ada Adrim yang menyusun buah-buahan. Semua orang melihatnya, dan terdiam sejenak.


"Kamu niat banget menyusun buah mangga di bawah pohon!" ucap Aziz.


"Iya dong, biar bebas makan sambil foto-foto." Adrim sudah membuka menu kamera.


"Melihat buah mangga yang sebanyak ini, jiwa dagang ku meronta-ronta." Aziz mengingat uang dan uang.


"Dih, ini tidak dijual!" Adrim menjawab ketus.


"Wakil presiden terlihat kehausan, sampai lupa mengajak bersulang!" ucap Qairen.


"Maaf, kali ini aku tidak basa-basi lagi!" Duu Goval tidak tulus, dalam mengucapkan kata awal.


Kamera pengintai sengaja dipasang diam-diam, pada mobil militer yang biasa dibawa komandan Qairen. Dipang sudah merencanakan semuanya, agar pergerakan Qairen tidak lepas dari penyelidikan. Dengan seperti itu, perang dingin ini akan dimenangkan mereka.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Duckin sengaja mengajak Qairen berbicara di pinggir jalan. Duckin tidak ingin, bila dialog mereka didengar orang lain.


"Komandan Qairen, mereka diam-diam memasang Cctv pada mobil. Kamera dengan sekecil lubang jarum, jelas membuat mereka merasa terbantu. Suara sangat jernih, dilengkapi dengan sinyal sambungan jarak jauh!"


"Tidak mengapa, ikuti saja permainannya!" jawab Qairen.


Duckin dan Qairen pergi ke sebuah danau, lalu jalan merunduk melewati lampu ilalang. Tujuan mereka agar tidak ketahuan, oleh kamera pengintai yang telah disiapkan Duu Goval.


"Kita masuk ke dalam mobil prajurit saja!" ajak Qairen.


"Baiklah, ayo komandan!" Duckin bersemangat, sambil menggandeng tangan Qairen.


Duckin memasuki hutan, untuk membantu aksi penyelundupan senjata. Qairen dan Duckin memerintahkan pasukan, agar secepatnya dalam bertindak. Keduanya tidak ingin didahului oleh Duu Goval.


"Apa wakil presiden tidak curiga, jika komandan pamit lebih awal?" tanya Duckin.


"Tidak mengapa, tidak ada hal penting lagi!" jawab Qairen.


Tiba-tiba suara mobil tank terdengar, Qairen menarik lengan Duckin saat tembakan mulai diluncurkan ke segala arah. Qairen dan pasukannya melarikan diri, saat hampir ketahuan prajurit Duu Goval. Mereka melangkah dengan cepat, menuju bukit yang tinggi.


"Ingat, kita harus berpencar supaya aman!" ujar Qairen.


"Ya komandan!" jawab semua pasukan.


Para prajurit segera beralih tempat, memanjat ke pohon yang tinggi. Ada juga yang sembunyi, dalam lubang bawah tanah. Semak-semak pun dijadikan tempat untuk berlindung, dari pengawasan teropong jarak jauh.