
Sudah lumayan petang, para prajurit Duu Arven masih siaga. Mereka berdiri dengan rapi, mengelilingi area sekitar. Baik lapangan kantor militer, ataupun asrama yang ditinggali Qairen.
"Duckin, mengapa malam ini mereka tidak pulang?" tanya Qairen.
"Aku sudah menanyakan pada ajudan setia jenderal muda, bahwa mereka mendapat tugas untuk menginap di sini." jawab Duckin.
"Sepertinya, jenderal muda menerima saran dari nona Ayesa." Qairen menutup tirai, yang sempat dibuka.
"Nona Ayesa ini membantu di depanmu, namun di belakangnya menjebak diam-diam." Duckin kesal.
"Tenang saja, aku juga tidak melakukan pergerakan. Aku sedang sakit, jadi ingin beristirahat." ucap Qairen.
"Istirahatlah, setidaknya para prajurit sudah memiliki nomor militer resmi." jawab Duckin.
Ayesa sedang membaca buku di kamar, lalu melihat Qairen berada di sampingnya. Ayesa refleks melompat, karena sangat terkejut.
"Hah, komandan Qairen ada di rumahku?" Ayesa menepis yang dilihatnya, lalu menghilang begitu saja. "Hih, hanya ilusi." Meletakkan buku, lalu merebahkan tubuh.
Matanya sudah berusaha terpejam, namun tetap saja muncul Qairen yang sedang menyisir rambut. Ayesa beranjak dari tidurnya, lalu berdiri depan cermin.
"Mengapa aku memikirkan dia si, ah tidak mungkin. Aku rasa otakku perlu liburan, dia pasti kelelahan hingga mengingat komandan."
Tiba-tiba ada bayangan Qairen di depan cermin. "Hai nona Ayesa, kamu akhirnya naksir 'kan sama aku." Senyum meledeknya juga masih sama.
Ayesa menepuk cermin, lalu Qairen beralih berdiri depan pintu. "Nona Ayesa, kalau jatuh cinta jadi lebih lucu."
Ayesa tanpa sadar senyum sendiri. "Hih gila, orangnya pun tidak ada. Bisa-bisanya bayangannya mengikuti ke sana kemari." Menepuk lirih pelipisnya, berusaha melarikan Qairen dari hatinya.
Ayesa bergidik ngeri, berlari ke arah ranjang tidur. Secepat mungkin menarik selimut, malu dengan kucingnya yang memperhatikan tingkah anehnya.
Keesokan harinya, Qairen menghampiri Duu Arven yang baru datang. Dia sengaja ingin mencari tahu, meski tidak perlu lagi. Hal yang sedang diduganya, memang sudah tepat sasaran. Duu Arven melakukan pengawasan ketat, agar Qairen sulit melakukan pergerakan.
"Jenderal muda perhatian sekali, semalam aku sampai dibuat nyenyak. Bisa-bisanya mengirim banyak prajurit untuk berjaga." Qairen tersenyum, dengan basa-basinya.
Duu Arven tersenyum juga. "Jika komandan suka, aku ikut senang. Mereka akan berada di sini, selama beberapa bulan."
"Wah, rasanya aku ingin melompat. Bagus sekali pemikiran jenderal muda, bisakah aku meminta bantuan?" Qairen mempunyai ide.
"Katakan saja." Duu Arven penasaran.
"Aku ingin mereka membantu pasukan prajuritku berkebun. Kebetulan sekali, lahan pertanian kami kebakaran. Semakin cepat siap, semakin lebih baik." ungkap Qairen.
"Jangan sungkan komandan Qairen, sekarang kita rekan kerja." jawabnya ramah.
Qairen dan Duu Arven berjalan ke lahan pertanian, melihat para pasukannya menyemai bibir sayuran. Qairen merasa ada manfaatnya juga diawasi oleh pasukan prajurit Duu Arven.
"Komandan Qairen memiliki pasukan yang cekatan juga." ujar Duu Arven.
"Iya, karena mereka sudah terlatih mengikuti perang. Akhir-akhir ini aku merasa lega, karena mereka mendapatkan nomor resmi jabatan militer." Qairen memberitahukan secara tidak langsung.
"Syukurlah, artinya kalian bisa berpartisipasi membela negara." Duu Arven tersenyum, tidak memperlihatkan kecurigaan.
"Pasti jenderal muda, aku memperjuangkan negara dengan jiwa raga." Qairen membenarkan kerah bajunya, sambil tersenyum lebar.
Pasukan prajurit bergerak cepat, menanam kembali lahan yang ludes terbakar. Area tanaman yang masih menghijau, sudah dipanen beberapa hari lalu. Sekarang hanya perlu menunggu panen berikutnya.
Pada saat malam hari, makan malam dibagikan oleh Duckin. Para prajurit di asrama sudah kelaparan, antri untuk mendapatkan giliran.
"Makanan gorengan ini sudah kecut, aku tidak sudi memakannya." ucap salah satu prajurit pada temannya.
"Iya, bisa sakit perut kita." jawab orang di sebelahnya.
"Ajudan Duckin ini, apa sudah tidak punya persediaan bahan pangan?"
"Entahlah, bukankah yang mengatur semua ini komandan Qairen."
Qairen muncul dan memberikan kotak nasi, sebuah makanan yang layak dimakan. Isi di dalamnya masih hangat, memang sudah disiapkan sejak awal. Dia segera meraih gorengan, yang sedang mereka masalahkan.
"Kalian yakin mau membuang makanan ini?" tanya Qairen.
"Iya, makanan tidak enak seperti itu, untuk apa dipertahankan." gerutunya.
"Saudara setiaku, makanan ini masih lebih baik. Apa kalian ingat, saat perang kita minum air putih saja? Bahkan, untuk mendapat sesuap nasi kesulitan." Qairen nostalgia.
"Komandan benar, tapi sekarang tidak sedang perang." bantah keduanya.
"Suatu hari nanti, kita harus perang. Kalian perlu mempersiapkan diri dari sekarang, baik fisik ataupun senjata." Qairen memakan gorengan di tangannya.
"Komandan jangan dimakan, lebih baik berikan ke ayam tetangga saja." Salah satu dari mereka melarang.
"Tidak apa-apa, aku harus berlatih kuat." jawab Qairen.
"Komandan 'kan sedang sakit, jangan menambah parah kondisi."
"Walau pun tidak ingin memakannya, kalian jangan mencela makanan. Cukup berikan pada hewan peliharaan, mereka juga butuh asupan kalori." Qairen tersenyum.