
Qairen mengantar Ayesa ke asrama militer, karena dari tadi dia sudah menguap. Qairen terkejut melihat darah menetes ke lantai, berasal dari dress yang dikenakan Ayesa. Qairen meraih darah di perut Ayesa, yang tertancap kaca tadi.
"Aaa!" Ayesa menjerit.
"Perutmu terluka, kenapa tidak bilang." Qairen seperti seorang ayah memarahi anaknya.
"Cuma luka sedikit, komandan terlalu berlebihan." Wajahnya terlihat pucat.
"Tidak bisa, biar aku panggilkan dokter untuk mengobati kamu."
"Jangan merepotkan dokter tengah malam seperti ini."
"Dokter sudah terbiasa 24 jam siaga."
"Sudahlah, jangan repot-repot."
"Aku mana bisa tenang membiarkanmu. Kalau aku yang mengobatimu, ini bisa jadi fitnah. Bagaimanapun juga, laki-laki dan perempuan harus menjaga jarak." Teringat kejadian sebelumnya.
"Iya sudah, terserah apa maumu." Ayesa akhirnya pasrah, sudah kalah telak pun.
Steffy akhirnya datang memenuhi panggilan kakaknya sendiri. Sampai di asrama, tetap mengetuk pintu. Steffy memang tidak ingin ketahuan, bila statusnya adik kandung Qairen. Ayesa melihat Duckin membukakan pintu, lalu Steffy masuk ke dalam.
"Komandan Qairen, mengapa gadis sombong ini bisa terluka?" tanya Steffy.
"Dia tertindas di wilayah sendiri. Jangan lupa, dia adalah anak presiden Zicko." jawab Qairen.
"Hah, kamu?" Ayesa melotot ke arahnya. "Beraninya bicara seperti tadi, mengatai aku perempuan sombong." Ayesa teringat perjumpaan awal, yang tidak mengesankan.
"Kenyataanya seperti itu, aku sudah minta maaf di depan pintu. Namun nona memilih berlalu saja, tanpa membalas ucapanku." jawab Steffy.
Qairen bingung sendiri. "Kalian sudah saling kenal."
"Tidak." Keduanya menjawab kompakan.
"Sudah, jangan berdebat lagi. Cepat kamu obati nona Ayesa." pinta Qairen.
Steffy membuka kotak obat. "Cepat angkat rokmu."
"Duckin, ayo kita keluar." ajak Qairen.
"Iya komandan Qairen." jawab Duckin.
"Sadar diri juga para lelaki." Steffy sedikit senyum.
Ayesa baru mengangkat roknya, saat mereka sudah keluar. Pintu tertutup, dan Steffy mencabut kaca lancip di perut Ayesa.
"Aaa..." Suaranya menjerit sangat lantang, sampai membangunkan penghuni asrama.
Steffy mengelap luka Ayesa dengan tisu khusus. Pecahan kaca halus diambil, dengan menggunakan pencapit himgga terangkat. Steffy meletakkan di tempat khusus, dan Ayesa ngeri sendiri melihat darah.
"Ini ulah Childith."
"Terlalu mengada-ada, dia adalah sahabatku."
"Pantasan saja, kelakuannya sebelas dua belas denganmu." Ayesa cemberut.
"Nona ini memandang buruk orang lain, seperti paling benar sendiri saja."
"Nah, perutku terluka sudah menjadi bukti, terlihat jelas siapa yang melakukannya."
"Meskipun aku temannya, tapi aku tidak ikut-ikutan berbuat jahat." Steffy menjelaskan terus terang.
"Jangan mentang-mentang dokter pacarnya komandan Qairen, lantas bisa membuat kepercayaan hatiku luluh."
"Hahah... hahah..." Steffy malah tertawa terpingkal-pingkal.
Steffy geleng-geleng kepala, sambil berbicara dalam batin. ”Haduh nona, bisa-bisanya kamu beranggapan seperti ini. Wajar saja, bila Kak Qairen betah di kantor militer. Ternyata ada satu gadis sepertimu, bisa menjadi hiburan di kala penat.”
Qairen dan Duckin masih berjaga di luar, sampai Duu Arven menghampiri mereka. Duu Arven melihat Steffy keluar dari ruangan, bersamaan dengan mata Duu Arven menyapu setengah ruangan.
"Mengapa dokter keluar dari ruangan mu?" tanya Duu Arven.
"Nona Ayesa sedang terluka, dia menginap di sini."
"Aku izin masuk."
"Silakan! Qairen mempersilakannya.
Duckin hendak masuk juga, namun Qairen mencegah dengan tangannya. "Jangan ganggu dia!" ujarnya.
"Mana ada yang berani menganggunya, selain komandan seorang." jawab Duckin.
"Kamu lama-lama mirip pelawak iya." Qairen manggut-manggut, tersenyum, dan tegak pinggang.
"Ampun, tidak berani melihat amarahmu. Aku kembali ke kamar penginapan ku saja." Berjalan melewati Qairen, lalu putar balik.
"Apa lagi?"
Menggaruk kepalanya. "Salah jalan komandan, itu ke arah gudang." Auto kabur kekuatan kaki kucing.
Ayesa segera duduk, saat melihat Duu Arven menghampirinya. "Ayesa, kenapa kamu bisa seperti ini?"
"Aku tidak ingin kembali ke rumah lagi, intinya Childith yang sudah menindasku." jawab Ayesa.
Duu Arven beranjak dari duduknya. "Biar aku tegur dia."
Ayesa mencekal telapak tangannya. "Jangan, aku tidak apa-apa kok. Malas menimbulkan masalah baru, Ayah sedang sakit juga."