
Duu Goval menemui presiden Zicko pada kediamannya. Ada hal penting yang ingin dibahas, secara tatap muka.
"Berita yang sedang beredar, sudah tidak sedap didengar. Rakyat banyak membela komandan Qairen, karena dia hanya korban dari perilaku keliru Ayesa. Maka dari itu, aku memberikan wewenang untuk mengembalikan pasukan prajuritnya." Presiden Zicko mengutarakan maksudnya.
"Ah, presiden Zicko berlebihan menanggapi isu tersebut. Aku yakin surat kabar menerbitkan berita, karena suruhan dari nona Ayesa." Duu Goval, menebak tepat sasaran.
"Namun, rakyat sibuk berdemo di mana-mana. Seolah kita menindas komandan Qairen, bila terus memaksa keadaan." ujar Zicko.
"Iya sudah, aku akan mengembalikan mereka ke habitat semula. Lagipula, aku sangat merindukan prajurit setiaku." jawabnya.
"Baiklah, ini keputusan yang tepat." ucap Zicko.
"Ya, aku hanya bisa mengikuti. Sebagai bawahan, aku tidak bisa banyak menentang." jawab Duu Goval, sambil menahan jengkel.
Qairen menyambut kedatangan Duu Goval, yang terlihat tidak suka. Namun memaksa diri bersikap ramah, membuat Duu Goval seperti lelucon baginya.
"Komandan Qairen, pasukan kamu aku kembalikan." ujar Duu Goval.
"Terima kasih wakil presiden Duu Goval, sungguh ini keputusan bagus." Qairen tersenyum lebar.
"Ini ada pesta Cemara, jangan lupa hadir iya. Kita akan kedatangan panglima perang dari luar kota." Duu Goval memberikan undangan.
Qairen menerimanya, dengan senang hati. "Aku pasti hadir, tunggu kedatangan dari komandan keren ini ya."
Kampus militer Chenida berlatih menggunakan tali tambang. Mereka sibuk berlomba memperebutkan benda tersebut, agar kelompoknya menang. Steffy hanya menonton dari kejauhan, duduk bersama instruktur Jaguar.
"Steffy, apa kamu ingin punya suami tentara?" tanya instruktur Jaguar.
"Tidak, aku malas jadi janda." Steffy tersenyum, sedikit lucu dengan kalimat candaannya.
"Jangan begitu, jadi tentara belum tentu mati di Medan perang." Instruktur Jaguar masih melanjutkan ucapannya.
"Aku mengerti, bahwa setiap orang bisa mati dengan cara yang berbeda-beda. Namun menjadi tentara, sama saja mencari wilayah untuk terluka. Meski pun, membela negara suatu kebanggaan tersendiri." jelas Steffy.
"Silakan komandan Qairen, kita duduk sana." tawar Duu Goval.
Duu Arven sudah hadir sejak tadi, lalu menyapa Ayesa yang baru datang. Ayesa tersenyum ke arahnya, begitupula dengan Duu Arven.
"Ayo duduk di sana saja, kamu juga sendirian 'kan?" tanya Duu Arven.
"Iya, komandan Qairen sedang menemui panglima perang." jawab Ayesa.
"Panglima perang ingin melihat cara kerja komandan Qairen." ungkap Duu Arven.
"Cara kerja komandan Qairen cukup baik, tidak ada yang perlu dicurigai." Ayesa sedikit membelanya.
"Saat awal dulu kamu curiga padanya, mengapa sekarang terlihat membelanya mati-matian. Aku juga yakin bahwa kamu, yang telah menerbitkan berita pasukan prajurit, saat diambil alih oleh ayahku." Duu Arven hanya heran saja, karena Ayesa juga belum lama kenal Qairen.
"Maaf jenderal muda, aku hanya membalas Budi. Bagaimana pun juga, sudah banyak dia menolong aku." jawab Ayesa, dengan sejujur-jujurnya.
Gelas dimasukkan racun, sengaja untuk membunuh Qairen. Seorang pelayan memang sudah dibayar oleh Duu Goval. Tidak butuh waktu lama, membawanya ke atas meja.
Qairen mengambil gelas di atas meja, lalu sengaja Duckin menyenggolnya hingga air tertumpah ke lantai. Duckin tersenyum, sambil mengedipkan mata sekali.
"Sungguh tidak sopan." Qairen berpura-pura protes.
"Ini tidak sengaja, maaf." jawab Duckin, yang berpura-pura di depan banyak orang.
"Sudahlah komandan Qairen, kita lanjutkan obrolan. Biar pelayan membuatkan air minum lagi, untuk mengganti yang sudah tumpah." sahut panglima perang.
"Ah iya, ucapan panglima perang ada benarnya juga." Qairen segera memanggil pelayan, dengan melambaikan tangannya.
Pelayan mendatangi meja mereka, lalu mengangguk dengan permintaan Qairen. Duckin mengikuti pelayan perempuan, sampai ke dapur. Duckin berhasil membuatnya salah tingkah, karena takut diketahui telah berbuat kriminal.