
Sampai di asrama Qairen diam saja, lalu Ayesa duduk di sebelahnya. "Komandan, mengapa tadi tidak mempertahankan pasukan prajurit?"
"Aku bisa apa, selain pasrah." jawabnya.
"Aku punya rencana untuk membantu komandan Qairen." ujar Ayesa.
"Rencana untuk merayu Ayah nona juga tidak mungkin. Sekarang ini, surat kabar sedang menonjolkan kesalahan ku." jawab Qairen.
Ayesa tersenyum. "Setelah sedikit mengenalmu, aku tahu kesulitan mu."
"Kamu tidak perlu tahu itu, cukup pahami bahwa aku berusaha menjagamu." Qairen senyum, sambil melihat wajah cantiknya.
"Tidak aku sangka, komandan telah mengembalikan uangnya pada Micko. Kalau tidak, dia pasti kebingungan menjelaskan. Atasan negara ini, tahunya beres saja. Namun memeriksa uang di kantor pusat, harus orang tertentu saja yang diperbolehkan." ujarnya.
"Kantor pusat milik pemerintah, wajar saja bila ada peraturannya. Mengenai hal ini kamu bantu saja, masuk ruang rahasia kantor surat kabar." jawab Qairen.
Ayesa mengacungkan dua jempolnya. "Aku akan membantu."
Qairen mengacungkan dua jempolnya, lalu ditempelkan pada kedua jempol Ayesa. "Ini pertanda kerjasama dimulai."
”Entah kenapa, aku bersedia untuk terus membantunya. Aku juga tidak tahu, apa yang terjadi dengan hatiku. Aku tiba-tiba menyukainya dan merasa nyaman. Apaan si kamu Ayesa, jangan mau tertipu olehnya.” batinnya berbicara.
"Harusnya tidak seperti ini, kode yang aneh." Ayesa menarik jempolnya, menjauh dari Qairen.
"Karena aneh itu langka, cuma kita berdua yang tahu." Qairen tersenyum, dengan pandangan mata berbinar-binar.
Duu Goval datang dengan mata berbinar-binar, dia berdiri di lapangan militer Chenida. Qairen terpaksa menyerahkan para prajurit setianya, karena tidak ada alasan menahan mereka.
"Cepat, berjalan ke sisiku!" Duu Goval melihat barisan prajurit, yang tidak bergerak.
"Kami tidak mau." jawab mereka serentak.
"Lihat lah, pasukanmu ini membangkang. Komandan harus ingat, tanpa presiden Zicko pasukanmu tidak akan dilantik dengan cepat." Duu Goval seolah mengejek, cara kerja Qairen.
"Aku memang lalai. Demi presiden Zicko dan negara, aku akan melatih solidaritas mereka dalam pertempuran." Qairen menahan telapak tangannya, yang sudah terkepal.
"Kami tidak bersedia." jawab semuanya bersamaan.
"Jangan membangkang titah komandan, aku bilang ikut iya ikut." Qairen membentak tidak sungguhan, sebenarnya dia tidak ingin melepaskan.
"Baik komandan Qairen." jawab semuanya kompak.
”Tidak aku sangka, kesalahanmu kali ini dapat mengantarkan nyawa menuju kematian. Komandan Qairen lihat saja nanti, siapa yang akan menang. Pasukanmu yang sudah terlatih belasan tahun, akan menjadi milikku selamanya.” batin Duu Goval.
"Duu Arven, nanti komandan Qairen suruh siapkan perang di perbatasan utara. Ajudan Nhanas tidak perlu ikut, aku butuh bantuan untuk membereskan gudang."
"Baik Ayah." jawab Duu Arven.
"Jika aku sendiri, bagaimana perang akan dimenangkan?" Qairen heran, berusaha mendesaknya.
"Terlalu meragukan pasukan prajurit ku, mereka sudah lama bertempur. Pasti sangat ahli, dalam membasmi musuhnya. Ditambah lagi, ajudan setiamu tidak aku ambil." jelas Duu Goval.
Qairen berbicara dalam batin. ”Dia pasti menyusun rencana, aku harus berhati-hati.”
Setelah kepergian Duu Goval bersama pasukan prajurit, Qairen baru kali ini terlihat sangat sedih. Ayesa melihatnya dengan iba, dan berpikir akan melakukan sesuatu.
"Pasti mereka sudah dianggap seperti saudara sendiri. Wajah komandan Qairen, sudah seperti orang tidak memiliki teman." ujar Ayesa.
Duckin tiba-tiba muncul. "Benar nona, mereka bukan sekadar rekan kerja lagi."
Tiba-tiba muncul Adrim dan Aziz, mereka datang secara khusus berdua saja. Mengikuti langkah kaki Duu Arven, yang melewati Qairen dan Duckin. Ayesa mengikuti Duu Arven, hingga menuju ke ruangan kerjanya.
Aziz berbicara sambil bersembunyi, di balik punggung Duu Arven. "Tidak tahu diri, tukang pengkhianat. Pantas dipecat dari jabatan komandan militer. Ternyata ketahuan belangnya, hanya jadi tukang penjilat atasan."
Kepalanya nongol lagi, karena tidak ada jawaban. Saat Qairen menoleh, memilih sembunyi lagi.
"Kekanakan!" celetuk Qairen.
”Dia yang berbuat ulah, namun komandan Qairen yang dibilang melanggar. Ingin aku masukkan karung, dan lempar ke laut. Pengkhianat negara seperti dia, bisa menjadi racun bangsa.” batin Duckin masih jengkel dengan Duu Goval.