Military Sweet Love

Military Sweet Love
Memperhatikan Ayesa Tidur


Ayesa ketiduran di dalam kamar asrama, dan Qairen mengetuk pintu. Tidak ada jawaban, padahal dia ingin mengantar makan malam. Qairen harus ikut berperang di perbatasan utara Glowing.


"Nona Ayesa, kamu tidur saja cantik." Qairen melihat wajah teduhnya, yang sedang terpejam pulas.


Ayesa Membuka mata, namun yang dilihat duluan Qairen. Dia terkejut dengan kehadirannya, takut bila itu bayangan lagi.


Plak!


"Haduh, mengapa menabok pipiku." Qairen meringis kesakitan.


"Maaf, aku ingin memastikan menusia yang aku lihat." jawab Ayesa.


"Kelihatannya, nona sedang merana, karena sakit pun tidak ada yang menemani." ledek Qairen.


"Menyebalkan, aku lapar!" keluhnya, tanpa sungkan.


"Itu, aku sudah menyiapkannya di atas meja." Qairen melirik meja yang terbuat dari kayu, berbentuk persegi.


"Kalau gitu jangan diam saja, mari makan bersama." Ayesa ingin menghabiskan waktu dengan Qairen.


"Nona Ayesa, aku sebenarnya ingin berpamitan. Aku ingin pergi berperang bersama ajudan Duckin, dan juga pasukan prajurit Duu Goval." ujar Qairen.


"Komandan Qairen, aku tidak ingin kamu pergi." Ayesa khawatir.


"Kenapa?" Qairen heran.


"Karena perang itu bisa menyebabkan kematian. Namun aku mengizinkan, jika komandan bisa janji satu hal." jawab Ayesa.


"Hah? Aku tidak salah dengar hahah..." Tertawa terpingkal-pingkal.


"Apanya yang lucu, sekarang situasi genting." jawab Ayesa.


"Lucu saja, mengapa perang pun harus izin dengan nona." Qairen menahan tawa.


"Itu karena kamu rekan kerjaku. Kalau ada apa-apa denganmu bagaimana aku bisa senang, saat kantor surat kabar ada berita menyenangkan." alibi Ayesa.


Qairen mendekatkan wajahnya ke arah Ayesa. "Alasan nona sungguh masuk akal."


Ayesa menjadi grogi, ditatap seperti itu. "Nah, bagus bila mudah dipahami."


"Kalau gitu, makan lah dengan penuh penghayatan. Aku mau pergi dulu!"


"Silakan pergi, bila komandan Qairen dapat menjanjikan satu hal." Ayesa meminta satu syarat.


"Apa itu?" tanya Qairen.


"Janji untuk pulang, dengan membawa kemenangan." jawab Ayesa.


"Baiklah, aku janji demi kerjasama kita berjalan lancar." Qairen mengedipkan matanya sebelah.


Tengah malam, perang baru akan dilakukan. Qairen ditemani dengan Duckin, untuk melakukan serangan pada markas musuh. Sebelum pergi, Qairen memilih baju terlebih dulu. Qairen menyuruh Duckin menilai, mana kemeja yang pantas dipakai olehnya.


"Komandan Qairen lebih bagus mengenakan merah hati." ungkap Duckin.


"Tidak, semuanya bagus dipakai olehku. Orang tampan memakai baju apa pun, pasti semakin bersinar terang." jawab Qairen, dengan percaya diri.


"Ini hanya perang komandan, mengapa harus berpenampilan keren." Duckin menatap heran, sambil menggaruk kepalanya.


"Mati pun harus terlihat tampan, nanti kalau jelek hanya monyet yang berduka." Qairen tersenyum bercanda.


"Komandan Qairen, aku yakin nona Ayesa ilfeel dengan sifatmu." Duckin menahan tawa.


"Mengapa kamu punya pemikiran seperti itu. Aku ini tentara paling menggemaskan, selalu tampil rapi." jawab Qairen.


"Nah ini dia, terlalu narsis." Duckin terus terang.


Qairen masih tersenyum menghadap kaca. "Aku tidak ingin menghilangkannya, sifat ini terlalu antik. Duu Goval akan terbakar, melihat sifat terlalu optimis ini."


Ayesa melihat Qairen yang keluar dari ruangan, ternyata dia sudah menunggu sejak tadi. Qairen melemparkan senyuman, begitupula dengan Ayesa.


"Eh, mengapa kamu terlihat aneh hari ini." ujar Qairen.


"Aku aneh? Perasaan komandan saja kali." jawab Ayesa.


"Nona Ayesa biasanya tidak pernah berdiri lama, hanya untuk menungguku." ujar Qairen.


"Aku hanya ingin melihatmu berpamitan, siapa tahu kamu tidak kembali." alibi Ayesa.


Berbicara dalam batin. ”Ketahuan tidak iya, haduh malu sekali. Jangan sampai ketahuan punya rasa.”


"Nona Ayesa, jangan seperti itu. Nanti kalau aku tiada, siapa yang akan menjagamu." Qairen senyum menyebalkan, membuat kesal lawan bicara.


"Banyak yang sayang sama aku." jawab Ayesa sembarangan, padahal selama ini dirinya selalu ditindas.


Setelah beberapa jam dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di Medan tempur. Qairen merasa sedikit lega, karena sudah berpamitan dengan Ayesa.


"Duckin, kamu tembak kabel listrik menara pengawas itu, supaya menyebabkan kebakaran untuk musuh." titah Qairen.


"Siap laksanakan titah komandan Qairen." Duckin menyipitkan matanya, memperhatikan teropong dari senapannya.


Duar!


Tepat sasaran, mengenai Amper listrik. Kabal setengah terputus, lalu lampu ruangan padam semua. Api mulai menjalar dengan perlahan-lahan, hingga mulai membesar.


"Cepat, kalian tembak manusia yang telah menyebabkan kebakaran." titah pemimpin mereka.


"Siap laksanakan ketua." jawab beberapa orang.