
"Loh kenapa?" tanya Duu Arven.
"Dia itu genit, tidak pantas menjadi komandan. Bisa-bisa perempuan negara Glowing punah." jawab Ayesa, sedikit menggerutu.
Qairen melirik ke arah pintu, lalu Ayesa segera menyembunyikan kepala. Duu Arven memegangi bibirnya, yang ketabrak kepala Ayesa. Rasanya sakit sekali, tulang keras lawan kulit lembut.
"Dia sedang melihat ke arah pintu jenderal muda." Ayesa mempertahankan posisinya yang sekarang.
"Ayesa, kamu mengorbankan bibirku." Duu Arven meringis, sambil memegangi bibirnya.
Qairen tersenyum, karena sebenarnya tahu. Qairen sengaja memanasi Ayesa, dengan duduk mendekat di sebelah tante Fifi. Padahal awal mulanya mereka berhadapan, sekarang malah jadi bersampingan.
"Tante, hari ini sangat cantik mau kemana?" Memuji, tapi menoleh ke arah pintu.
"Aku mau menemui komandan, tentu harus cantik." Tante Fifi tersenyum malu-malu.
Ayesa yang mengintip mendelik. "Dia bilang perempuan itu cantik, masih cantikan juga aku." Sewot sendiri.
"Jangan pikirkan orang lain lagi, sepertinya tanganmu banyak goresan. Ayo aku kompres air hangat, setelahnya aku obati." Duu Arven membawa Ayesa ke ruangannya.
Qairen pergi ke dermaga pada siang hari, diikuti oleh mata-mata Duu Goval. Tapi dia sangat cerdik dalam bertindak, jadi tidak mudah lengah. Dia tahu bahwa mereka mengawasi, jadi perlu berhati-hati dalam melakukan pergerakan.
"Duckin, suruh orang untuk bersiap-siap, memindahkan barang di gudang. Pasti dermaga ini akan diperiksa secepatnya." ucap Qairen.
"Siap laksanakan titah komandan Qairen." jawab Duckin.
Ajudan Nhanas mendapatkan laporan dari ajudan Dipang, bahwa Duu Goval memberikan tugas. Duu Arven membaca telegram dari ayahnya, bahwa dia harus memeriksa gudang dermaga.
"Ada apa?" tanya Duu Arven.
"Ayahmu tampak mencurigai komandan Qairen, padahal sebelumnya pernah melakukan pemeriksaan hasil nihil." jawab Nhanas.
"Meski pemeriksaan mayat tidak ditemukan, yang ini tetap boleh dicoba. Komandan Qairen ini misterius, banyak tindakan yang tersembunyi." tegas Duu Arven.
"Baiklah jenderal muda." jawab Nhanas.
"Aku ingin, kamu menyiapkan acara lamaran Childith." ujar Zicko.
"Baik tuan besar." jawabnya.
"Sudah diantar Ayesa sampai kantor militer?" tanya Zicko.
"Iya, dia sudah sampai dengan selamat." jawab Bhaling.
"Aku tidak ingin, kejadian penculikan menimpanya lagi." ujar Zicko.
"Baik tuan besar." jawab Bhaling.
Duu Arven dan pasukannya sudah mengepung gudang dermaga. Qairen dan Duckin ikut ke sana, karena perlu izin dari mereka juga. Qairen tentu mengikuti pemeriksaan, karena dia sedang menjabat dalam tahap pengawasan.
"Cepat buka kopernya!" titah Duu Arven.
"Baiklah." jawab Nhanas.
Koper satu persatu dibuka, dan isinya mengejutkan semua orang. Termasuk Ayesa yang ikut ke area pemeriksaan. Di dalam koper hanya terdapat sisir, lipstik, parfum, bedak, kotak make up, tas branded, lulur mandi, dan juga perawatan kulit wajah.
"Maaf komandan Qairen, kamu seorang pria muda untuk apa membeli ini?" selidik Duu Arven.
"Jangan mencurigai aku seperti itu. Kalian semua tidak akan mengira, aku berubah menjadi perempuan malam hari 'kan?"
Duu Arven tersenyum. "Tidak, jangan berpikir terlalu jauh. Aku hanya penasaran saja, mengapa beli barang yang tidak begitu banyak manfaatnya. Aku rasa, komandan bukan orang yang seperti itu."
"Ah jenderal muda kurang mengenal ku. Ini barang-barang akan aku berikan pada para Tante, yang selama ini kencan bersamaku. Bukan hanya itu, barang-barang ini berguna untuk Nenek gaul. Kebetulan di panti jompo ada para perempuan lanjut usia, suka merias diri setiap hari. Jenderal muda bila penasaran, bisa ikut jalan-jalan denganku." Qairen tersenyum, menampilkan deretan giginya.
"Aku tidak ada waktu, untuk menemui Nenek-nenek." Duu Arven menolak halus, dengan membawa kesibukan sebagai alasan.
"Tenang, ada tempat khusus untuk menampung gadis muda. Jenderal muda bisa pilih-pilih, banyak kok yang cantik. Mereka bisa ditemui kapan pun jenderal muda bersedia." Masih sempat-sempatnya melakukan penawaran, bagaikan negosiasi barang.