Military Sweet Love

Military Sweet Love
Perang Di Perbatasan Utara


Mereka berlari keluar ruangan, lalu ditembak oleh Qairen. Beberapa orang dari pasukan prajurit Duu Goval diam saja. Qairen memberi titah berkali-kali, mereka masih saja tidak menembak. Memang sudah direncanakan sejak awal, ingin menyengsarakan Qairen di Medan perang.


"Kalian melanggar disiplin militer." ujar Duckin.


"Kami hanya akan menuruti titah Duu Goval." jawabnya.


"Mengapa kalian tidak ikut wakil presiden saja." Duckin kesal.


"Mana bisa, kami disuruh menemani kalian." jawab salah satunya.


"Kalian ini pasti terbiasa melakukan tugas ilegal. Asalkan dibayar wakil presiden, kalian akan menurutinya saja." Duckin berbicara spontan.


"Jaga ucapanmu, jangan memancing emosi orang lain." Mencengkeram kerah Duckin.


Duckin menghempasnya, hingga sebuah tinjuan mengenai pipinya. Mereka mengeroyok Duckin, lalu tidak sengaja terkena peluru.


Dor!


Dor!


Serangan dari musuh tepat sasaran, lalu Qairen memilih menunduk. Duckin mengikuti Qairen, bersama beberapa prajurit suruhan Duu Goval.


"Cepat, kita sembunyi di balik pipa itu." ajak Qairen.


"Baiklah, ayo komandan." Duckin mengikuti Qairen, meski jengkel dengan pasukan sekarang.


Duckin berbisik. "Mereka tidak mau saling melindungi, hanya memikirkan diri sendiri."


"Sudahlah, terima saja kenyataan." jawab Qairen.


Keesokan harinya, Ayesa pergi ke toko Founting Cake sendirian. Dia terkejut saat melihat Duu Goval bergandengan tangan dengan Monic.


"Sejak kapan mereka memiliki hubungan? Apa sampai seperti itu, karena ingin menjodohkan jenderal muda dan Childith. Ah tidak biasa, benar-benar tidak masuk akal. Pasti bukan sekadar menganggap calon besan, aku harus selidiki hal ini." monolog Ayesa.


Duu Goval meraih tisu, lalu mengelap bekas kue di bibir Monic. "Dari dulu tidak pernah berubah, kebiasaan yang ceroboh."


"Aku rindu, sudah lama tidak bermesraan. Mari kita masuk ke hotel biasanya." ajak Duu Goval.


"Masih siang bolong seperti ini." Monic malu-malu mau.


Duu Goval dan Monic berjalan ke arah hotel Cembridga, diikuti oleh Ayesa diam-diam. Dia sengaja menggunakan masker, agar tidak ketahuan. Ayesa menghampiri resepsionis hotel, untuk menanyakan tentang alasan mereka ke sana.


"Aku ingin bertanya, kenapa tamu hotel barusan dibiarkan masuk berdua saja?" tanya Ayesa.


"Maaf nona, menjaga privasi tamu itu penting." jawabnya.


"Namun, hotel ini tidak boleh melanggar aturan. Suami dan istri baru bisa, diizinkan tidur bersama bukan?" Ayesa masih ingin tahu.


"Nona jangan mengorek informasi di sini, atau aku panggil satpam, untuk menyeret nona secara paksa." ancam resepsionis tersebut.


Ayesa memilih pergi saja, sia-sia memaksa orang yang tidak ingin memberitahu. Ayesa pergi ke kantor surat kabar, untuk memuat berita tentang Qairen tidak bersalah.


"Sebenarnya aku yang telah memberi perintah pada pasukan prajurit, maka terbitkan berita seperti ini pada surat kabar." pinta Ayesa.


"Baiklah nona Ayesa, kami akan cetak beritanya." jawab pria paruh baya berkacamata.


Keterangan yang diberikan pada orang yang ada di dalam, setidaknya bisa meringankan komandan Qairen. Setelah pulang perang, dia bisa memiliki pasukan prajurit kembali.


Adrim dan Aziz duduk di tangga emperan, memikirkan perang yang sedang terjadi. Berita kemenangan belum diumumkan pada surat kabar, atau pun televisi nasional. Itu menandakan, bahwa perang belum usai.


"Melihat para tentara berada di garis terdepan, aku jadi merasa bersalah. Kita hanya disuruh belajar, namun main-main dengan seenaknya. Padahal kita generasi bangsa, namun kurang empati pada negeri. Guru benar, kita ini sungguh terlalu." Adrim menangis, mendengar kabar perang di negara Glowing.


Aziz memeluk Adrim. "Benar, setidaknya kita belajar sungguh-sungguh, meski pun tidak menjadi rangking kelas. Dengan begitu ilmu tetap ada, untuk bekal masa depan." Merasa malu untuk menangis, karena bagaimana pun seorang laki-laki.


"Ada duka apa, sehingga berandalan kampus bisa menangis. Aku yang melihat langsung tersentuh, hatiku terenyuh sesaat." ujar instruktur Pango.


"Pak, maafkan kami." Adrim berhamburan memeluknya.


Aziz juga ikut memeluk Instruktur Jaguar, yang baru saja muncul. Dia meminta maaf, sambil mengusap air matanya. Mereka terharu, dengan perjuangan para tentara.