
Racun tidak langsung membunuh Zicko, namun hanya melemahkan sistem tubuh dengan perlahan-lahan. Tujuannya, agar Monic dan Childith tidak dicurigai.
Monic melihat Childith membawa nampan. "Bagaimana sayang, apa dia telah menghabiskannya."
Childith tersenyum sambil melirik gelas. "Kosong Mama, sudah dihabiskan tanpa sisa."
"Hahah... sebentar lagi kamu menjadi pewaris tunggal."
"Iya dong, Childith hebat."
Sementara di sisi lain, Qairen mengajak Ayesa ke panti jompo. Qairen membawakan hadiah yang waktu itu ditemukan, saat apartemen diperiksa oleh Duu Arven.
"Qairen, mengapa lama tidak mengunjungi Nenek." ujar perempuan lanjut usia bernama Giylaya, yang berdandan paling menor.
Qairen tersenyum melihat para nenek mengerubunginya. "Maaf Nek, Qairen sibuk di kantor militer."
Ayesa cemberut. "Apa hebatnya dikelilingi nenek-nenek, jadi mengajakku hanya mau pamer hal ini."
"Asisten Ay, mengapa mematung di sana. Ayo sini mendekat, kenalan dengan mereka." Qairen mengayunkan tangannya.
"Sudahlah, aku tahu para Tante koleksimu. Belum lagi para Nenek yang menyambut kedatanganmu, membuktikan hubungan kalian tidak biasa."
"Kamu terlalu pintar bicara, pasti pacarnya komandan Qairen." Nenek paling menor langsung menguyel-uyel pipi Ayesa, lalu memeluknya dengan erat membuat risih.
Ayesa bergerak-gerak, karena kesulitan bernafas. "Tolong lepaskan, aku bukan pacarnya."
"Hmmm... berarti kamu calon istrinya komandan Qairen." Nenek hanya menduga saja.
Qairen menyahut, dengan senyum menyebalkan. "Benar, Nenek memang paling mengerti."
Nenek memainkan rambut keritingnya. "Aww... cantik sekali, seperti saat aku muda dulu."
"Siapa yang setuju jadi calon istri komandan." Ayesa ketus.
"Wow... sifat cueknya sama sepertiku dulu. Ini trik untuk menarik perhatian pria muda." Nenek Giylaya mengedipkan mata.
"Ini sifat bawaan asli, bukan dibuat-buat untuk cari perhatian." Ayesa membenarkan rambutnya.
Qairen memberikan sebuah kado pada Giylaya. "Ini untuk Nenek, bagus bukan?"
"Iya, lulur ini bisa membersihkan tubuh Nenek. Sejak perperangan, Nenek jarang membersihkan diri lagi. Sakit sekali memikirkan cucu yang mati." Giylaya menunjukkan raut wajah sedih.
Para nenek yang lainnya juga diberikan banyak hadiah. Semua mendapat giliran, dan Ayesa hanya jadi penonton. Nenek-nenek menarik paksa Ayesa, untuk foto bersama didekat Qairen.
"Cepat, kami mau mengabadikan pacar Qairen di panti jompo." pinta beberapa orang.
"Aduh Nek, aku tidak suka berfoto." Ayesa menolaknya.
Qairen merangkul pundak Ayesa. "Nenek Giylaya, foto kami."
"Eh tunggu..." Ayesa melambaikan tangan.
Cekrek!
Cekrek!
Ayesa menggenggam tangan Qairen, karena ingin menghempasnya.
Cekrek!
Nenek Giylaya sudah membidik duluan, dan hasilnya bagus. Qairen senang melihatnya, menyuruh mereka memajangnya.
"Jangan lupa dipajang di mana-mana, supaya semua orang tahu dia milikku." ucap Qairen.
"Apaan si, aku bukan milik kamu." Ayesa kesal sendiri.
Qairen senyum. "Nenek, kami pergi iya."
"Iya komandan Qairen, hati-hati iya." Semua nenek melambaikan tangan di depan pintu masuk.
Qairen masuk ke dalam mobil, dan Ayesa membanting pintu mobil. Qairen ingin tertawa terbahak-bahak, karena Ayesa cemberut sangat lucu.
"Asisten Ay, bahagia 'kan jalan sama aku?" tanya Qairen.
"Malah muak." Menjawab ketus.
Qairen mendekat ke wajah Ayesa, sampai membuatnya terpejam. Wajah Qairen melewatkannya sambil tersenyum, lalu meraih tisu di dekat supir mobil. Ayesa membuka kedua matanya, dan Qairen menatapnya dengan dalam.
"Kenapa pejam mata, asisten Ay tidak mengira aku ingin menciummu 'kan?" tanya Qairen spontan.
Jleb!
Ayesa malu sendiri, lalu membuang pandangan ke luar kaca jendela. "Siapa yang berbicara seperti itu, pastilah yang berniat terlebih dulu. Komandan terlalu narsis, jadi mudah merasakan hal salah." Kedua pipinya merah seperti tomat.
"Apa jika aku punya perasaan juga salah." Qairen tersenyum.
"Terlalu banyak basa-basi, cepat jalan." Ayesa terburu, menahan jantungnya yang berdegup kencang.
Adrim berjalan mendekat ke arah Steffy, lalu memberikan kertas berbentuk love. Steffy mengambil kertas tersebut, lalu meremasnya hingga remuk. Kedua matanya tidak perlu melihat tulisan di dalamnya.
"Seperti ini melanggar aturan kampus, ingat dilarang mendekati perempuan."
"Aku 'kan cuma bicara." jawab Adrim.
"Kalau surat berisi ungkapan perasaan ini aku berikan ke para Instruktur, apa kamu bisa menjelaskannya?" Steffy berpangku tangan.
"Aku tidak bermaksud ingin membuatmu dipecat, tapi tolong hargai aku sedikit saja." jawab Adrim.
"Aku tidak menyukaimu, jadi berhenti mengejar ku." Steffy langsung pergi.
"Aku ditolak sebelum berhasil diungkapkan. Mengapa Steffy terlalu spontan, setidaknya beri kode keras saja." Adrim jadi merana.
"Jenderal muda Duu Arven sudah bergelar lima bintang, keren sekali dia. Menunggu seperti itu, baru perempuan tidak berdaya." Aziz mengagumi temannya sendiri.
Adrim ikut terharu. "Hmm... dia berbeda, jangan dibandingkan lagi."