Military Sweet Love

Military Sweet Love
Mengirim Senjata


Selain bosan di asrama, karena Qairen juga menyukai Ayesa. Dia ingin menghabiskan waktu bersama Ayesa, tanpa ada gangguan sedikit pun. Kalau di asrama, lebih sulit untuk bicara dari hati ke hati.


"Sekarang sudah malam, ayo kita pulang." ajak Ayesa.


"Iya, ayo nona Ay." jawab Qairen, dengan tersenyum tulus.


Baru sampai ke asrama, Qairen sudah mau pergi lagi. Dia memastikan Ayesa masuk ke dalam ruangan terlebih dulu, agar tidak melihat kepergiannya. Qairen mengambil silet dari dalam laci, lalu mengiris tangannya sendiri. Qairen menahan rasa pedih sampai meringis. Tetap bertahan tidak ingin menjerit, karena dapat membuat gaduh.


"Komandan mau kemana, tengah malam begini?" tanya ajudan Nhanas.


"Tanganku terkena silet, mana bisa dibiarkan. Aku harus membawanya ke rumah sakit." jawab Qairen.


"Komandan Qairen, terkena silet luka kecil. Mengapa tidak diobati di asrama saja." ujar ajudan Nhanas.


"Aku takut infeksi, kulitku terlalu mahal." Qairen tersenyum imut, dibuat-buat semanis mungkin.


"Jangan pergi sendirian, biar aku antar." tawar Nhanas.


"Haduh, baik sekali ajudan Nhanas. Maaf ya, karena sudah merepotkan." Qairen berlagak tidak enak, namun tetap kedip-kedip mata.


Duckin yang berada tidak jauh darinya hanya senyum, lalu mengikuti Qairen masuk ke dalam mobil. Mereka pergi dengan pengawasan dari ajudan Nhanas, dan juga beberapa prajurit yang lain. Qairen dan Duckin memikirkan cara, supaya bisa lolos dari pemeriksaan.


"Bagaimana, apa sudah disiapkan semua rencana?" tanya Duckin.


"Iya, sudah kok." jawab Qairen.


"Aku berharap mereka tertipu dengan cara kita." ujar Duckin.


"Iya, jangan sampai diawasi." Qairen tersenyum santai ke arah Duckin.


Mobil sudah sampai ke parkiran, lalu Qairen dan Duckin turun dari mobil. Mereka melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah sakit, lalu Steffy berpura-pura memeriksa kondisi Qairen. Steffy menyamar dengan gaya berbeda, agar tampak sebagai orang asing. Steffy tetap menjaga rahasia, bila dia adik kandung dari Qairen. Ajudan Nhanas menunggu di luar, saat Qairen masuk ke dalam ruangan.


"Kak, mau kemana sekarang ini?" tanya Steffy.


"Aku ingin mengirimkan senjata, untuk Paman Samin." jawab Qairen.


"Tentu saja lewat dari sana, pintu utama diawasi ajudan Nhanas." jawab Qairen, dengan lirikan mata tertuju pada pintu.


Qairen menyamar dengan cara menggunakan baju dokter, lalu keluar dari ruangan. Qairen melangkahkan kaki dengan perlahan, lalu memanjat gerbang belakang. Tidak ada yang tahu, siapa sebenarnya dia. Penyamaran benar-benar sempurna, tidak terendus sama sekali.


Paman Samin sudah menunggu Qairen, untuk proses pengiriman senjata. Qairen harus berhati-hati juga, karena bandara tetap diawasi. Namun kali ini berbeda, mereka adalah prajurit setia milik Qairen. Jadi, mudah saja untuk minta tolong. Meski, masih ada ajudan Dipang yang selalu siap menjaga.


Qairen memberi kode pada prajuritnya, untuk mengangkat kardus berisi senjata. Harus dibawa sampai atas helikopter dengan aman, tanpa diketahui oleh siapa pun juga.


"Cepat, cepat, sebelum ada yang memergoki." Qairen sibuk memerintah, padahal suaranya hanya dapat terdengar diri sendiri.


Ajudan Dipang memilih tegak santai saja. Tidak ingin mengawasi detail, karena sudah mengantuk. Lagipula Duu Goval juga tidak ada di sana, untuk mengawasi hal yang dilakukannya sekarang.


Setelah memastikan senjatanya dikirim, Qairen kembali ke rumah sakit. Steffy membuka pintu samping, yang menjadi jalan pintas melarikan diri.


Ajudan Nhanas melihat Qairen, yang baru keluar dari rungan. "Komandan Qairen, mengapa diperiksa sangat lama?"


"Aku juga tidak tahu, dokternya yang menyuruh tetap berada di dalam." jawab Qairen.


"Tapi komandan Qairen baik-baik saja?" tanyanya lagi.


"Aku baik-baik saja." jawabnya.


Keesokkan harinya, Qairen melihat berita terbaru yang sedang heboh. Ayesa memperhatikan Qairen yang sedang tersenyum, lalu berjalan mendekat ke arahnya.


"Bagaimana? Kamu bahagia 'kan? Dengan beredar berita ini, pasukan prajurit milik kamu bisa kembali." ujar Ayesa.


"Iya asisten Ay, terima kasih." jawab Qairen, dengan sumringah.


"Jangan terlalu senang, aku hanya membalas Budi." ucap Ayesa.


"Terserah asisten Ay saja, intinya pertolongan ini berharga." jawab Qairen.