Military Sweet Love

Military Sweet Love
Strategi Ketahuan


Semua pasukan prajurit Duu Goval mengepung kantor militer Chenida. Duu Arven, Nhanas, Qairen, dan Duckin menuruni anak tangga, menuju ke lapangan yang sudah dipenuhi puluhan ribuan manusia tersebut.


"Komandan Qairen, mengapa pasukan prajurit pergi ke hutan belantara?" tanya Duu Goval.


"Mereka ada urusan penting." jawab Qairen.


"Urusan penting pun, harus menggunakan jam kerja militer. Apa tidak ada waktu lain, atau takut kepergok atasan militer?" Dipang sibuk menyinggungnya.


"Mana mungkin, aku berpikiran seperti itu. Jika ada hal penting, langsung katakan saja, jangan bercanda lagi." Qairen tersenyum, meski tugas rahasianya dipergoki.


"Aku serius komandan Qairen, tidak asal bicara. Aku melihat sendiri, pasukan prajuritmu melewati pos hutan belantara. Bahkan, mereka membakar uang palsu negara barat yang beredar."


"Hmmm... memeriksa uang palsu di kantor pusat dengan keadilan negara yang nihil, tidak mungkin dilakukan 'kan? Takutnya, malah ada yang melindungi musuh diam-diam." Qairen menyindir.


"Apa seperti ini cara komandan Qairen, menjalankan disiplin militer?"


"Maaf wakil presiden, aku akui ini salahku." Menunduk hormat, padahal hati ingin melawan.


"Masalah menggunakan peralatan tempur negara tanpa izin dan memerintah pasukan sesuka hati, bisa ditembak mati di tempat." Duu Goval merasa senang, bisa menyudutkan Qairen.


Qairen tidak bisa melawannya terang-terangan di depan umum, Qairen segera memberikan pistol pada Duu Goval. "Silakan, lakukan hal tersebut."


Duu Goval tidak sabar lagi, jangan menyia-nyiakan kesempatan pikirnya. Duu Goval menarik penekan pistol, hanya tinggal melayangkan peluru.


"Tunggu!" Duckin tiba-tiba berteriak.


"Ajudan Duckin, jangan menghalangi pihak yang melanggar."


"Sebenarnya, aku yang memerintah pasukan secara pribadi. Aku tidak izin lagi dengan komandan Qairen, maka hukum saja aku. Membakar uang palsu itu keinginan sendiri, sungguh tidak melibatkan komandan Qairen."


Duu Goval mengarahkan pistol, tepat di kepala Duckin. "Kamu harus mati, karena sudah lancang dalam bertindak."


Qairen membulatkan kedua bola matanya, tahu bila Duckin berbohong. "Jangan salahkan ajudan Duckin, bagaimana pun dia hanya bawahan ku. Jika ada yang bersalah dalam kelompok, pastilah kelalaian dari ketuanya." Berusaha membela sahabatnya.


Ayesa menuruni tangga dengan terburu-buru, untuk mencegah Duu Goval menembak Qairen hingga mati. "Jangan bunuh komandan Qairen, dia menaati peraturan disiplin militer. Bagian kelalaian ajudan Duckin, karena keterlibatan diriku di dalamnya. Aku memberi perintah, agar pasukan prajurit membakar uang palsu yang beredar. Melihat keadaan Ayah yang sakit parah, dia tidak mungkin mengurus hal yang merepotkan. Aku pikir, memeriksa uang tersebut buang-buang waktu. Masih banyak hal lain yang perlu diurus, daripada memeriksa ke kantor pusat yang bertele-tele. Lagipula tidak penting juga, karena bukan uang negara Glowing yang dipalsukan." jelasnya, dengan keterangan asal-asalan.


"Nona Ay, kamu mudah sekali berkata demikian? Apa kamu tahu, uang tersebut bisa membuktikan ada mata-mata di negara ini." Duu Goval menyudutkan.


"Kalau begitu, berikan hukuman mati padaku saja. Aku akui, bahwa telah melanggar aturan. Memerintah prajurit sesuka hati, bukan bagian dari tugasku."


”Ah sial, gagal membunuh komandan Qairen. Aku tidak mungkin membunuh anak presiden Zicko, nanti bisa hilang kepercayaannya padaku.” batin Duu Goval.


"Ayah, tolong maklumi Ayesa." Duu Arven angkat bicara.


"Baiklah, lain kali hal seperti ini harus dimusyawarahkan." Duu Goval mengalah.


Setelah semua manusia bubar dari lapangan, Duu Arven menemui Ayesa di dalam ruangan. Dia tidak habis pikir, dengan yang dilakukan Ayesa di lapangan tadi. Bisa saja, hal tersebut bukan kehendak dari dalam hati.


"Ayesa, atas dasar apa kamu melindungi komandan Qairen yang licik? Aku setiap hari bersamamu, tapi kamu tidak pernah menganggap perasaanku." ujar Duu Arven.


"Kamu bilang atas dasar apa? Komandan Qairen selalu menolongku, disaat masa-masa tersulit. Kamu pikir masih bisa melihatku, kalau tidak karena dia menolongku. Aku hampir kehilangan kehormatan, hampir mati terbunuh, tapi dia selalu ada disaat aku butuhkan. Dia rela melindungi aku dengan nyawanya." jelas Ayesa, dengan jujur.


"Aku juga bisa melakukannya Ayesa, bahkan aku rela memberikan waktu seumur hidup padamu." ujar Duu Arven.


"Aku terlanjur hutang budi, pada komandan Qairen. Rasanya semua hal sulit sirna, bila ada dia di sisiku." jawab Ayesa.


"Maafkan aku Ayesa, anggap saja aku tidak pernah mengutarakan ucapan apapun." Duu Arven menundukkan kepala.


"Aku juga minta maaf, karena telah menyinggung kamu." jawab Ayesa, tidak enak hati.


"Perasaan memang tidak dapat dibohongi. Sudahlah bersikap seperti biasanya, jangan canggung lagi. Kita berteman sudah lama, dan itu sangat berarti." Duu Arven membalikkan tubuhnya, hingga membelakangi Ayesa.


Ayesa tahu Duu Arven berbohong. "Hmmm... baiklah kalau begitu. Aku harap, kamu masih bisa menjadi sahabatku."


”Melihat jawabanmu yang dipertegas, sudah membuktikan kamu menyukai komandan Qairen. Kamu membelanya, bukan sekadar hutang budi.” batin Duu Arven.