Military Sweet Love

Military Sweet Love
Selalu Ditindas


Sore hari saat pulang dari kantor, Ayesa diantar dengan Duu Arven. Childith yang berdiri di atas balkon naik pitam, karena melihat Duu Arven membukakan pintu mobil. Ayesa melambaikan tangan pada Duu Arven, lalu memasuki pintu rumah. Childith hendak menyiram air bir ke wajah Ayesa lalu tangannya dihempaskan, dan botol jatuh ke lantai.


Pyaar!


"Hei kamu perempuan murahan, lebih baik enyah dari hidupku." Menunjuk orang, seolah rumah itu miliknya.


Ayesa menahan sakit, di dalam rongga dadanya. "Atas dasar apa, kamu berani menginjak aku. Rumah ini milik ayahku, sedangkan aku putri kandungnya. Kamu itu hanya anak Paman Ley, harusnya sadar diri dan tahu etika."


Monic berusaha mengendalikan putrinya. "Tahan emosimu Childith, nanti Paman tertua akan marah."


"Aku tidak peduli, aku ingin mencakar wajahnya. Berani-beraninya kamu mengambil kesempatan, untuk dekat dengan jenderal muda." Bergerak ingin menyerang, namun ditahan Monic.


Monic melihat ke arah Ayesa, dan berjalan mendekat. "Ayesa, kamu mengalahlah. Jangan bertengkar terus, dan ingin menang sendiri."


Ayesa melihatnya dengan tatapan heran. "Bibi, ini rumahku. Tapi kenapa, aku yang dijadikan seperti penumpang."


"Kamu memang cuma penumpang, sebentar lagi rumah ini menjadi milikku." Childith tersenyum, penuh kemenangan.


"Aku tidak akan membiarkannya." jawab Ayesa.


Childith menarik lengan Ayesa kasar, dan menjambak rambutnya. Ayesa tidak mau kalah, melakukan penyerangan dengan mendorong pundak Childith.


"Eh, kalian ini sudah gadis kenapa bertengkar sehebat itu?" Bibi Monic seakan ikut memusuhinya.


"Bibi dan anak sama tidak tahu dirinya." Bergumam, namun terdengar.


Monic dan Childith mendorong Ayesa secara bersamaan, hingga terjatuh pada pecahan kaca botol.


"Aaa!"


Ayesa tidak ingin menampakkan betapa nyeri perutnya, jadi menahan diri untuk tidak meringis. Childith dan Monic pura-pura membantu Ayesa, saat melihat Zicko menuruni tangga.


"Ada apa ini?" tanya Zicko, sambil memegangi dadanya yang nyeri.


"Ayah, aku mau tinggal di asrama militer saja." ujar Ayesa.


"Mana boleh, di sana pria semua." jawab Zicko.


"Setidaknya pria muda lebih baik, daripada Adik sepupu sendiri." Sebenarnya yang dimaksud Childith, namun enggan menyebutkan namanya.


"Ayesa, dia meminta kamarmu secara dadakan. Ayah minta maaf, karena tidak sempat memberitahumu."


"Aku mengerti kondisi Ayah sedang sakit, tapi aku tidak bisa pasrah ditindas." Ayesa sangat kesal. "Ayah, kali ini biarkan aku pergi." Matanya sudah berkaca-kaca.


"Tidak boleh keluar rumah, karena komandan Qairen lumayan dekat denganmu. Kalian sudah tertangkap berduaan di gubuk, mana mungkin aku memberikan izin." Zicko segera pergi ke lantai atas, diantar oleh Bhaling.


Ayesa menangis sendirian, di emperan kantor militer. "Hiks... hiks... itu rumahku, mengapa aku diusir secara halus? Apa salahku, mengapa penderitaan tidak berhenti menghampiri. Semua orang memandang aku bahagia, berdasarkan rumahku yang seperti istana. Padahal aku menderita sekali, terus menyembunyikan luka. Di depan semua orang, aku menyamarkan wujud asli kehidupanku." Duduk meringkuk, ditemani suara jangkrik.


Qairen tiba-tiba muncul, memberikan sebungkus tisu. "Nona Ayesa yang cuek, kamu bisa menangis juga?" Masih sempat-sempatnya meledak.


Ayesa mendongakkan kepalanya, sangat kenal suara familiar tersebut. "Komandan Qairen pasti senang, melihat aku seperti ini."


"Sangat senang, karena kamu terlihat jujur. Lelah juga, melihat wajahmu yang biasa saja." Qairen tersenyum tulus ke arahnya. "Cepat ambil tisunya, atau menunggu aku yang mengelap air matamu?"


Ayesa segera merampasnya, lalu mengusap air mata dengan tisu. "Terima kasih, sudah bersedia menolongku. Meski pun aku tidak tahu, apa maksud yang komandan lakukan."


"Nona Ayesa, aku punya hati nurani. Melihat seorang perempuan sendirian, malam-malam seperti ini. Apa menurutmu, aku tidak kejam membiarkanmu?"


Dada Ayesa berdegup kencang, mendengar penuturannya. "Tentu sangat kejam, namun komandan Qairen 'kan sudah biasa. Selama ini, selalu meminta imbalan." Kembali berbicara dengan nada cuek, menolak terharu.


"Nona Ayesa, aku tidak akan menyia-yiakan kesempatan. Jika aku membutuhkan, maka aku meminta bantuan."


"Hmmm ..." Sedang malas melanjutkan debat, mata terasa mengantuk.