Military Sweet Love

Military Sweet Love
Cemburu


Qairen tersenyum, saat pasukannya tidak menemukan yang dicari.


"Jika kebakaran lahan bukan perbuatan pasukan kalian, siapa kiranya yang dendam padaku. Aku hanya pernah dicurigai oleh pasukan prajurit wakil presiden." Qairen mengorek sedikit informasi.


"Komandan sedang membalas perbuatan ku yang sebelumnya iya? Aku tidak dendam, mana mungkin membakar lahan warga negara sendiri. Aku hanya melakukan tugas yang seharusnya, karena tubuh juga sudah tua renta." Duu Goval beralasan, padahal tahu pelakunya.


"Paling minimal tahu 'kan siapa pelaku aslinya? Memberikan bocoran juga tidak merugikan wakil presiden." Menundukkan kepala pura-pura hormat, membuat Dipang jijik memandangnya.


"Komandan Qairen sudah melakukan yang seharusnya, silakan pergi jika tidak berkepentingan. Aku perlu istirahat, dan pasukan prajurit ku perlu latihan." Duu Goval mengusirnya secara halus.


Setelah kepergiaannya dari kediaman Duu Goval Qairen singgah sebentar ke panti jompo, untuk melihat para nenek yang ditolongnya. Di sana ada Steffy yang sedang memeriksa, memberikan pertolongan gratis tanpa mengeluarkan biaya.


"Steffy, terima kasih telah mengobati mereka. Banyak nenek-nenek yang demam, karena cuaca beberapa pekan ini hujan." ucap Qairen.


"Kalau ada kata terima kasih, aku jadi merasa bukan Adik kandungmu." Steffy mengerucutkan bibirnya.


"Adik baik, benar-benar hormat pada Kakak. Jika sudah bertugas, temui Kakak di kantor militer." pinta Qairen.


"Tenang saja, nanti sore kita jalan-jalan lagi." Steffy menjawab dengan ceria.


Duckin memasuki ruangan komandan tentara, lalu menghampiri Qairen sambil memperhatikan sekeliling. Dia menunduk, lalu berbisik lirih.


"Komandan Qairen, baru saja kami mendapatkan informasi pelaku. Namun beberapa menit setelahnya, mendengar laki-laki ini ditujah. Sebelum dibunuh, tampaknya melakukan perlawanan. Banyak bekas memar di pipi kanan dan kirinya." ujar Duckin.


"Sepertinya musuh kita ini bergerak cepat, takut bila kebusukannya terendus." Qairen berusaha menenangkan diri.


Duckin bingung, dengan rencana hebat Qairen selanjutnya. "Jadi, apa yang harus kita lakukan?"


"Mengikuti permainan mereka saja." Qairen mengelap debu di meja kerjanya. "Mereka berbuat licik, kita bisa menyerang balik." Meniup debu yang menempel di buku.


"Seperti ini juga baik, asalkan dia masih menggunakan cara halus." Duckin menyetujui langkah yang diambil Qairen. "Oh iya, aku sudah mengutus orang untuk menjaga siswi SMP itu."


"Bagus, jangan biarkan bully berkembang." jawab Qairen.


"Hai Ayesa, kami senang bertemu denganmu." ujar Adrim.


Ayesa tersenyum. "Senang juga bertemu kalian."


"Eh, kamu kemana saja kami rindu padamu." Aziz teringat masa kecil, selalu bermain bersama.


"Dilarang merindukannya." Duu Arven tersenyum, sampai menampakkan deretan giginya.


Adrim menepuk pundak Duu Arven. "Ah iya, temanku ini cemburu. Ayesa hanya milikmu seorang."


Membantah, hanya untuk menutupi perasaan sebenarnya. "Tidak, dia adalah milik presiden Zicko."


Ayesa tertawa. "Hahah... sudah, sudah, ayo kita pergi ke restoran Founting Cake." ajaknya.


Mereka pergi berempat, sampai ke sana. Duu Arven membukakan pintu mobil, lalu Ayesa keluar sambil tersenyum. Langkah kaki mereka berjalan bersamaan, dan Duu Arven memesan kue pada pelayan.


"Akhirnya, setelah sekian lama tidak makan bersama kita bisa berkumpul lagi. Aku rindu sekali masa-masa itu, main petak umpet sampai bersin-bersin." ungkap Aziz, dengan ceria.


"Oh iya, gudang belakang wakil presiden Duu Goval banyak debu. Belum lagi kecoak dan cicak, yang membuang kotoran sembarangan." jawab Ayesa.


"Gara-gara merasa jijik, kakimu terus berjalan mundur, sampai tidak sengaja menginjak paku." Duu Arven masih mengingatnya.


"Oh iya, saat itu Duu Arven memperban kaki Ayesa. Darahnya sangat banyak, takut infeksi bila lubangnya terbuka." sahut Adrim.


Pelayan datang mengantarkan makanan di atas meja. Ayesa makan kue kesukaannya lagi, untuk yang kedua kali. Tanpa sengaja matanya tertuju pada dua orang, dan mereka benar-benar familiar. Qairen dan Steffy sedang bersuap-suapan kue, membuat penilaian Ayesa pada Qairen semakin buruk.


”Dasar berandalan tidak berprinsip, kemarin menggodaku sekarang dengan perempuan lain. Mungkin dia ingin membuatku jatuh cinta, supaya semakin mudah menindas dengan halus. Tidak akan aku biarkan hati luluh, karena tidak mau ucapan Duckin jadi nyata.” Ayesa menghindari apa yang dirasakannya.


"Eh Ayesa, kamu dengar tidak yang kami bicarakan." Adrim menggebrak meja.


"Aku terkejut, kamu ini tidak memikirkan jantung orang lain." Ayesa mengelus dadanya.