
Perang berakhir dengan bom, yang mengenai markas pemberontak. Qairen dibantu Duckin, saat melakukan penyusupan diam-diam. Sementara prajurit Duu Goval hanya memikirkan diri sendiri. Sampai tiba saatnya pulang, salah satu di antara mereka membuka pembicaraan.
"Komandan Qairen, bagaimana pun juga komandan adalah pemimpin para prajurit. Harusnya, yang berada di depan bukan kami." ujar salah satu prajurit setia Duu Goval.
"Nah, untuk itu aku akan berada di depan bersama kalian."
"Tidak, mobil komandan Qairen cukup diisi dengan Duckin saja."
"Sungguh tawaran yang menggiurkan, aku sudah tidak sabar lagi." Qairen tersenyum, namun menyembunyikan rencana.
"Nah, kalau begitu ayo kembali sekarang." Mengajak pergi dengan ramah.
"Baiklah, aku tidak bisa untuk menolaknya." Qairen mengajak Duckin masuk ke dalam, dengan menarik lengannya lembut.
Dalam perjalanan Qairen menyuruh Duckin membawa mobil pelan-pelan. Qairen membisikkan rencana, dan Duckin manggut-manggut. Tidak lama kemudian, Duckin menepikan mobilnya.
"Komandan Qairen, kenapa tidak melanjutkan perjalanan?"
"Ban tiba-tiba kempes, Duckin sedang memeriksanya." jawab Qairen.
"Iya sudah, kami tunggu sampai selesai diperbaiki." ujar salah satu prajurit Duu Goval.
"Terlalu lama jika kalian menunggu, lebih baik jalan duluan saja. Kami akan bersabar, sampai jemputan datang." jelas Qairen.
"Aku tidak pergi sekarang, biar kalian saja yang pergi." Menunjuk teman-temannya, yang berada di barisan belakang.
"Baiklah." jawab mereka, yang tidak mengetahui apa-apa.
Mobil mulai melintas melewati tanah yang ada gorong-gorong di bawahnya. Tanpa terduga mobil meledak di hadapan Qairen dan Duckin. Mobil yang paling tengah dan belakang mundur dengan cepat.
"Sungguh mengerikan, mengapa bisa ada hal seperti ini?" Prajurit setia Duu Goval pura-pura tidak tahu.
"Ini terkesan jebakan yang direncanakan, aku tidak yakin bila kamu tidak tahu. Sebelumnya, siapa yang paling mengotot ingin kami melaluinya." jawab Qairen.
"Tidak bisa juga dituduh, hanya karena menyuruh komandan yang di depan. Aku sudah terbiasa, jika berperang selalu pulang belakangan." Mencari alasan, agar terlihat masuk akal.
"Aku telah menyinggung maksud baikmu. Maaf iya, nyali dalam diriku sedang membara." Qairen menepuk-nepuk pundaknya, menahan geram dalam hati.
Duu Goval sudah gembar-gembor, bahwa Qairen tidak selamat di Medan perang. Sebuah layar komputer telah memperlihatkan, saat mobil melintas di area ledakan.
"Itu sudah terbukti jelas, dia berjalan paling depan. Mobilnya terkena jebakan ledakan, lalu hangus terbakar." jawab Duu Goval.
"Tidak mungkin, aku tidak percaya dia mati." Ayesa masih meyakini Qairen hidup, karena firasat hatinya kuat terkait hal ini.
"Terserah asisten Ay saja, kita lihat nanti." Duu Goval santai, sampai sebuah mobil memasuki kantor militer Chenida.
Duu Goval terkejut bukan kepalang, saat Duckin turun dari mobil bersama Qairen. Duu Goval berjalan mendekat ke arahnya, bersamaan dengan Ayesa yang menyambut dengan senang hati.
"Komandan Qairen, bagaimana mungkin kamu bisa kembali?" tanya Duu Goval.
"Wah, wah, sepertinya ada yang berharap aku mati." Tersenyum menyebalkan, ciri khasnya.
"Jangan dimasukkan ke hati, aku hanya bercanda." ujarnya, menutupi raut wajah terkejutnya.
Qairen tersenyum. "Wakil presiden tenang saja, aku juga sekadar bercanda."
Qairen bergantian menoleh ke arah Ayesa. "Bagaimana asisten Ay, selama ditinggal aku pasti sedih iya."
"Tidak juga tuh, biasa saja." jawab Ayesa. Padahal lega, saat yang ditunggu telah tiba.
Ayesa berjalan ke kanan, Qairen berjalan ke arah kanan juga. Ayesa membenarkan rambutnya yang tergerai ke depan.
"Menyingkir lah dariku." ujar Ayesa.
"Tidak mau." jawab Qairen, senyum menyebalkan.
"Aku sedang bicara serius, jadi jangan bertele-tele lagi."
"Yakin serius? Nanti diseriusin marah lagi." Qairen masih menggodanya.
Ayesa berbalik arah, malas berdebat dengannya. Duckin dari tadi hanya senyum, padahal dalam hati menertawakan wajah frustasi Duu Goval.
"Kamu kenapa ajudan Duckin?" tanya Qairen, dengan candaannya.
"Aku senang, melihat reaksi Duu Goval. Apalagi, bila dia sudah turun dari jabatannya." Duckin melihat Duu Goval, yang sudah berada jauh dari mereka.