Military Sweet Love

Military Sweet Love
Membuat Kerusuhan


Sudah sampai ke rumah, Ayesa melepas sepatunya. Dia mengganti dengan sandal biasa, yang nyaman dipakai dalam rumah. Childith dan Monic berdiri sambil berjoget-joget, mengikuti suara music yang diputar pada VCD. Ayesa melewati ruang keluarga, tanpa menoleh ke arah mereka. Tujuannya adalah fokus ke dapur, untuk mengambil air minum.


"Woy Ayesa, kamu tidak menganggap kami ada iya." teriak Monic.


Ayesa memilih mengabaikannya. "Tidak peduli ocehanmu." Menuang air putih, saat sudah sampai di dapur.


Childith hendak menampar Ayesa, lalu ditangkis tangannya. Childith mendorong Ayesa, tapi tidak terjatuh. Ayesa menendang kaki Childith yang ingin menyerangnya duluan.


"Dasar perempuan murahan, sudah merebut jenderal muda." teriak Childith.


Ayesa sengaja memanasi sepupu dengkinya itu. "Kasian, dunia percintaan kamu suram. Jenderal muda tidak pantas, dengan perempuan ular sepertimu."


"Atas dasar apa, kamu berani bilang aku tidak pantas?" Childith tegak pinggang.


"Sangat terlihat jelas kekuranganmu." Ayesa tersenyum mengejek.


Childith mendekat lalu mencengkeram dagu Ayesa, dan tangan Ayesa meraih rambut Childith lalu menjambak nya. Ayesa menyenggol gelas di atas nakas, hingga terjatuh ke lantai.


Pyaar!


"Eh nona, kalian ngapain bertengkar sampai parah?" Bibi Aynun muncul mendadak, bingung melihat mereka saling serang.


"Dia yang mulai, tidak menghargai Mama Monic." Childith menunjuk Ayesa.


"Kamu yang berusaha menindas ku duluan." Ayesa tidak mau mengalah.


"Sudah, sudah, nanti tuan besar tahu. Kasian, kondisinya sudah mulai membaik. Jangan mengganggu kesehatannya, dengan pertengkaran hebat kalian." Bibi Aynun memperingati mereka.


"Diam!" Ayesa dan Childith bicara bersamaan.


Bibi Aynun ngeri melihat wajah cantik mereka menjadi mengeras rahangnya. "Ampun, jangan serang aku juga." Raut wajahnya sangat lucu.


Pasukan komandan Qairen diam-diam memasuki rumah, tempat pasukan prajurit negara Belangan menginap. Duckin sengaja membakar plastik di dalam ruangan, hingga mengenai kain gorden jendela. Kerusuhan tersebut bertujuan memancing perhatian mereka, supaya memecah kendali konsentrasi dalam kekompakan.


"Ayo cepat lari, nanti kita ambil uang palsu itu." titah Duckin, dengan tegas.


Saat para pasukan prajurit Belangan pergi memeriksa sumber api, Duckin pergi ke kamar untuk mengambil koper besar yang ditumpuk. Aksi tembak menembak terjadi berlangsung lama, sejak pasukan prajurit komandan Qairen dipergoki. Mereka tidak terima, penginapannya sengaja dibakar.


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


Ada yang sembunyi di balik tiang teras, ada yang sembunyi di balik tumbuhan. Duckin ingin menyuruh pasukannya bergerak bubar, namun masih diserang tanpa ampun. Duckin memberikan instruksi pada pasukannya agar melarikan diri, saat keadaan sudah terkendali. Duckin ingin mengamankan koper yang sudah dibawa di tangannya. Beberapa pasukan mengikutinya, sampai masuk ke dalam mobil.


Mereka pergi menuju sebuah gudang pelabuhan kapal, lalu menyembunyikan uang palsu sementara waktu. Setelah aksi mereka aman, baru pintu ditutup dan dikunci. Duckin mengamati baik-baik sekitarnya, takut ada mata-mata Duu Goval. Sepertinya aman, tidak ada siapa pun.


"Ayo kembali ke asrama militer, sepertinya kita sudah aman." ajak Duckin.


"Siap patuhi ketua." jawab mereka serentak.


Aziz menghampiri Adrim yang sedang membersihkan sepatu. Hari itu mereka sangat lelah, disuruh mengisi air pada drum besar. Tidak hanya itu, mereka disuruh berlari membawa balok. Kaki juga disuruh berjalan menginjak tambang, sambil berpegangan tali di atas kepala masing-masing.


"Badanku pegal semua." Aziz memegangi pundaknya, mengurut tangan tanpa minyak.


"Ini demi melatih kekuatan fisik ." jawab Adrim.


"Duu Arven pintar sekali, dia sudah lebih dulu wisuda. Sekarang, setelah kerja di kantor militer, dia diangkat menjadi jenderal muda." ujar Aziz.


"Tidak bisa dibandingkan dengannya, tekad yang membuat siapa pun bisa menjadi. Kita berdua ini kurang niat, dari SMA sekolah bolos terus." jawab Adrim.


"Lagipula, jenderal muda Duu Arven dan anak presiden Zicko memang dekat, tidak heran akan hal ini." Aziz teringat Ayesa.


"Dia diangkat menjadi jenderal, tidak ada kaitannya dengan orang dalam. Kamu bicara hati-hati, pelankan suara agar tidak didengar orang." Adrim mengalihkan pandangan, ke arah jendela.