
Nhanas memberikan laporan pada Duu Arven, di ruangan kerjanya. Duu Arven mengalihkan pandangan ke arah kaki manusia, yang jalan dengan terburu-buru tersebut.
"Orang barat keluar masuk dengan bebas di kantor Republik. Ajudan Dipang mencurigai mereka dapat izin dari komandan Qairen. Setahuku, di sana sangat dijaga ketat. Hanya orang dalam negeri saja yang boleh masuk." Nhanas memberitahu, sekalian mengarahkan curiga pada Qairen.
"Cari tahu, apa saja yang dilakukan orang-orang barat." Duu Arven memberi titah.
"Hanya sebuah koper besar, namun tidak boleh diperiksa. Anehnya dia mendapatkan izin pekerja, untuk menyembunyikan privasi." Nhanas juga tidak tahu isi koper.
"Ada yang tidak beres, terus awasi pergerakan kantor Republik." titah Duu Arven.
Duckin akhirnya menemukan Qairen, padahal dari tadi dicari tidak diketahui keberadaannya. Ternyata, Qairen menyendiri di ruang pelatihan senjata.
Duckin memberikan laporan pada Qairen, sambil berbisik lirih. "Orang yang membakar lahan militer, akan segera ditangkap. Tidak sengaja aku menemukan anting-anting, yang mungkin digunakan pelaku."
"Laki-laki menggunakan aksesoris telinga, terdengar sangat lucu." Qairen tersenyum, lalu menembak yang menjadi sasarannya.
Dor!
Dor!
"Keahlian komandan Qairen dalam menembak, sudah tidak diragukan lagi." Duckin mengacungkan dua jempolnya.
"Duckin, sehebat-hebatnya orang ada masanya kalah. Namun kalah dengan tidak sia-sia, adalah sebuah keberuntungan. Aku ingin negara dipimpin oleh orang yang tepat, baru aku bisa merasa tenang." jawab Qairen.
Qairen melangkahkan kakinya, tahu kemana harus menuju. Dia mengetuk pintu ruangan Duu Arven, lalu dipersilakan masuk.
"Jenderal muda, ada hal penting yang ingin aku bicarakan." ujar Qairen.
"Silakan duduk." jawab Duu Arven ramah.
Qairen menarik kursi, lalu mendudukinya. "Jenderal muda, aku ingin meminta izin memeriksa pasukan kediaman keluarga Duu. Ajudan Duckin menemukan suatu barang, yang bisa menjadi bukti. Aku curiga, bahwa pasukan wakil presiden menyimpan dendam. Dari awal, mereka memeriksaku dengan penuh kecurigaan."
"Keputusan yang bijak, senang berteman dengan jenderal muda." Senyum semanis kurma, beri tanda hormat dengan tangan mengatup.
Duu Arven tersenyum. "Komandan Qairen berlebihan, sekarang kita rekan kerja. Jangan sungkan seperti ini, santai saja denganku."
Saat Qairen pergi bersama Duckin, dia melihat anak SMP yang bajunya kotor. Qairen menyuruh Duckin berhenti sejenak, lalu menghampiri remaja yang duduk meringkuk. Qairen melihat siswi SMP itu, yang sedang menangis tersedu-sedu.
"Kamu kenapa Dik?"
"Aku baru saja di-bully teman-teman sekelas ku. Mereka bilang aku berbeda, aku sedih disudutkan. Aku ingin rasanya berhenti, tidak sanggup dipermalukan depan umum." Mengusap air matanya.
"Jangan berhenti, biar Kakak awasi. Sekolahlah dengan baik, harus sampai lulus. Banyak orang di luar sana tidak peduli menahan air mata, dia tetap melanjutkan pendidikan." ujar Qairen.
"Baiklah, terima kasih sudah melindungi aku." Sedikit merasa lega, mulai semangat.
Pasukan komandan Qairen sudah mengepung, tempat kediaman wakil presiden Duu Goval. Qairen mengetuk pintu dengan sopan tanpa menyerang langsung, orang yang memusuhinya secara halus.
"Wakil presiden Duu Goval, aku diizinkan jenderal muda untuk memeriksa pasukan kediaman anda." Qairen tersenyum, melihat pasukan prajurit Duu Goval sudah menyodorkan senjata.
Duu Goval tersenyum sambil menepuk pundak Qairen, dengan cengkeraman kasar pada baju. "Silakan komandan Qairen, aku malah senang diperiksa. Mencurigai orang lain tanpa bukti, terkadang bisa mempermalukan diri sendiri."
Qairen mengangkat tangan Duu Goval, lalu menghempaskannya dengan kasar. "Tidak apa-apa, daripada menyesal seumur hidup. Aku tidak tahan, membayangkannya saja membuatku sedih." Tersenyum, dengan lirikan tajam.
"Ternyata, orang seperti komandan Qairen bisa sedih." Tersenyum mengejek.
"Ini manusiawi sekali wakil presiden, hal wajar jika terjadi." Melihatnya dengan santai.
Duu Goval melihat pasukannya, lalu memberi titah. "Kalian cukup berdiam diri saja, dia ingin memeriksa pasukan kita."
Qairen menyuruh pasukannya bergerak memeriksa, siapa di antara prajurit yang memiliki lubang daun telinga. Pasukan kediaman Duu menuruti perintah tuannya, tanpa ada perlawanan sedikit pun.