
Malik yang sudah sampai di kantor tempat dirinya sekarang mengurus perusahaan yang bergerak dalam bidang properti, yang dilimpahkan oleh kakeknya untuk keluarganya langsung memarkirkan motornya di tempat parkir khusus presdir dan langsung membanting helm yang dirinya kenakan, tanpa peduli banyaknya pasang mata yang melihat kemarahannya tersebut.
"Apa yang kamu katakan tadi, pintar sekali kamu merayuku, hingga aku tersentuh dengan kata-kata yang keluar dari mulutmu," ujar Malik dengan kesal saat mengingat kata-kata yang terucap dari mulut Sabila. "Cih…… persetan dengan ucapanmu jika kamu masih menemui kekasihmu, dan itu di depanku, dasar wanita kurang ajar, berani-beraninya kamu mencampur aduk perasaanku seperti ini" ujar Malik sambil memukul meja kerjanya saat dirinya sudah berada di ruangannya.
"Pak Malik, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda" ujar Hijo asisten dan juga sekretaris Malik yang tiba-tiba masuk kedalam ruang kerja Malik.
"Siapa?, bukannya kita menemui klien nanti siang?"
"Ini bukan rekan kerja kita pak, tapi laki-laki yang memaksa untuk bertemu dengan bapak"
"Laki-laki?"
"Iya pak"
"Suruh dia masuk, aku penasaran siapa dia" ujar Malik membuat Hijo langsung keluar dari ruang kerja Malik.
Malik langsung menatap pintu ruang kerjanya yang dibuka oleh Hijo asistennya, Malik langsung tersenyum sinis mendapati siapa yang ingin bertemu dengan dirinya.
"Selamat pagi Malik Adi Barata, laki-laki yang tidak pernah mencintai istrinya sendiri, melainkan mencintai sahabat dari istrinya dan juga istri dari sepupunya sendiri" ucap Hari sambil tersenyum sinis membuat Malik langsung mengangkat kedua alisnya terkejut.
"Jangan terkejut aku tahu semua tentangmu tanpa terkecuali" ujar Hari lagi sambil duduk dikursi tepat dihadapan Malik.
"Jangan banyak bicara, apa yang kamu inginkan hingga kamu mendatangiku?"
"Pasti kamu tahu apa yang aku inginkan" ucap Hari sambil tersenyum sinis ke arah malik yang sedang menatapnya tajam.
"Sabila, lepaskan Sabila bila kamu tidak mencintainya, Sabila tidak pantas mendapatkan dirimu yang tidak sama sekali mencintainya, jangan pernah menyakiti Sabila dengan kamu masih mengikatnya dengan tali pernikahan, omong kosong seperti ini" ujar Hari sambil beranjak dari tempat duduknya. "Kamu harus mengembalikan sesuatu yang sudah kamu ambil dari seseorang, termasuk Sabila yang kamu ambil dariku Malik Adi Barata, dan aku pastikan aku akan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku" ujar Hari dan dirinya langsung meninggalkan ruangan Malik.
"Milikmu cih………." ujar Malik kesal setelah kepergian Hari dari ruang kerjanya.
Sabila menatap ponsel yang berada di tangannya sambil menghembuskan nafasnya kasar, ketika dirinya menghubungi Malik tapi tidak mendapat jawaban dari Malik untuk yang kelima kalinya.
[Assalamualaikum mas, selamat siang]
[Jangan lupa makan siang]
[Maaf hari ini aku tidak menyiapkan bekal makan siang untuk mas Malik seperti biasanya]
[Pulang mengajar aku ingin berkunjung kerumah ibu]
[Apa mas Malik mengijinkanku]
[Karena hanya mas Malik yang boleh mengijinkan aku atau tidak, karena mas Malik sekarang adalah Imamku yang harus aku patuhi perintahnya]
[Waalaikumussalam mas]
Pesan yang dikirim oleh Sabila untuk Malik, karena Malik tidak menjawab semua panggilan telepon dari Sabila, kemudian Sabila langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.
"Makanlah kamu belum makan siang bukan" ujar Hari sambil menaruh makanan di meja Sabila ketika dirinya datang mengunjungi Sabila seperti dahulu saat keduanya masih menjadi sepasang kekasih.
"Terima kasih, dan maaf aku sudah pesan makanan di kantin" ujar Sabila yang langsung beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Hari yang hanya diam terpaku menatap kepergian Sabila.
"Sabila kamu tidak bisa menghindar dariku, kamu tidak tahu betapa hancur hatiku melihat kamu menikah dengan orang lain, dan aku akan mendapatkanmu kembali, dengan cara apapun" ucap Hari membuat Sabila langsung menghentikan langkahnya dan berbalik badan menuju Hari yang sedang tersenyum kepada Sabila.
"Kamu sekarang bisa mengatakan itu kepadaku, bagaimana dulu saat ibuku menyuruh kamu untuk menikahiku tapi kamu tidak mau, dan kamu malah pergi dengan wanita lain, bagaimana perasaanku saat itu, kamu tidak tahu bukan, dan sekarang kamu bilang hatimu hancur melihat aku menikah dengan orang lain"
"Maafkan aku Sabila, aku khilaf waktu itu" ucap Hari mencoba ingin meraih tangan Sabila, dengan segera Sabila langsung menampik tangan Hari.
"Mulai sekarang jangan pernah mengingat masa lalu diantara kita, lupakan kalau kita pernah bersama, kita jalani hidup kita masing-masing Hari, aku sekarang sudah mempunyai suami, dan aku harap kamu juga akan segera memiliki istri" ucap Sabila dengan santun.
"Suami yang tidak pernah mencintaimu?"
"Cinta akan tumbuh dengan sendirinya dengan berjalannya waktu Hari"
"Apa tidak ada kesempatan lagi untuk aku dekat denganmu Sabila"
"Tidak" ucap Sabila singkat.
"Walaupun hanya sebagai teman?"
"Tidak! walaupun hanya sebagai teman, kerana wanita yang sudah menikah hanya memiliki satu teman laki-laki dalam hidupnya yaitu suami yang menjadi imam untuk istrinya dan juga keluarganya, maaf aku harap kamu tidak akan menemuiku kembali seperti ini, aku tidak ingin ada fitnah di antara aku dan juga kamu, karena kita bukan mahram, terima kasih kamu sudah pernah hadir di dalam kehidupanku" ujar Sabila yang langsung pergi meninggalkan Hari yang hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Maafkan aku Sabila atas apa yang pernah aku lakukan kepadamu, dan aku menyesali apa yang dulu pernah aku lakukan, mungkin ini balasan dari Allah untukku karena telah menyakiti dirimu, sekali lagi maafkan aku, dan mulai sekarang aku akan mendoakan untuk kebahagiaanmu" ucap Hari setelah Sabila pergi meninggalkanya.
*
*
*
Bersambung..............