
Berlian dan juga Varo seperti seseorang yang sedang di introgasi, keduanya hanya menunduk tidak berani menatap bibi Ami yang sedang menatap keduanya dengan tatapan tajam dengan kedua tangan bibi Ami di taruh di kedua pinggang nya.
Bibi Ami hanya menggeleng gelengkan kepalanya mengetahui kelakuan Berlian dan juga Varo, setelah Berlian menceritakan semuanya kepada bibi Ami.
"Lian kamu tahu itu perbuatan tercela, kamu tahu persis bukan, sebaik baiknya manusia itu yang berguna untuk manusia yang lainnya, dan memberi lebih baik daripada menerima kamu masih ingat itu bukan?" ucap bibi Ami dengan nada tinggi dihadapan Berlian. "Tapi apa yang kamu lakukan, kamu mengelabui orang hanya untuk keuntungan kami sendiri" ucap bibi Ami lagi sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Tapi bi………"
"Tidak ada tapi-tapian, perbuatan kalian itu salah, kalian harus minta maaf kepada ibu-ibu komplek ini, bibi tidak mau tahu" ucap bibi Ami sambil melipat kedua tangannya di dada. "Dan iya, kalau kalian ingin bisa makan enak kalian harus bekerja, paham itu" ucap bibi Ami tegas kemudian bibi Ami meninggalkan keduanya yang langsung menghembuskan nafasnya dengan lega.
"Ini semua gara-gara ide gila kamu" ucap Berlian sambil menatap Varo.
"Bukannya kamu duluan yang menyetujui, kalau kamu tidak menyetujui tentu ini tidak akan terjadi" bela Varo pada diri sendiri.
Plentang……….bibi Ami melempar tutup panci ketika sedang berada di dapur. "kalau kalian ingin berdebat di kamar saja jangan disini, kedengeran sama tetangga tidak enak" teriak bibi Ami dari dapur setelah melempar tutup panci, membuat Varo langsung menarik tangan Berlian menuju ke kamar.
Varo hanya mondar-mandir setelah berada di kamar, begitupun juga Berlian yang duduk di atas tempat tidur sambil menumpu tangannya ketika jarinya mengetuk-ketuk keningnya, untuk berfikir bagaimana cara untuk meminta maaf kepada ibu-ibu kompleks yang sudah mereka kelabuhi.
"Aku punya ide" ujar Berlian membuat Varo langsung menghampiri Berlian dan duduk disampingnya.
"Apa?" tanya Varo membuat Berlian langsung membisikan sesuatu kepada Varo, dan Varo langsung mengangkat kedua alisnya sambil menatap tajam kearah Berlian yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Tidak bisa," ucap Varo sambil menggeleng gelengkan kepalanya dengan ide Berlian.
"Kalau kamu tidak mau awas saja nanti malam tidak ada pertempuran" ancam Berlian sambil cemberut dan melipat kedua tangannya didepan dada.
"Ah tidak lucu kalau mengancam, baiklah aku akan melakukan apa yang kamu suruh Berlian mataku," ujar Varo sambil mencubit gemas pipi Berlian diakhiri dengan mencium bibir Berlian dengan tangan yang sudah turun menuju gunung kembar yang sekarang ukurannya bertambah lebih besar.
"Aku akan membuat ukurannya lebih besar lagi, ujar Varo setelah melepas tautan bibirnya dan beralih ingin mel*mat chocochips yang berada di gunung kembar Berlian.
"Berlian, Varo, keluar jangan mesum ini masih pagi, di depan sudah ada ibu-ibu komplek" ucap bibi Ami sambil menggedor pintu kamar Berlian, sudah tidak asing lagi apa yang sedang dilakukan keponakannya bila sudah berada dikamar dengan suaminya.
"Pagi-pagi sudah dibikin gagal, apes, apes" ujar Varo sambil menepuk jidatnya Dan berjalan mengikuti Berlian di belakangnya untuk keluar kamar dan menemui ibu-ibu komplek yang pasti datang membawa makanan untuk Varo.
"Pagi dek Varo" sapa ibu-ibu bersamaan ketika melihat Varo keluar dari pintu.
"Pagi ibu-ibu cantik silahkan masuk" ucap Varo mempersilahkan ibu-ibu komplek yang berjumlah lebih dari lima orang, membuat ibu-ibu komplek langsung tersenyum senang karena tidak biasanya Varo menyuruhnya masuk.
Setelah ibu-ibu masuk kedalam rumah bibi Ami dan satu persatu menaruh makanan yang mereka bawa di atas meja, dan semuanya duduk dengan tenang saat Varo menyuruhnya untuk duduk.
"Maaf ibu-ibu sebelumnya telah merepotkan ibu-ibu yang sudah rela pagi-pagi membawa makanan untuk saya hampir satu minggu ini dan saya………"
"Biar bibi yang bicara" bibi Ami memotong perkataan Varo.
"Bibi biar Varo……."
"Kamu juga diam!" bentak bibi Ami yang juga memotong perkataan Berlian, kemudian bibi Ami menceritakan semuanya kepada ibu-ibu apa yang sebenarnya terjadi selama seminggu ini, membuat Berlian dan juga Varo langsung menepuk jidatnya masing-masing, dan keduanya yang sedari tadi berdiri berdampingan memundurkan langkahnya pelan-pelan.
Membuat ibu-ibu komplek langsung menatap keduanya yang tiba-tiba sudah jauh memundurkan langkahnya.
"Berlian………."
"Varo…………." teriak ibu-ibu komplek bersamaan.
Bersambung................
Bonus UP hari ini karena otor senang dengan komentar positif kalian yang membuat otor bersemangat untuk nulis.
Selalu tinggalkan like dan komen yang positif di setiap bab ya biar otor tambah cemungut lopeyu untuk kalian semua 😘😘😘😘😘😘.