Kesucian Wanita Malam

Kesucian Wanita Malam
BAB 36 Hamil


"Aku mencintaimu Berlian" ujar Varo yang masih memeluk tubuh Berlian.


Berlian langsung melepas pelukan Varo tanpa berkata apapun dan pergi meninggalkan Varo, tapi sebelum Berlian jauh pergi meninggalkan Varo, tangan Berlian langsung ditarik oleh Varo, dan Varo memeluk tubuh Berlian lagi dari belakang. 


"Mungkin kamu tidak percaya kepadaku untuk saat ini, tapi aku akan membuktikannya kepadamu Berlian" ujar Varo ditelinga Berlian membuat bulu kuduk Berlian meremang, kemudian Berlian melepas pelukan Varo dan berlari menuju kamarnya. 


"Aku akan berusaha mendapatkan cintamu Berlian, cepat atau lambat kamu juga akan mencintaiku" ujar Varo sambil tersenyum ketika Berlian sudah pergi meninggalkannya dan merasakan detak jantung Berlian berdetak tidak beraturan saat dirinya memeluk Berlian. 


"Ada apa denganku kenapa jantungku berdetak tidak beraturan seperti ini" ujar Berlian sambil memegangi dadanya ketika dirinya sudah masuk kedalam kamarnya. 


"Ya Allah, rasa apa yang aku rasakan tadi saat Varo memelukku, aku tidak pernah merasakan rasa itu selama ini" ujar Berlian lagi sambil tersenyum dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, saat mengingat Varo memeluknya dan Berlian menerima pelukan Varo yang begitu nyaman untuknya walaupun hanya sebentar. 


"Ya Allah seandainya benar Varo mencintaiku bukalah hatiku untuknya, bila dia berdusta tutuplah hatiku untuk Varo, hanya engkau yang tahu isi hati manusia ya Allah" doa Berlian di siang hari membuat hati Berlian tenang karena semua kehidupan di dunia ini sudah ditentukan oleh yang maha kuasa. 


Varo memegangi keningnya merasa pusing dengan banyaknya tumpukan buku di hadapannya, tidak tahu harus mulai darimana, setelah dirinya berinisiatif untuk mempelajari bagaimana harus menjadi imam yang baik untuk istrinya, dan dirinya langsung memesan buku yang Varo maksud. 


"Aku harus mulai dari mana" ujar Varo sambil memegang buku tentang menjadi imam yang baik untuk istrinya. 


"Aku tidak mengerti sama sekali dengan ini semua" ujar Varo ketika sudah membaca buku yang dipegangnya dan menghembuskan nafasnya kasar karena tidak mengerti sama sekali. 


"Oh ya kenapa aku tidak bertanya langsung kepada paman Sofyan, dan kenapa aku tidak berfikir ke arah situ" ujar Varo sambil menepuk jidatnya, kemudian dirinya membereskan tumpukan buku yang berada di hadapannya dan beranjak dari meja kerjanya yang berada di dalam kamar Varo. 


"Berlian aku ingin berkunjung kerumah paman Sofyan, apa kamu ingin ikut?" tanya Varo sambil mengetuk pintu kamar Berlian, tapi tidak ada sahutan dari dalam kamar. 


"Baiklah mungkin Berlian sedang beristirahat, ya sudahlah aku pergi sendiri saja" ujar Varo dan langsung pergi menuju pintu keluar apartemen. 


"Aku ingin ikut" ucap Berlian tepat di belakang Varo sebelum Varo membuka pintu apartemen, karena Berlian juga ingin berkunjung ke rumah bibi Ami, membuat Varo langsung membalik badannya dan tersenyum ke arah Berlian.


"Baik silahkan" ujar Varo sambil membuka pintu apartemen mempersilahkan Berlian untuk keluar terlebih dahulu. 


"Varo, sebaiknya kita berhenti dulu di toko buah" ujar Berlian memecah keheningan di dalam mobil, membuat Varo langsung menatap kearah Berlian sambil mengangkat kedua alisnya. 


"Apa secepat ini kamu hamil Berlian, kita baru melakukannya semalam, tokcer juga juniorku" gumam Varo dalam hati sambil tersenyum. 


"Varo kenapa diam saja?" tanya Berlian membuat Varo langsung fokus kembali ke arah Berlian. 


"Baiklah kita akan berhenti di toko buah, buah apa yang ingin kamu makan sekarang?" tanya Varo antusias. "mangga muda, kedondong atau buah yang asam lainnya, atau ingin makan rujak?" tanya Varo lagi, menyebut buah-buahan yang biasanya digemari wanita yang sedang hamil, membuat Berlian menatap heran ke arah Varo yang sedang fokus menyetir sambil tersenyum. 


"Ada apa denganmu Varo, kita ingin pergi kerumah pak Sofyan bukan?, apa bu Sofyan sedang hamil?, kenapa kamu menyebutkan buah-buahan yang sering dikonsumsi ibu hamil?" tanya Berlian balik tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Varo.


"Maksud kamu?" tanya Varo juga tidak mengerti. 


"Maksud aku, kita membeli parcel buah untuk buah tangan bila kita berkunjung kerumah saudara" jelas Berlian membuat Varo langsung menghentikan mobilnya dan menatap kearah Berlian sambil tersenyum. 


"Aku kira kamu yang ingin makan buah, kamu disini saja biar aku yang turun dan membelinya" ujar Varo dan langsung turun dari mobilnya yang tepat berhenti di depan toko buah-buahan. 


"Ada apa dengannya, aneh sekali" gumam Berlian dalam hati sambil menatap Varo yang berjalan menuju toko buah. 


"Sudah dapat" ujar Varo sambil meletakkan dua buah parcel di jok belakang dan dua buah parcel lagi yang dibantu oleh pelayan toko. 


"Banyak sekali, kita tidak akan pergi ke acara lamaran Varo, cukup satu saja belinya" ujar Berlian sambil menggeleng gelengkan kepalanya tidak percaya Varo membeli parcel buah sebanyak ini. 


"Tidak masalah, kita berikan dua ke paman Sofyan, dan dua lagi untuk bibi Ami, adil bukan" ujar Varo sambil tersenyum bangga dan langsung melajukan mobilnya. 


"Terserah kepadamu" ujar Berlian singkat. 


Bersambung...............