
Bibi Ami hanya bisa diam tanpa mengatakan sepatah katapun lagi saat Berlian menghampiri bibi Ami dengan tatapan tajam membuat bibi Ami hanya menundukkan kepalanya.
"Hahahaha," Berlian tertawa kencang setelah dirinya menghampiri bibi Ami. "Apa aku tidak salah dengar kalau bibi Ami mau menikah lagi? menikah dengan siapa bi? bibi tidak pernah dekat dengan siapapun," ujar Berlian lagi bertanya kepada bibi Ami.
"Deng……."
"Apa bibi Ami sedang membohongiku?" tanya Berlian memotong perkataan bibi Ami.
"Tidak! bibi serius Berlian,"
"Tapi dengan siapa bi?" tanya Varo, yang juga ikut menghampiri bibi Ami kemudian Varo langsung memegang kedua bahu istrinya untuk kembali ketempat tidur lalu mendudukkan Berlian, Varo tidak ingin Berlian berdiri lama-lama.
"Dengan pak Cul."
"Apa?" tanya Varo dan juga Berlian terkejut sambil menatap bibi Ami.
"Bibi mohon jangan larang bibi untuk menikah lagi Berlian," ucap bibi Ami sambil menghampiri Berlian.
"Bibi kemarilah, duduk disampingku," ujar Berlian sambil menepuk matras disampingnya mengisyaratkan bibi Ami untuk duduk di sebelahnya, membuat bibi Ami langsung mengikuti perintah Berlian.
"Aku tidak akan melarang bibi Ami untuk menikah lagi, tapi apa bibi Ami serius ingin menikah dengan pak Cul?"
"Bibi sangat serius," jawab bibi Ami singkat.
"Tapi kenapa baru sekarang bibi Ami ingin menikah?"
"Karena jiwa jomblo bibi tidak mampu membendung hasrat gara-gara kalian!" ujar bibi Ami sambil beranjak dari duduknya.
"Kok karena kami apa salah kami bi?" tanya Berlian bingung.
"Apa kalian tidak sadar, setiap hari bibi harus mendengar rintihan dari kamar kalian, yang membuat hasrat bibi yang sudah terpendam menjadi muncul kembali, bibi juga menginginkan seperti apa yang kalian lakukan setiap hari," ujar bibi Ami membuat Varo dan juga Berlian saling menatap saat mendengar jawaban dari bibi Ami."Sudahlah, tidak usah dibahas lagi, karena sebentar lagi bibi bisa membuat rintihan sendiri," ujar bibi Ami lagi dan bibi Ami langsung keluar dari kamar Berlian, membuat Berlian hanya bisa menatap kepergian bibi Ami sambil melongo, tidak percaya pada apa yang dikatakan bibi Ami.
"Mommy apa aku tidak salah dengar pada apa yang dikatakan oleh bibi Ami?" tanya Varo pada Berlian membuat Berlian langsung mengangkat kedua bahunya.
"Bahaya juga ya kalau kita bermesra-mesraan di tempat umum seperti biasa, jadi mengundang syahwat, dan bahaya lagi kalau orang itu tidak memiliki pasangan,"
"Kamu baru tahu?"
"Iya, kamu saja tidak pernah memberitahuku mommy,"
"Bagaimana aku mau memberitahu mu, kamu saja langsung nyosor tanpa permisi kepadaku,"
"Tapi kenapa kamu tidak menolaknya mommy?"
"Kamu tahu kalau menolak suami itu berdosa?"
"Tahu, bilang saja kamu juga menginginkanya kan?" tanya Varo sambil meledak Berlian.
"Jelas saja aku menginginkannya, wong suamiku tampan seperti ini, jelas saja aku tidak akan menolak," ujar Berlian membuat Varo langsung memeluk tubuh Berlian.
"Terima kasih, karena selama ini aku baru mendengar dari mulutmu ini, kalau aku tampan," ujar Varo saat sudah melepas pelukannya beralih mengusap bibir Berlian.
Hari yang ditunggu-tunggu semua orang tiba, yang tepatnya hari yang ditunggu bibi Ami dan juga pak Cul khususnya karena hari ini adalah hari pernikahan keduanya walaupun ijab kabul diadakan sederhana dan hanya dihadiri warga sekitar komplek, tapi bibi Ami begitu bahagia meskipun ini bukanlah pernikahan yang pertama di umur yang sudah tidak muda lagi.
Berlian juga ikut bahagia dan terharu melihat senyum yang mengembang di kedua sudut bibir bibi Ami, saat bibi Ami bersalaman dengan warga komplek yang memberi ucapan selamat kepada bibi Ami dan juga pak Cul saat pak Cul telah selesai mengucap ijab kabul.
"Kenapa kamu hanya tersenyum menatap bibi Ami mommy?" tanya Varo sambil memegang kedua bahu Berlian dari belakang.
"Kamu tahu? aku baru sekarang melihat bibi Ami tersenyum bahagia seperti itu setelah suami bibi Ami meninggal,"
"Bagus bukan? tandanya bibi Ami sudah bisa melupakan mantan suaminya, kita doakan saja yang terbaik untuk bibi Ami dan juga pak Cul," ucap Varo sambil menyandarkan kepala Berlian di dada bidangnya yang sudah tidak terbentuk sempurna karena kehamilan simpatik yang dialaminya, membuat dirinya malas untuk berolahraga.
"Varo?"
"heh,"
"Kenapa dada kamu sudah tidak berbentuk lagi?"
"Masa sih?" ucap Varo sambil memegangi dadanya sendiri.
"Maaf mommy, kamu tahu sendiri selama empat bulan ini aku tidak pernah berolahraga lagi untuk membentuk otot-ototku ini, ujar Varo sambil tersenyum kerah Berlian."Oh ya aku lupa berarti baby kita didalam sini sudah berumur empat bulan dan tandanya?"
"Jangan mesum,"
"Kamu tahu sendiri aku sudah menahannya begitu lama mommy, apa kamu tidak kasihan denganku mommy?"
"Tidak!"
"Mommy?"
"Varo! disini masih banyak orang. "Ah Varo apa yang kamu lakukan?" tanya Berlian saat Varo mengangkat tubuh Berlian.
"Varo..............."
*
*
*
Bersambung....................
Like, komen, di butuhkan 😂😂😂😂😂😂😂😂
Yuk ingin lebih dekat dengan otor follow akun instragram otor
Harumini_12
Biar kita bisa saling dekat walaupun hanya di dunia maya😂😂😂😂😂😂