Kesucian Wanita Malam

Kesucian Wanita Malam
BAB 101 Menikah


Sudah satu minggu Berlian berada dirumah sakit, sudah satu minggu juga Varo setia menemani Berlian, tanpa mempedulikan pekerjaan yang menantinya di kantor, sudah satu minggu juga Berlian tidak boleh menginjakkan kakinya di atas lantai oleh Varo, walaupun dokter Fitri sudah memperbolehkan Berlian untuk berjalan. 


Varo tidak ingin terjadi sesuatu kepada Berlian lagi, mengingat seminggu lalu dirinya seperti berhenti bernafas saat mengetahui Berlian dirawat dirumah sakit.


 "Varo biarkan suster……."


"Tidak bisa!" Aku yang akan melakukanya,"


" Apa kamu tidak lelah melakukanya, setiap hari seperti ini?" tanya Berlian karena setiap hari selama dirumah sakit hanya Varo yang boleh memegang tubuh Berlian ketika suster akan membersihkan tubuh Berlian. 


" Tidak! aku tidak akan pernah lelah melayani ratuku ini," ujar Varo sambil tersenyum ke arah Berlian, dan Varo langsung mengambil alih peralatan yang dibawa suster untuk membersihkan tubuh Berlian, kemudian Varo langsung menyuruh suster untuk keluar dari ruang perawatan Berlian, tidak ingin siapapun melihat tubuh mulus istrinya yang membuat candu bagi dirinya. 


Varo begitu lihai membersihkan setiap jengkal tubuh Berlian yang sudah satu minggu ini dirinya kerjakan, dan tidak ada yang terlewat sedikitpun olah Varo hingga tanganya berhenti di pangkal paha Berlian, membuat Berlian tertawa geli. 


"Aku hanya membersihkan mommy, aku tidak ingin melakukan apapun, jadi tenanglah,"


"Tapi kenapa lama sekali berada disitu?" 


"Aku hanya ingin melihat, masih sama atau tidak," 


"Varo jangan mesum," ujar Berlian sambil menarik telinga Varo untuk berdiri saat Varo sedang berjongkok membersihkan pangkal paha Berlian saat Berlian duduk di pinggir ranjang. 


"Ach mommy sakit," ujar Varo saat Berlian menarik telinganya. "Iya maaf mommy aku hanya bercanda," ujar Varo lagi sambil mencium singkat bibir Berlian. 


"Aku boleh pulang hari ini kan?" 


"Iya mommy kita tunggu dokter Fitri terlebih dahulu," ujar Varo sambil memakaikan pakaian di tubuh Berlian.


"Selamat pagi pasangan uwu satu ini? Apa yang kalian lakukan?" tanya dokter Fitri saat Varo sedang mengaitkan pengait bra di tubuh Berlian. "Ibu Berlian baru sembuh jangan……….."


"Dok jangan berfikir mesum pagi-pagi, aku hanya membantu istriku mengenakan pakaiannya," 


"Iya maaf, memang kadang-kadang otak saya ini menjurus kearah mesum gara-gara belum menemukan terong impor, dan hanya bisa membayangkannya,"


"Dok," ujar asisten pribadi dokter Fitri sambil memegang pundak dokter Fitri, mengisyaratkan dokter Fitri untuk menjaga ucapanya. 


"Iya saya tahu! kamu diam saja, tidak usah ikut campur, pasangan ini berbeda dari pasangan lainnya," ucap dokter Fitri kepada asisten pribadinya. 


"Apa yang dokter katakan? kami berbeda? jelaskan apa yang berbeda dok?" ucap Varo saat mendengar perkataan dokter Fitri. 


"Tidak! anda hanya salah dengar mungkin telinga anda ketutupan congek," 


"Congek? dari kemarin tidak bibi Ami tidak dokter sama-sama bilang Congek, memang makanan seperti apa Congek itu dok?" tanya Varo membuat dokter Fitri langsung menepuk jidatnya. 


"Ibu Berlian, ini nih suami kalau tidak masuk kelubang selama satu minggu saja sudah oon apalagi kalau menunggu kandungan ibu Berlian menginjak usia empat bulan, bisa jadi suami ibu Berlian salah masuk lubang karena pikun," ujar dokter Fitri membuat Berlian langsung menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. 


" Tidak apa-apa kali bu kita berbagi terong," ujar dokter Fitri membuat Berlian langsung melongo menatap dokter Fitri yang sedang tersenyum kearah Berlian. 


" Amit-amit ogah amat, lihat saja juniorku tidak akan berdiri," sambung Varo saat mendengar apa yang diucapkan dokter Fitri, kemudian Varo langsung mengangkat tubuh Berlian keluar dari ruang perawatan. 


"Hai! mau kemana kalian? saya belum memberi resep untuk ibu Berlian," 


"Kirim saja lewat pesan," teriak Varo balik setelah dirinya keluar dari ruang perawatan Berlian.


"Dok? sampai kapan dokter akan merubah sikap dokter?" tanya asisten pribadi dokter Fitri setelah kepergian Varo dan juga Berlian. 


"Setelah menemukan terong impor," ujar dokter Fitri sambil tertawa dan langsung keluar dari ruangan. 


Berlian dan juga Varo sedang bercanda di dalam kamarnya setelah beberapa jam yang lalu keduanya pulang dari rumah sakit. 


"Mommy?"


"iya,"


"Kira-kira anak kita perempuan atau laki-laki ya? aku jadi penasaran, kenapa dokter Fitri tidak menyuruh kamu untuk USG mommy," ujar Varo sambil mengelus perut Berlian saat Varo, menidurkan kepalanya diatas paha Berlian, saat Berlian sedang duduk diatas tempat tidurnya. 


"Aku juga sudah bilang dengan dokter Fitri untuk USG tapi dokter Fitri melarang, dan dia menganjurkan nanti kalau usia kandunganku sudah memasuki bulan keempat baru dilakukan USG," ujar Berlian sambil membelai wajah Varo. "Dan iya, satu lagi. mau anak kita perempuan atau laki-laki sama saja, yang terpenting anak kita sehat dan sempurna," 


"Kalau dua-duanya?" 


"Aku lebih bersyukur, jadi kita sudah mempunyai anak sepasang, dan kita tidak usah memiliki anak lagi,"


"Apa kamu bilang mommy?" tanya Varo sambil mengangkat kepalanya dan langsung menatap Berlian yang sedang tersenyum manis ke arah Varo. "Tidak bisa aku ingin memiliki sepuluh anak darimu mommy," ucap Varo lagi sambil menangkup wajah Berlian dan langsung mel*mat bibir Berlian saat Berlian akan mengucapkan sesuatu. 


Tok……..tok…...tok ketukan pintu dari luar kamar Berlian menghentikan ciuman panas Berlian dan juga Varo, membuat keduanya langsung melepas tautan bibirnya. 


"Aku saja yang membukanya mommy, kamu diam-diam saja disini," ujar Varo, dan Varo langsung menuju arah pintu untuk membukanya. 


"Bibi ada apa?" tanya Varo saat sudah membuka pintu kamar. 


"Ada yang ingin bibi bicarakan kepada kalian, apa bibi boleh masuk?" 


"Silahkan bi," ujar Varo mempersilahkan bibi Ami untuk masuk kedalam kamarnya. 


Berlian menatap tajam kearah bibi Ami, karena ekspresi wajah bibi Ami tidak seperti biasanya dan nampak ada yang berbeda, saat bibi Ami sudah mendekat kearah Berlian. 


"Apa yang ingin bibi Ami katakan? katakanlah kami akan mendengar," ujar Berlian sambil tersenyum manis kearah bibi Ami yang terlihat grogi. 


"Eh bi, bibi ingin mengatakan kalau bibi akan segera menikah," ucap bibi Ami dengan grogi. 


"Menikah……..!"


"Menikah……..!" ucap Varo dan juga Berlian saling bersahutan. 


*


*


*


Bersambung..............


Untuk menghormati kalian yang menjalankan ibadah puasa otor akan tetap UP tapi dimalam hari, agar disiang hari kalian fokus menjalankan ibadah puasa.


Sebelum bulan Ramadhan datang otor abal-abal ini mau minta maaf kepada kalian semua, bila otor punya salah dan tidak sempat balas dan like komen kalian. **Selamat menjalankan ibadah puasa.


Info penting!


Novel otor ini akan segara tamat mungkin beberapa episode lagi, dan otor akan memberikan hadiah diakhir nanti untuk Rangking umum tertinggi, dari vote ke 1 sampai ke 5, lebih banyak loh dari novel otor yang sudah tamat yang hanya 3 orang 😂😂😂😂😂😂 dan pastinya hadiahnya juga lebih besar dari pada novel otor yang sudah tamat. Dan untuk hadiahnya nanti akan otor kasih tahu.


Sekian info penting yang tidak penting ini 😂😂😂😂😂😂**