
"Mamah. Apa yang mamah lakukan di kamarku dan kenapa mamah memeluk Berlian sambil tidur," ujar Varo saat dirinya masuk kedalam kamarnya setelah selesai berbincang dengan Iskandar. Membuat Veronica dan juga Berlian yang sudah terlelap langsung terbangun.
"Kamu mengagetkan mamah saja. Apa mamah tidak boleh tidur bersama menantu dan juga cucu mamah?"
"Tidak boleh, tidak ada yang boleh menyentuh istriku selain aku, mamah mengerti!" ucap Varo sambil mendekat kearah Berlian yang sudah terduduk.
"Idih posesif sekali. Tapi mamah akan tetap tidur disini," ujar Veronica sambil merebahkan tubuhnya kembali lalu menarik selimut.
"Mamah, tadi papah bilang papah habis minum jamu cap banteng nyeruduk. Mamah tahu artinya apa kan?"
"Jelas saja tahu. Oh ya sayang selamat malam," ujar Veronica sambil mencium pipi Berlian dan juga Varo bergantian setelah beranjak dari tidurnya dan Veronica langsung keluar dari kamar Varo membuat Varo langsung tertawa.
"Varo apa kamu berbohong?"
"Maaf mommy, aku hanya tidak ingin jauh darimu dan juga baby twins kita. Dan satu lagi aku tidak ingin siapapun menyentuh dirimu,"
"Tapi itu mamah Varo,"
"Termasuk mamah juga tidak boleh memegang kamu," ucap Varo membuat Berlian kesal dan dirinya langsung menutup tubuhnya dengan selimut.
"Mommy,"
"Jangan pegang," ucap Berlian kesal saat Varo mendekat sambil memegang tubuhnya.
"Apa kamu marah? Katakan kepadaku mommy?"
"Jelas saja aku marah, aku sudah menganggap mamah sebagai mamah aku sendiri, tapi kamu malah ingin menjauhkan mamah dariku. Aku juga ingin tidur bersama mamah, dipeluk mamah dimanja mamah, harusnya kamu tahu itu Varo, aku ingin merasakan itu dan itu bisa aku rasakan sekarang tapi kamu tega membuat mamah menjauh dariku," ucap Berlian diakhiri dengan tangis membuat Varo bingung dan langsung memeluk tubuh Berlian sambil membuka selimut yang menutupi hingga ujung kepala Berlian.
"Maaf mommy, aku salah. Aku tidak akan melakukannya lagi, aku janji. Jangan bersedih lagi itu tidak baik untuk baby twins kita," ujar Varo sambil menghapus air mata Berlian dan mencium singkat kening Berlian.
"Apa kamu ingin tidur dengan mamah malam ini?" tanya Varo yang langsung mendapat anggukan dari Berlian.
Membuat Varo langsung keluar dari kamarnya menuju kamar Veronica. Yang tadinya Veronica ingin memarahi Varo dirinya urungkan, saat Varo mengatakan Berlian ingin tidur bersama Veronica.
Varo tersenyum bahagia mendapati dua orang perempuan yang sangat berharga bagi dirinya tidur diatas ranjang yang sama saling berpelukan sudah seperti anak dan ibu sungguhan dan Varo langsung menghampiri keduanya dan memberikan ciuman singkat di kening keduanya diakhiri mencium baby twins yang masih berada di dalam perut istrinya, kemudian dirinya langsung melangkahkan kakinya menuju sofabed untuk dirinya tidur yang masih berada di dalam kamarnya.
"Varo, daddy bangun ini sudah pagi," ujar Berlian sambil menepuk-nepuk pipi Varo untuk menbangunkannya saat jam dinding menunjukan pukul setengah lima pagi.
"Mommy?"
"Iya ini aku, ayo bangunlah," ucap Berlian diakhiri dengan ciuman singkat di bibir Varo.
"Terima kasih mommy," ucap Varo yang langsung membuka matanya.
"Aku tunggu di mushola ya daddy," ujar Berlian membuat Varo langsung mengangguk dan langsung menuju ke dalam kamar mandi.
"Amin," ucap semua orang saat Varo selesai melantunkan doa setelah dirinya menjadi imam untuk sholat subuh, yang diikuti oleh seluruh anggota keluarga dan juga seluruh pelayan di rumahnya yang berjumlah sepuluh orang.
Seluruh pelayan yang baru keluar dari mushola yang berada di dalam rumah Varo, langsung membicarakan Varo yang berubah seratus delapan puluh derajat dengan Varo sebelum menikah dulu.
"Alhamdulilah tuan muda sudah berubah," ucap salah satu pelayan. Yang langsung disyukuri oleh semua pelayan yang langsung berpencar untuk melakukan tugasnya masing-masing.
"Aku kira kamu kemana mommy, aku jadi kuatir ternyata kamu sudah berada di kamar,"
"Aku tadi tidak enak untuk berpamitan kepadamu saat kamu masih serius belajar membaca alquran. Aku sudah menyiapkan baju kantormu, mari aku bantu memakaikannya."
"Terima kasih mommy," ucap Varo langsung memakai setelan jas kerjanya dibantu oleh Berlian.
"Terima kasih mommy," ucap Varo setelah Berlian membantu memakaikan setelan jasnya. Membuat Varo langsung mencium bibir Berlian dan diakhiri menciumi perut Berlian.
"Mommy?"
"Iya?"
"Hari ini aku tidak ingin jauh darimu dan juga baby twins,"
"Terus kamu tidak ingin berangkat ke kantor begitu?"
"Bukan begitu mommy, bagaimana kalau mommy ikut ke kantor untuk hari ini, dan nanti pulang dari kantor kita mengunjungi rumah bibi Ami. Bagaimana menurutmu mommy?"
"Baiklah aku ikut denganmu," ucap Berlian dengan begitu antusias.
"Sayang kamu ingin pergi kemana? Kenapa kamu sudah rapi sekali?" tanya Veronica saat Berlian dan juga Varo baru turun dari kamarnya dan langsung menuju meja makan untuk bergabung.
"Hari ini Berlian ingin ikut ke kantor mah,"
"Iya mah, aku ingin ikut Varo ke kantor, dan sekalian kita ingin berkunjung ke rumah bibi Ami," sambung Berlian untuk menjelaskan kepada Veronica yang sudah terlihat kuatir.
"Nanti kamu kelelahan bagaimana?"
"Tidak akan mah, ada aku yang akan selalu menjaganya," ucap Varo sambil memeluk pinggang istrinya.
"Baiklah mamah percaya kepadamu," ucap Veronica dan semua langsung menyantap sarapan yang sudah tersaji di meja makan.
Sepanjang perjalanan menuju ke kantor Varo selalu mengelus-elus perut Berlian dan sesekali menciumi nya saat keduanya duduk di bangku penumpang.
"Mommy nanti baby twins kita beri nama siapa ya?" tanya Varo tapi tidak mendapat jawaban dari Berlian, karena pandangan Berlian fokus pada satu mobil yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berada.
"Pak stop," ucap Berlian menyuruh supir untuk menghentikan mobilnya.
"Ada apa mommy? Apa kamu ingin makan sesuatu,"
"Diam Varo!" ucap Berlian membuat Varo bingung karena berlian mengatakannya dengan panik. "Pak cepat ikuti mobil yang berwarna hitam di depan itu," ucap Berlian pada supir yang membawa mobilnya sambil menunjuk mobil yang sudah melaju di depan mobilnya.
"Mommy ada apa?"
*
*
*
Bersambung.............