Istri Reinkarnasi Presdir Kejam

Istri Reinkarnasi Presdir Kejam
Kau Pasti Datang


"Jordan." Gabriel melihat sang Asisten yang telah datang. Dia melihat kanan kiri takut ada orang yang lewat, lalu menutup pintu ruang kerjanya itu. "Bagaimana? Apa yang dia inginkan?"


Sekalipun dulu mereka berpisah baik-baik, tapi bukan berarti ia harus kembali. Ia tidak memiliki rasa cinta lagi pada Amelia.


"Nona Amelia meminta bantuan pengobatan pada anda Tuan. Katanya neneknya mengalami kenker usus."


Gabriel terkejut, ia kasihan pada Amelia. Ia hanya berniat membantunya saja tidak lebih.


"Baiklah, aku akan membantunya. Besok pagi kau antar aku ke rumah sakit. Pasti dia sudah mengatakannya pada mu." Besok pagi ia harus membantu Amelia dan neneknya. Bagaimanapun juga mereka pernah mengisi kekosongan hatinya.


Jordan berpikir sejenak. "Apa Tuan ingin menghubunginya?" Bukan maksud apa-apa. Mungkin bossnya ingin berbicara dengan Amelia.


Gabriel menggeleng, ia tidak mau membuat luka di rumah tangganya. Ia sudah bahagia dan ingin menjaganya. "Tidak, aku takut Rara salah paham dan aku tidak mau membuat luka pernikahan."


"Apa tidak ada sedikit cinta dari hati Tuan untuk nona Amelia?"


Gabriel mengambil sebuah dokumen di atas meja kerjanya dan memukul kepala Jordan. "Kau bicara apa? apa perlu lidah mu ku potong?" tanya Gabriel emosi.


"Maaf Tuan." Jordan sangat yakin kalau pria di depannya ini sudah bucin pada Rara. "Apa Tuan akan mengatakannya pada Nyonya?"


"Tidak, aku harus menyelesaikannya sendiri. Aku tidak mau Rara salah paham. Aku tulus hanya niat membantu."


Di tempat lain.


Amelia menatap sendu pada neneknya yang terbaring lemah. Air matanya mengalir begitu saja. "Nek, kau tau. Kita akan bertemu dengan Gabriel. Aku yakin Gabriel tidak akan tahan melihat kita kesusahan."


Dada Amelia bergetar, ia tidak sabar bertemu dengan Gabriel. Ia merogoh tas selempangnya, mengambil ponselnya dan mencari nama Gabriel. Ia berharap nomor ponsel Gabriel masih aktif.


Ia menekan tombol hijau, namun ia berakhir dengan kecewa. Gabriel telah mengganti nomor ponselnya. "Aku yakin dia akan datang dan membantu kita Nek."


"Istri? O iya, aku harus mencari istri baru Gabriel."


Amelia mencari berita tentang Gabriel, namun tidak ada banyak berita yang memuat tentang Gabriel, hanya beberapa berita tentang Gabriel sebelumnya, bahkan berita itu telah banyak yang di hapus.


Amelia terduduk lemas di kursi tunggu. Ia sudah menjelaskannya pada Jordan dan berharap esok pagi Gabriel mendatanginya.


Keesokan harinya.


"Sayang, nanti aku pulang malam ya."


"Oh, tidak masalah, yang penting jangan lupa makan siangnya." Rara mengingatkan suaminya tercintanya itu.


"Oke My Honey." Gabriel membuat love menggunakan ke empat jarinya.


"Jangan di tunggu makan malam. Kau dan Lucio harus menjaga kesehatannya."


Begitulah keduanya menghabiskan sarapan bersama di selangi dengan obrolan santai dan gombalan dari Gabriel. Tak terasa waktu terus berputar, Gabriel mempercepat urusan pekerjaannya dan kini dia sedang menuju ke rumah sakit tempat dimana nenek Amelia di rawat.


Dengan cepat Jordan menanyakan ruang perawatan nenek Amelia, lalu mengatakannya pada Gabriel.


"Kita bertemu dengan Dokter dulu," ujar Gabriel. Ia harus tau keadaan nenek Amelia lebih dulu.


"Gabriel."


Gabriel yang hendak pergi langkah kakinya tertahankan oleh suara. Gabriel menoleh dan melihat seorang wanita masa lalunya. Tatapannya tertahankan melihat ke arah wanita itu. Perasaannya sedang bergejolak.


Dalam hitungan menit, entah kapan? Gabriel merasakan seseorang memeluknya.


"Gabriel kau datang."


Gabriel tersadar, ia buru-buru mengurai pelukannya, namun saat Amelia ingin memeluknya lagi, Gabriel menghentikannya.


"Gabriel."


"Disini banyak orang." Gabriel menolak, ia tidak mau ada gosip tak sedap.


"Gabriel kau pasti datang, aku yakin. Ayo Gabriel, nenek sangat ingin bertemu dengan mu."


Tanpa menunggu jawaban Gabriel. Amelia menarik lengan Gabriel. Sedangkan Gabriel ingin menolak, namun merasa tak nyaman. Akhirnya ia pun menurut saja.


Pintu lift pun terbuka, Gabriel merasa risih dengan Amelia yang memegang lengannya dengan erat dan menyeretnya ke ruangan nenek.