
Nafas Elmer seakan langsung berhenti, air matanya kembali mengalir entah berapa banyak air mata itu keluar. Ucapan Gege begitu membelah hatinya bagaikan petir.
Seolah tidak ada kesempatan lagi baginya. Ia hanya bisa diam membatu tanpa mengucapkan lagi.
"Pergilah, lakukan apa pun yang menjadi kebahagian ku dan Krystal."
Gege membuang wajahnya, Tuan Hardiand langsung pergi. Antara kasihan dan marah, perasaannya campur aduk. Ia lebih memilih pergi di keheningan ruangan itu.
"Apakah tidak ada kesempatan lagi untuk ku Ge? Satu saja, sedikit saja," ucap Elmer. Dia memperlihatkan ujung jarinya, ya seujung jarinya saja. Ia sangat berharap dengan adanya kesempatan dari Gege.
Gege membisu, Elmer beranjak berdiri.
Dengan tatapan yang penuh kesedihan, kedua tangan yang terkepal kuat, seolah tangan itu menguatkan hatinya dan perkataannya yang akan keluar.
"Baiklah, perceraian bukankah keinginan mu? Perceraian bukankah bisa membahagiakan mu? Akan aku lakukan Ge, akan aku lakukan demi membahagiakan mu sekalipun harus menarik nafas ku, sekalipun harus menyakiti ku. Aku pantas mendapatkannya Ge, kau pantas melakukannya Ge. Aku memang pantas, satu permintaan ku pada mu Ge. Jangan pisahkan aku dengan Krystal, tidak masalah kau tidak memberitahu ku siapa diriku pada Krystal."
"Sebagai seorang ayah, aku malu mengakui siapa diriku pada Krytal, biarkan Krystal tidak mengetahui siapa diriku."
Elmer berbalik, tatapannya kosong, dalam pikirannya teringat dengan kenangan Gege. Kenangan itu menjadi kekauatannya untuk melangkah.
Joe menghela nafas, dia membungkuk hormat pada Gege dan berlalu mengekori Elmer.
Sebelah tangan Elmer bersandar di ujung mobil hitam itu. Dadanya terasa sesak dan sakit. "Kenapa sangat sakit."
Kini dia merasakan betapa tersiksanya Gege saat ia mengabaikannya. "Aku pantas, semoga aku kuat Ge. Semoga aku kuat melakukan apa permintaan mu ini."
"Kita ke Apartement, ada satu hal yang harus aku urus."
...
Joe membukakan pintu belakang mobil, lalu turunlah Elmer, kedua matanya tajam bagaikan pisau. Dia langsung melangkah dengan cepat dan menekan tombol lift menuju lantai atas, tempat dia dan kedua mertuanya.
Elmer menekan beberapa sandi pintu itu, pintu pun terbuka. Dia masuk dengan di ikuti oleh Joe di belakangnya.
Sampai di dalam Apartement itu, Mommy Becca, Tuan Arthur dan Rara begitu tercengang. Mereka tengah bersiap menuju ke rumah sakit untuk menjaga Elmer dan hendak keluar Apartement.
"Elmer?" Mommy Becca menoleh pada Tuan Arthur, suaminya. Seakan mengerti tatapan Mommy Becca, tuan Arthur mendekat dan menyapa Elmer dengan ramah.
"Elmer kenapa sudah keluar? Keadaan mu belum pulih. Kau ini, seharusnya kau bilang pada Mommy dan Daddy. Bagaimana kalau nanti tubuh mu panas lagi? Lihatlah wajah mu masih pucat," celoteh tuan Arthur.
Elmer masih menatap lurus ke depan, tepat pada wajah Rara.
Rara merasa takut melihat tatapan Elmer yang seperti monster. Dia tidak mengerti, ia tidak memiliki masalah dengan Elmer. Ia pun menepis pikirannya dan tersenyum lembut. Ia pikir Elmer pasti meminta maaf karena merasa bersalah. Elmer pasti tau kalau ia tidak pulang dan khawatir padanya. Elmer sering memarahinya karena terlambat pulang.
Mommy Becca yang melihat Elmer menatap ke arah Rara, dia pun menghampirinya. "Elmer, istirahatlah. Maafkan kami tidak menjemput mu."
Masih diam bagaikan patung, Elmer melangkah ke arah Rara. Firasat Mommy Becca dan tuan Arthur tak enak. Keduanya menoleh pada Joe meminta penjelas dan Joe menggeleng lemah.
Rara tersenyum ia menunggu permintaan maaf dari Elmer Richard.
Plak
Separuh rambut Rara menutupi pipi bekas tamparan Elmer. Ruangan itu seketika hening, Momny Becca dan Tuan Arthur melototkan kedua matanya dengan tindakan Elmer.