
Hari pun silih berganti, tak terasa sudah seminggu berlalu. Elmer menjaga putranya yang bernama Devan Dito Elvrad Richard, yang di panggil dengan Devan. Setiap malam dia bersiaga menjaga putranya itu.
Jangan tanyakan keadaanya yang saat ini wajahnya kusam seperti pria paruh baya. Seminggu ini dia berperan aktif, bahkan Gege jarang sekali menyentuh putranya. Biasanya seorang ibu yang berperan aktif, namun tidak bagi Elemer. Suaminya lebih berperan aktif. Jangan lupakan rabut halus di jakunnya, kaos lusuh dan celana kimono yang bermotif spiderman.
Kini hilanglah sudah kewibawaannya sebagai seorang presdir.
"Daddy aku ingin ...." Krystal menjeda saat melihat Elmer berada di depan pintu.
"Dad, kau kesurupan?" tanya Krystal keheranan. Ia seolah melihat orang lain pada diri Daddynya itu.
"Dilarang keras bersuara, baby Devan lagi tidur." Elmer melarang keras. Ia tidak mau baby Devan terganggu tidurnya. Susah payah dia membuat putranya tidur.
Krystal mengangguk paham, ia merasa kasihan pada Daddynya itu. Sudah seminggu ini Daddynya tidak masuk kerja atau mengambil cuti sendiri.
"Baiklah, Krystal ke bawah mau sarapan dulu."
Elemer mengaguk, dia bersandar di beton pintu kamarnya. Siapa saja yang mendekati kamarnya maka ia akan menghentikannya. Hal inilah selama seminggu dia lakukan. Devan sangat rewel, putranya itu akan diam berada di gendongannya dan di gendongan Gege. Namun sebagai seorang ayah, ia tidak mau Gege kelelahan. Ia akan memikul sendiri kelelahannya itu.
"Dad, apa Mom ..."
"Shut," Jari telunjuk Elmer menyentuh bibirnya, memberikan kode pada Krystal untuk diam. Dia pun menyuruh Krystal ke lantai bawah.
"Kasihan sekali Daddy," guman Krystal. "Semoga saja dedek Devan rewel. Sekalian Daddy rasakan penderitaan Mommy saat merawat ku."
Di lantai bawah.
Rara membantu Krystal mengolesi keju ke rotinya, tak lupa dia menuangkan susu untuk keponakannya itu.
"O iya Tante, bilangin sama Daddy. Krystal akan bermain piano."
"Waw, hebat sekali Krystal." Puji Mommy Becca. Semenjak Gege melahirkan, mereka tinggal serumah untuk menjaga Gege dan cucunya. Ya meskipun Elmer turun tangan sendiri menjaga mereka.
"Ya, Daddy sibuk. Sebenarnya aku kasihan sama Daddy." Krystal terbahak-bahak mengingat wajah Elemer. "Nenek tau, wajah Daddy bagaikan vampir."
Seketika ruang makan itu terdengar suara tawa. Mereka merasa geli dengan perkataan Krystal. Tapi memang benar, Elmer seperti mayat hidup. Mereka sudah menyarankan agar bergantian menjaga Devan, namun Elmer menolak dengan tegas.
"Oh iya, biarkan saja dia merasakan." Tuan Arthur menimpali.
Gelak tawa kembali menggema.
"Benar, biar dia merasakan apa yang Gege rasakan dulu. Ah, membayangkan dulu waktu dulu. Tapi aku bersyukur saat ini, Gege bahagia." Tuan Hardiand mengingat kenbali masa-masa perjuangan Gege.
Rara menunduk, hatinya sedih. Akankah ia mendapatkan suami seperti Elmer. Memikirmannya saja rasanya tidak mungkin. Ia terlalu jahat pada Gege, mungkin ini karma baginya. Ia mengelus kandungannya yang sebentar lagi akan melahirkan. Kini usia kandungannya telah menginjak 6 bulan sisa 3 bulan lagi ia akan melahirkan.
"Dad, Mom, aku ingin hidup mandiri."
"Kenapa berbicara seperti Ra, kami keluarga mu."
"Mom, Dad jangan salah paham. Aku ingin mandiri." Sebagai seorang kakak yang egois, ia ingin merasaka apa yang ingin Gege rasakan.
"Baikalah, tapi jangan lupa mengabari kami." Mommy Becca sebenarnya tidak pasrah. Ia takut terjadi sesuatu pada Rara. Namun putrinya itu bersikeras untuk melatih hidup mandiri. "Kau harus mengabari Mommy."
"O iya, karena Daddy dan Mommy mungkin tak bisa hadir. Bolehkah Tante saja yang menemani Krystal."
"Boleh Tan," ujar Krystal. Ia tidak merasa keberatan. Lagian adiknya sangat rewel. Jadi ia membiarkan saja kedua orang tuanya sibuk dengan adiknya.
...
Ditempat lain.
Seorang pria merasa pusing dengan kepalanya. Mulai kejadian dua lima bulan yang lalu, ia tidak bisa tidur dengan tenang. Setiap malam ia membayangkan kejadian itu. Hingga pada akhirnya, ia tidak berhasratt menyentuh istrinya itu.
Dia bernama Gabriel Wiliam, seorang CEO yang sukses. Dia sudah memiliki istri, namun rumah tangganya terasa hampa. Istrinya sibuk di luar sana, bahkan di umur pernikahannya 7 tahun. Dia masih belum di karunia seorang anak. Ia dan istrinya sempat berobat, namun sayang. Segala pengobatan telah di lakukan namun tidak berhasil. Sepertinya Tuhan memang ingin mengujuinya.
"Tuan," Seorang pria tampan dan gagah memberikan hormat.
Kini pria itu bertelanjang dada, selimutnya separuh menutupi tubuhnya sampai perutnya.
"Kau sudah menyelidiki kejadian malam itu?" tanya Gabriel dengan suara lemah. Baru tiga hari yang lalu dia memutuskan untuk mencari identitas wanita itu.
"Tidak tuan, maaf. Cctv saat itu sedang masa perbaikan."
"Akhhhh ...."
Gabriel merasa bersalah, kenapa ia harus meninggalkan wanita itu. Tapi ia bingung, karena mabuk ia kehilangan arah. Sehingga ia melakukan dengan wanita yang tak ia kenal. Hatinya dan pikirannya pun bingung, ia tidak ingin mengecewakan istrinya, tapi di sisi lain ia merasa bersalah pada wanita itu.
"Selidiki terus."
"Baik tuan, pakaian tuan dan sarapan tuan telah siap."
Pria yang di sapa Jordan itu membungkuk hormat dan melenggang pergi. Kini menyisakan Gabriel yang harus bersiap-siap ke kantor.