Istri Reinkarnasi Presdir Kejam

Istri Reinkarnasi Presdir Kejam
Kedatangan Seseorang


Rara keluar dari pintu mobilnya sambil menggendong baby Lucio. Kini dia berada di kantor Gabriel. Dia pun meminta sopirnya membawa sebuah kotak bekal. Hari ini ia datang untuk membawakan bekal makan siang suaminya itu tanpa memberitahukan kedatangannya.


Rara menggendong baby Lucio dengan rasa senang. Dia menggunakan dress selututnya berwarna navy dan memperlihatkan kedua bahu mulusnya. Rambut hitamnya di biarkan tergerai.


"Kita sampai, lihat Daddy." Baby Lucio tersenyum memperlihatkan gusinya yang belum di tumbuhi gigi seakan dia tau kalau tempat ini tempat Daddynya bekerja. Sudah dua kali Rara datang ketempat ini. Tadi pagi ia belum sempat membuat bekal untuk suaminya karena baby Lucio rewel.


Kini sampailah Rara di lobi perusahaan, tanpa sadar seorang wanita berjalan tanpa memperhatikan di depannya hingga akhirnya menabraknya yang tengah fokus mengajak baby Lucio berbicara.


Bruk


Wanita yang memakai topi hitam dan kemeja kotak-kotak dan memakai celana jens serta sepatu putih itu memundurkan langkahnya.


"Ma-maaf."


Wanita itu mendongak menatap wanita di depannya dengan wajah terpaku. Ia terpesona dengan kecantikan Rara.


Hoek


"Shut sayang," Rara mengelus punggung baby Lucio. "Tidak apa-apa."


Rara tersenyum dan berlanjut melangkah menuju ke arah lift.


Seperti ada magnet di tubuh Rara, wanita itu menoleh. Ia menatap lekat punggung Rara yang mulai memasuki sebuah lift.


"Apa dia karyawan di sini?" tanya Wanita itu. Seharusnya ia bertanya saja tentang Gabriel. Saat ini ia ingin bertemu dengan Gabriel.


Wanita itu tidak menyadari jika Rara istri Gabriel karena menggunakan lift karyawan dan menyangka Rara karyawan di perusahaan mantan kekasihnya.


Gabriel yang tengah memarahi beberapa karyawan menghentika ucapannya ketika melihat sosom Rara yang muncul di ambang pintu.


"Ah sayang kau kesini," ujarnya tersenyum senang. Rasa lelah dan kepalanya yang terasa pusing langsung hilang seolah Rara dan putrnya sosok cahaya yang menghilangkan rasa lelah dan kesakitannya.


"Supries sayang."


Gabrile melirik tiga pria berbeda umur itu, seperti mengerti ketiga pria itu pun pergi dan merasa bersyukur karena tidak jadi di pecat. Padahal mereka sudah kenak mental karena takut pada Gabriel si pria datar dan dingin itu.


Sopir yang membantu membawakan bekal untuk Gabriel pamit pergi setelah menaruh kotak bekal itu ke atas meja.


"Sayang, putra tampan ku." Gabriel mengambil alih baby Lucio. "Dia pun mencium kedua pipi gembulnya. Daddy kangen banget sama Lucio."


Baby Lucio tersenyum, namun melihat ada genangan air mata ia pun beralih pada Rara. "Sayang, kenapa ada bekas air mata?"


"Oh itu, tadi baby Lucio menangis. Ada seorang wanita yang menabrak kami, tapi salah aku juga yang tidak memperhatikan jalan," tutur Rara.


"Apa? Berani sekali wanita itu menabrak istri ku dan anak ku. Kenapa kamu tidak mengatakan pada ku?"


"Ayo makan." Rara mengajak Gabriel makan, dia duduk dan membuka kotak bekal itu.


"Emmm, aromanya ..." Gabriel langsung kelaparan saat menghirup aroma masakan Rara. Masakan istrinya itu memang membuatnya sangat lapar sekalipun ia makan, jika menghirup aroma lain lagi pasti akan lapar. Hari-harinya begitu sempurna semenjak kedatangan Rara. Dia menjadi suami yang di sayang, setiap pagi Rara membantunya bersiap-siap, kadang makan di suapi, di temani lahir batinya dan ia mendapatkan sosok malaikat kecil yang selalu ia dambakan.


"Suapi,"


Rara mengembangkan senyumnya. Ia pasti akan menuruti baby besarnya itu. Ia bersyukur mendapatkan suami seperti Gabriel yang mencintainya sangat dalam. Hari-hati yang di lewatinya seperti sempurna.


Dengan telaten Rara memasukkan suapan demi suapan ke mulut Gabriel.


Baby Lucio memukul mulut Gabriel dan membuat Rara terkekeh.


"Apa makanannya enak?"


"Tentu saja, apa sih yang gak enak? Jangankan masakannya orangnya pun enak."


Puk


"Kau ini," Wajah Rara bersemu merah. Gabriel selalu menggodanya.


"Tapi memang benarkan sayang, hem..."


"Terimakasih Sayang, karena mu aku merasakan kebahagian ini. Aku merasa sebuah keluarga." Gabriel bersyukur, karena selama pernikahannya yang pertama ia merasa tidak seperti orang yang berkerluarga.


Tok


Tok


Tok


"Maaf tuan mengganggu, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan." Jordan merasa tak enak hati. Ia butuh berbicara berdua karena sangat penting.


"Katakan saja," ujar Gabriel. Tidak masalah jika apa pun yang terjadi. Rara bukanlah orang luar melainkan istrinya, jafdi berhak tau apa saja yang berkaitan dengannya.


"Masalah pekerjaan tuan,"


Rara mengambil alih baby Lucio. "Kau urus saja pekerjaan mu, nanti kesini lagi. Sepertinya penting."


Dengan perasaan jengkel, Gabriel bergegas keluar di ikuti Jordan.


"Ada apa Jo?"


"Tuan, Nona Amelia ada di lantai bawah. Katanya mau bertemu dengan Tuan." Tutur Jordan yang seketika membuat kedua mata Gabriel membulat.