
Tok
Tok
Tok
"Elmer, kau sudah bersiap-siap?" tanya Mommy Becca.
Hari ini mereka akan kembali ke Itali, dan saat ini Mommy Beeca berniat membantu mengemasi barang Elmer.
"Iya Mom!" teriak Elmer dari belakang pintu. Dia membuka pintu itu dan melihat Mommy Becca yang berdiri.
"El, kau mau kemana?" tanya Mommy Becca melihat Elmer sangat rapi. Dia menggunakan jaket hitam, kaos biasa dan celana jens.
Elmer tersenyum, sekalipun hatinya masih menangis. Ia harus memberikan senyuman hangatnya pada kedua mertuanya. Hari ini pun dia berniat untuk menemui Krystal dan Gege.
"Aku mau keluar sebentar Mom," ujarnya.
"Kemana?" tanya Mommy Becca. Setiap Elmer keluar, pulangnya pasti akan menangis.
"Ada sesuatu yang ingin Elmer beli Mom. O iya, tidak perlu khawatir Mom. Ada Joe yang akan menemani Elmer."
"Ya sudah berhati-hatilah."
Elmer mengangguk, dia pun turun menuruni anak tangga dan berlalu tanpa melihat seorang wanita yang masih duduk menatap ke arahnya.
...
"Tuan, Nona Briana sudah di tangkap. Mereka menemukannya di bandara dan akan menuju ke London. Sepertinya dia datang karena tuan."
Elmer merasa tak yakin, bukankah selama ini Briana bersekongkol dengan Rara? Kini ia mengerti dengan menyambungkan kedatangan Dion. "Dia bukan datang untuk ku tapi karena Dion."
Joe mengangguk, ia lupa dengan kejadian beberapa hari sebelumnya. "Benar Tuan, pasti karena kedatangan Dion."
Joe membukakan pintu belakang mobilnya. Elmer pun masuk ke dalam mobil.
"Tuan, apa tuan Dion tidak tau kalau Nyonya masih hidup?"
"Buat apa? Dia tidak pantas di beri tau. Mampir ke toko mainan, aku ingin membelikan sesuatu untuk Krystal."
"Baik Tuan."
Elmer pun mencari beberapa boneka untuk gadis kecilnya. Dia pun membeli boneka beruang berwarna cokelat, pas seukuran dengan Krystal dan kini dia menuju ke sebuah toko pakaian anak kecil.
Dia menatap sambil membayangkan Krystal memakai gaun yang ia pilih dan semuanya sangat cocok dan pada akhirnya ia membeli lima gaun.
Sesampainya di depan gerbang Joe turun dan meminta untuk di bukakan pintu gerbangnya. Satpam pun yang bertugas membuka pintu gerbang itu. Dia telah di perintahkan jika Elmer datang boleh masuk ke dalam tanpa harus ijin darinya.
"Mom, bukannya itu paman yang mengantar Krystal." Tunjuk Krystal pada seorang pria yang keluar dari mobilnya. Pria itu mebawa sebuah boneka dan beberapa paperbagh.
Gege memenutup jok mobilnya. Dia telah selesai memasukkan koper miliknya dan milik Krytal. Dia menoleh dan melihat arloji di tangannya, masih ada waktu dua jam dari jadwal keberangkatannya.
"Krystal," sapa Elmer. Dia berjongkok dan menatap wajah putri satu-satunya itu. "Krytasl suka dengan boneka ini?"
Krystal mengangguk, boneka apa pun dia suka. Bahkan kamarnya pun penuh dengan boneka.
"Bagus."
"Untuk Krystal yang paling cantik."
Dengan senang hati Krystal mengambil boneka itu. "Terimakasih Om."
Elmer mengusap pucuk kepala Krystal. Dia beralih pada sang ibu dari anaknya. "Kau mau kemana?" tanya Elmer melihat sebuah koper di samping Gege.
"Ke Itali, aku akan mengurus surat perceraian kita."
Ingin sekali Elmer berteriak dan menolaknya, tapi rasanya tidak mungkin. Gege begitu mengonginkan perceraian ini. Maka ia akan mengabulkamnya. Demi Gege untuk membahagiakannya.
"Aku, Mommy dan Daddy juga akan kembali."
Gege tak menyahut jika harus membahas kedua orang tuanya. "Kau tidak bersiap-siap?" tanya Gege. Dia begitu enggan untuk menyuruh Elmer masuk.
Elmer menatap Gege seakan meminta ijin dan Gege mengangguk. "Masih ada waktu satu jam."
"Terimakasih."
Krystal menyeret Elmer ke kamarnya, ia ingin menunjukkan kamarnya yang berada di lantai atas dengan beberapa boneka di dalamnya.
Sampailah mereka di pertengahan anak tangga. Elmer berpapasan dengan tuan Hardiand yang menuju ke lantai bawah. Dia membungkuk hormat.
"Kakek, Krytal ingin memperlihatkan kamar Krystal," ujarnya menyampaikan keinginanya.
Tuan Hardiand tak bisa menolak, ia mengangguk dan beralih menatap Elmer bergitu dingin. Enggan sekali suaranya untuk menyapa pria di depannya, seakan suaranya sangatlah mahal.
Ceklek
Elmer menyapu ruangan itu, ia tersenyum. Aroma manis memasuki indra penciumannya. Ia melihat beberapa foto Gege dan Krystal, tentu saja dengan wajah barunya.
Beberapa Rak berwarna pink dengan boneka yang di susun rapi. Cat dinding warna pink dengan berbagai macam bintang serta sebuah ranjang kecil, khusus untuk seukuran tubuh Krystal.
"Bagus sekali kamar Krystal," ujar Elmer. Setelah pulang dari sini. Dia akan menghias sendiri kamar putrinya.
"Om suka? Ini Mommy sendiri yang mendekorasinya. Krystal juga suka kok Om, malah Krystal merasa sedih meninggalkan kamar ini beberapa hari," ucapnya.
Elmer mengangkat tubuh Krystal, dia menaruhnya di atas ranjangnya. "Nanti kalau Krystal ke Itali, kita bisa bertemu di sana. Krystal mau ke rumah Om, nanti Om sendiri yang menghias kamar Krystal."
"Memangnya Krystal boleh ke rumah Om dan menginap? Krystal kan bukan siapa-siapanya Om, anak juga bukan."
Nyes
Hati Elmer sangat sakit, seandainya ia bisa mengatakan siapa dirinya. Seandainya ia bisa mengungkapkannya, tapi ia malu. Bagaimana ia akan menjawab alasannya ketika Krystal meminta alasannya.
"Boleh sayang, memangnya Krystal tidak mau ke rumah Om? Om kan sudah ke rumah Krystal."
"Iya deh, nanti Krystal kesana."
Elmer menunduk dan sedikit membung muka. Dia menyeka air matanya yang telah mengalir. "Iya, Om menunggu Krystal. Om hari ini akan kembali ke Itali, rumah Om di sana. Nanti kita bertemu di sana."
"O iya, Krystal minta nomor ponsel Om. Biar Krystal bisa menghubungi Om."
"Iya sayang."
Elmer pun menyimpan nomor ponsel milik Krystal di ponselnya dan memberikan sebuah nama 'gadis kecil ku'.
...
"Ge," sapa tuan Hardiand. Dia menghampiri putrinya yang telah selesai memasukkan koper miliknya ke mobil satunya. "Kau menyuruhnya masuk?"
"Maksud Daddy Elmer, biarlah Dad."
"Dia tidak mengatakannya pada kedua orang tua mu?"
"Sepertinya tidak Dad,"
Joe yang melihat dari jauh menghampiri Gege dan tuan Hardiand. Sekalipun Gege tak bersama dengan Elmer, tapi baginga Gege teyaplah wanita yang harus ia hormati sebagai majikannya.
"Nyonya, Tuan Hardian." Sapa Joe. Dia membungkuk hormat pada mereka.
"Nyonya, apa Nyonya akan kepergian?"
"Iya, kita akan ke Itali untuk mengurus surat perceraian mereka." Tuan Hardiand segera menyambar pertanyaan Joe. Dia menerangkan bahwa mereka tidak akan kembali bersama.
Joe yang mendengarnya pun merasa kasihan pada masib Elmer. Sudah di permainkan oleh Rara malah dapat sakit hatinya dari Gege. Lengkap sudah penderitaan bosnya itu.
"Nyonya, semenjak kehilangan Nyonya. Tuan Elmer begitu sangat menderita. Dia bagaikan mayat hidup. Setiap harinya ditemani dengan alkohol. Tidur pun harus di temani dengan obat. Tuan Elmer sangat mencintai Nyonya. Apa Nyonya tidak ingin memberikannya kesempatan?"
"Maaf Joe, pernikahan kita berawal dari kesalahan. Kita tidak bisa bersama kembali."
"Setidaknya untuk Non Krystal." Joe membujuk, namun hanya gelengan kepala dari Gege yang menjadi jawabannya.