
Di keheningan malam yang sepi dan sunyi seakan di ruangan itu tak ada kehidupan. Seorang pria meraba sebuah foto seorang wanita yang sangat cantik, senyumannya indah bagaikan lautan yang menenangkan.
Lilin di atas nakas dekat jendela itu menari-nari di sapa dengan semilir angin. Air mata pria itu tak mau berhenti, hatinya hancur sehancur-hancurnya. Sebentar lagi ia resmi menyandang status Duda. Sebentar lagi hidupnya benar-benar sendiri.
"Gege," ucapnya dengan nada lirih. Ia mencium foti itu dan memeluknya dengan erat.
...
Di ruangan yang berbeda. Mommy Becca dan Tuan Arthur saling menguatkan, kenyataan hari ini membuat penyesalannya bertambah, rasa sakitnya berkali-kali lipat. Mereka tidak tau kehidupan mereka selanjutnya, akankah mereka sanggup menjalani kehidupan lebih baik lagi? Setelah penyebab kepergian putrinya karena putri lainnya.
"Gege Dad, kita bersalah padanya. Kita mengecewakannya. Kita membencinya, orang tua macam apa kita? Seandainya dia masih hidup, aku tidak akan ikut campur lagi urusannya. Aku akan membiarkan apa pun keinginan, sekalipun Gege meminta ku menjauh. Aku akan menjauh, akan aku lakukan jika dia masih hidup."
Dia meraba foto Gege yang tersenyum padanya. Seandianya bisa di tukar, ia rela nyawanya di tukar dengan nyawa Gege
Tuan Arthur menarik Mommy Becca kedalam pelukannya, ia terus menangis tersedu-sedu. Entah berapa banyak tetesan air mata yang dia keluarkan. Tuan Arthur pun tak bisa menahan tangisnnya, malam ini malam yang paling menyedihkan untuk mereka. Keduanya hanya bisa memeluk sebuah bingkai foto.
"Besok kita akan pulang bersama Elmer."
Sedangkan Rara, dia duduk termenung bagaikan orang yang tak bernyawa. Butiran air mata itu mengalir. Dalam sekejap semuanya berubah, bahkan kedua orang tuanya langsung memutuskan hubungan dengannya.
Dalam sekejap dirinya berubah menjadi orang asing. Ibunya sendiri tidak memihaknya dan malah melepaskannya.
"Mom,"
Dia menoleh, melihat ke arah kopernya. Ibunya sendirilah yang membereskan bajunya. Permohonannya pun di anggap angin lalu.
Sementara itu, Gege tengah mempersiapkan baju milik tuan Hardiand. Besok mereka akan kembali ke Itali. Gege akan mengurus perceraiannya. Begitu pun Krystal akan ikut.
"Ge, kamh sudah siap bertemu dengan mereka?" tanya Tuan Hardiand.
Gege menoleh, siap tidak siap. Ia harus siap bukan?
"Daddy tidak perlu khawatir. Justru Gege khawatir pada Daddy." Gege menghela nafas. Tuan Hardiand memaksa untuk ikut dengannya. Padahal ia tidak memperbolehkannya. Apa lagi Daddynya baru saja keluar rumah sakit.
Tuan Hardiand memperlihatkan otot lengannya. "Daddy ini kuat sayang, kau ini khawatir sekali pada Daddy."
"Ge, kau sudah memaafkan kedua orang tua mu. Sebenarnya Daddy kasihan pada mereka Ge. Mereka pasti menyesalinya," ucap tuan Hardiand. Sebagai orang tua ia pun merasakan sakitnya di tinggalkan seorang anak.
"Mereka memiliki Rara Dad, bukan aku." Gege tersenyum, ia sudah memiliki Daddy Hardiand. Baginya sudah tidak masalah mereka melupakannya, yang penting mereka sehat dan bahagia.
"Kau tidak ingin mengatakan yang sebenarnya pada Krystal?"
Gege menggeleng, lagi pula Elmer tidak mempermasalahkannya. Ia tidak akan melarang jika Elmer bertemu dengan Krystal. Akan tetapi untuk mengatakannya, ia belum siap. Ia belum mempunyai alasan berpisah dengan Daddy kandungnya.