Istri Reinkarnasi Presdir Kejam

Istri Reinkarnasi Presdir Kejam
Pertemuan Rara dan Gabriel


Kedua manik itu menatap ke arah luar jendela. Pagi ini suasana hati dan pikirannya kalut, tidak ada yang bisa menenanginya. Istrinya, Helena entah keluar kemana? Sejak semalam ia tidak melihatnya.


Dahinya berkerut ketika melihat seorang wanita. Matanya menajam seolah dia menemukan sesuatu.


"Stop Jordan."


Asisten sekaligus tangan kanannya itu mengerem mendadak mobilnya. Gabriel langsung keluar dari mobilnya dan melihat kanan ke kiri. Ia melangkah tergesa-gesa memasuki toko bunga.


"Selamat datang," Sapa seorag pelayan toko bunga dengan ramah.


Gabriel menghiraukan sapaan itu, dia mencari ke salah satu rak, namun tak melihatnya. Kemudian melanjutkan ke rak lainnya hingga ia mengenali wajah yang di lihat dari samping. Mulutnya menganga, tenggorokannya tercekat.


Seorang wanita tengah tersenyum menatap bunga mawar di depannya.


"Nona ingin membeli yang ini?" tanya seorang pelayan.


"Iya aku yang ini, ini dan ini," tunjuk Rara. Dia membeli tiga macam bunga yang berbeda. Bunga mawar, tulip dan Magnolia putih.


Rara memutar tubuhnya, kedua netranya bersitatap dengan netra yang membeku itu. Dia tersenyum ramah kamudian melewati tubuh Gabriel.


Rara membayar bunganya dan sopir yang menunggunya masuk ketika melihat Rara berada di depan kasir.


"Tolong bawakan yang ini Pak."


"Baik Nyonya," ujar sang sopir.


Rara keluar tanpa menyadari seorang pria dengan wajah yang sulit terbaca.


Gabriel menatap ke arah Jordan. "Dia wanita itu, kamu selidiki."


"Baik tuan," ujar Jordan.


Gabriel dan Jordan menatap lurus ke arah mobil yang telah melaju itu.


"Tuan," Jordan memberikan sebuah map dan Gabriel langsung menerimanya. Dia membaca informasi wanita yang ia kenal. Mulutnya tak bisa terkatup rapat.


"Jadi dia Geraldine Lewis, yang di panggil dengan Rara dan dia adalah keturunan Lewis."


Gabriel mengusap wajahnya dengan kasar, sungguh tak ia sangka. Keluarga Lewis menjalin kerjasama dengan perusahaanya.


"Apa yang akan tuan lakukan selanjutnya?" tanya Jordan. Bosnya itu salah mengira seorang wanita. "Dari laporannya itu dia sempat bertunangan dengan adik iparnya Elmer Richard, tapi sepertinya ada masalah hingga dia pergi dan di ganti dengan Gege, adiknya, Gerarda Lewis. Sekarang pasangan Elmer dan Gege sudah menikah dan memiliki anak. Menurut laporan, Gege sempat kecelakaan dan berpisah dengan suaminya."


"Sepertinya tuan salah menyangka."


Wajah Gabriel semakin pias, apa yang harus ia lakukan saat ini.


"Dan wanita itu belum menikah, kira-kira usia kandungannya 6 bulan." Jordan melanjutkan perkataannya.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin langsung mengatakanya kalau aku yang membuatnya dan sekarang dia mengandung anak ku."


Jordan menatap map di tangannya, mungkin sudah waktunya tuannya itu tidak menutup matanya. Sudah cukup bagi tuannya memanjakan Helena.


"Tuan, ini ada sesuatu yang harus saya sampaikan. Maaf kalau saya lancang berbuat jauh."


Gabriel mengerutkan keningnya, kemudian sebuah foto istrinya dengan pria lain. Seketika rahangnya mengeras, kedua matanya menajam, dadanya bergemuruh kesakitan. Selama bertahun-tahun kesetiannya di balas oleh pengkhianatan.


"Jadi kau menyelidikinya diam-diam?"


"Maaf tuan, sebenarnya saya tak bermaksud, tatapi saya pernah melihat nyonya bersama dengan pria lain. Saya rela mendapatkan hukuman dari tuan."


"Dimana dia sekarang?" tanya Gabriel.


"Nyonya sudah pulang tuan," jawab Jordan.


Gabriel langsung beranjak, dia melanggang pergi di ikuti Jordan di belakangnya. Wajahnya bagaikan monster api yang siap membakar musuhnya. Auranya semakin dingin dan kabit hitam itu mengelilingi tubuhnya.