I'M Princella.

I'M Princella.
9. Kecurigaan Kevin.


***S.H Hotel***


Kristian masih melihat intens ke arah Cella. Membuat Cella yang di lihat merasa heran, namun dia hanya diam dengan cukup tenang menikmati minumannya.


"Kau benar-benar Cella?" Tanya Kristian masih tidak percaya.


Semua mata melihat ke arah Kristian dan Cella secara berganti. Cella diam tanpa mau menjawab iya kepada Kristian.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya, beberapa tahun yang lalu. Tepatnya di sebuah pertemuan di negara N." Ungkap Kristian mengutarakan apa yang ia ingat saat melihat Cella.


"Sepertinya aku melihatmu berbeda di pertemuan tersebut. Bukan wajah seperti sekarang, kau terlihat dua orang yang berbeda tetapi sebenarnya satu orang." Ungkap Kristian dengan tatapan tajam masih melihat intens Cella.


Cella masih diam dan mencoba tetap tenang. Dia pernah datang ke sebuah pertemuan di negara N beberapa kali. Apakah Kristian pernah melihatnya di pertemuan itu? Kalau itu memang benar, Cella harus cukup berhati-hati terhadap Kristian. Seingatnya pertemuan dirinya di negara N adalah pertemuan yang tidak menyembunyikan siapa dirinya? Ini akan gawat jika Cella dan Kristian pernah berada di satu pertemuan yang sama.


"Apa maksud mu Kristian?" Tanya Hana membuka suara.


Kristian melihat ke arah Hana, yang ia ketahui adalah saudari tiri Cella.


"Apakah kau seorang dokter?" Tanya Kristian.


Kevin seketika melihat ke arah Cella, bagaimana Kristian tahu jika Cella adalah seorang dokter? Dia yang baru saja berjumpa dengan Kristian malam ini, tidak pernah menceritakan ataupun memberitahukan jika putranya Kenzo masuk ke rumah sakit, dan telah mendapatkan pertolongan dari Cella yang seorang dokter.


Jadi dari mana Kristian tahu, jika Cella adalah seorang dokter.


Lain halnya terhadap Cella yang di berikan sebuah pertanyaan oleh Kristian. Ia malah melihat ke arah Kevin yang kebetulan melihat juga ke arahnya.


"Bukan aku." Bisik Kevin menjawab tatapan Cella ke arahnya, sembari menggelengkan kepalanya pelan.


Cella tahu Kevin tidak berbohong, terlihat jelas dari sorot matanya yang jujur.


"Mana mungkin dia adalah seorang dokter." Ucap Hana menjawab pertanyaan Kristian. Ia melihat remeh ke arah Cella, dan tidak akan percaya dengan tampang Cella seperti itu, dia adalah seorang dokter. Itu mustahil bagi Hana.


Cella terlalu bagus untuk menjadi seorang dokter, Hana pun sangsi jika Cella tidak akan memiliki biaya yang cukup banyak untuk masuk sekolah kedokteran. Hana tahu jika papa kandung Cella adalah orang miskin yang hanya bekerja serabutan. Itulah dugaan Hana terhadap Cella.


"Bagaimana bisa kau yakin jika Cella bukanlah seorang dokter?" Tanya Kevin yang tidak suka akan pandangan dan ucapan Hana seakan meremehkan Cella.


Cella tiba-tiba menyentuh pelan lengan Kevin, yang membuat Kevin melihat ke arahnya.


"Diam dan jangan katakan apapun, tolong…!!" Bisik Cella meminta untuk Kevin diam dan tidak mengatakan jika Cella adalah seorang dokter.


Kevin mengerti, dia pun diam. Namun dalam hati Kevin mengatakan jika Cella hutang penjelasan padanya. Bagaimana dan untuk apa Cella menutupi dirinya yang seorang dokter?


"Apa kau seorang dokter?" Tanya Kristian kembali, karena melihat curiga gerak gerik Kevin dan Cella.


Cella kembali melihat ke arah Kristian, namun tidak dengan Kevin yang lebih memilih meminum wine yang ada di tangannya.


"Sepertinya aku pernah melihatmu dengan wajah yang berbeda, di sebuah pertemuan yang di adakan oleh profesor Roberto Carlos. Pertemuan beberapa dokter ternama yang ada di berbagai negara yang mendapat undangan khusus darinya." Ungkap Kristian kembali, karena Cella hanya diam saja. Sikap Cella diam dan cukup tenang.


Ungkapan Kristian membuat Kevin melihat ke arah Kristian dan juga Cella secara berganti. Dia masih mengingat sebuah nama yang dua kali ia dengarkan dari dua orang yang berbeda. Profesor atau dokter Roberto Carlos. Nama seorang dokter yang cukup terkenal di negara N dan beberapa negara lainnya.


"Tidak. Aku bukan seorang dokter, dan tidak pernah datang ke pertemuan yang kau maksudkan." Ucap Cella tidak ingin jujur.


Bagaimana bisa Cella akan jujur jika dia pernah datang ke pertemuan yang di adakan oleh profesor Roberto Carlos. Jika ia jujur, itu sama halnya dengan mengungkapkan siapa jati dirinya? Mengaku jika dia adalah dokter jenius yang mendapatkan undangan khusus dari dokter Roberto Carlos. Tidak mungkin Cella akan melakukan itu, dia harus segera pergi dan menghindari Kristian.


Penolakan Cella mendapatkan tatapan tajam dari Kevin, bagaimana bisa Cella tidak jujur kalau dia adalah seorang dokter? Apakah Cella benar-benar seorang dokter atau tidak? Itulah pertanyaan yang ada di hati dan pikiran Kevin sekarang.


Namun penolakan Cella dan ingatan sebuah nama seorang dokter terkenal membuat dia mencurigai sesuatu tentang Cella saat ini. Dia curiga ini semua ada hubungannya, dia pun mengingat ucapan dokter Antoni, jika dokter Roberto Carlos adalah dokter yang memberitahukan kepada dokter Antoni jika di Prince Healthy Klinik memiliki seorang dokter jenius. Sebuah pertemuan tempat di mana dokter Roberto Carlos mengenal dan bertemu dengan sang dokter jenius tersebut.


Dia pun ingin mencaritahu kebenaran dari kecurigaannya itu. Apakah benar semua ini ada hubungannya?


"Kristian, apa kau juga tahu atau mengingat jika pertemuan itu mendatangkan seorang dokter jenius dari negara B?" Tanya Kevin secara tiba-tiba.


Cella dan Kristian melihat ke arah Kevin secara bersamaan. Cella melihat ada yang mencurigakan dari Kevin.


'Apa ada yang ia curigai?' Gumam Cella curiga melihat ke arah Kevin.


"Iya. Tentu saja aku masih mengingatnya, seorang dokter jenius dari negara B yang bekerja di Prince Healthy Klinik, dan dokter itu terlihat sama seperti dia." Ungkap Kristian menunjuk ke arah Cella dengan ujung matanya.


Levi, Hana dan Rani hanya diam mendengarkan percakapan mereka.


Kevin segera melihat ke arah Cella yang sedang sibuk dengan minumannya, terlihat cuek dengan ucapan Kristian yang mengingat siapa dirinya.


"Mungkin kau melihat orang yang hanya mirip dengannya. Cella mengatakan jika dia bukanlah seorang dokter." Ucap Kevin sedikit membantu Cella, dia juga ingin melihat reaksi Cella.


"Benarkan Cella?" Tanya Kevin ke arah Cella.


Cella sedang menundukkan kepalanya dan memejamkan sejenak matanya. Pipi Cella terlihat memerah, dia pun menggelengkan kepalanya pelan. Sembari terus membuka dan menutup matanya yang terlihat aneh.


"Ada apa? Apa kau mabuk?" Tanya Kevin melihat ada yang tidak beres dari kelakuan Cella.


"Wajahmu merah sekali. Kau mabuk?" Kevin khawatir.


'Ada apa ini? Tidak mungkin aku mabuk hanya meminum sedikit wine itu. Sial aku dalam pengaruh obat, aku harus segera ke kamar.' Gumam Cella di dalam hatinya, ada yang dia rasakan tidak beres di dalam tubuhnya. Dan di curiga jika dia ada di bawah pengaruh obat perangsang.


"Iya, aku sedikit mabuk. Aku harus kembali ke dalam kamar." Balas Cella masih berusaha tenang dan tersenyum.


Pada hal dia sedang berusaha mengontrol reaksi tubuhnya. Semakin panas dan tidak nyaman, jangan sampai ada sebuah sentuhan seseorang di kulitnya. Dia harus cepat masuk ke dalam kamar dan mencari solusinya.


"Aku akan mengantarmu." Ucap Kevin terputus.


"Tidak …!!" Tolak Cella sembari bangkit dan menghindari sentuhan yang di lakukan oleh Kevin.


"Aku bisa sendiri." Ucapnya mundur beberapa langkah, Cella masih berusaha mengontrol reaksi tubuhnya yang mulai tidak nyaman.


Kevin diam akan penolakan Cella, dia juga harus tahu batasannya. Hal seperti ini tidak mungkin ia pakasakan terhadap Cella, itu hanya akan membuat orang berpikiran jahat kepada mereka berdua.


"Baiklah." Hanya itu jawaban dari Kevin.


Cella segera pergi bersama dengan senyum tipis dari Hana yang melihat tingkah laku Cella saat ini. Sedangkan Kristian, Levi dan juga Rina hanya diam melihat tingkah laku Cella yang aneh dan pergi begitu saja. Tanpa mereka ketahui apa yang sebenarnya terjadi pada Cella.


"Dia tidak cukup kuat untuk minum, dan kau memberikannya begitu banyak wine." Celetuk Levi melihat ke arah Kevin.


"Tidak juga, sepertinya dia hanya minum dua gelas wine. Tidak lebih dari itu, masa iya dia mudah mabuk dengan dua gelas wine." Jawab Kevin membela dirinya, karena dia baru satu kali menuangkan wine ke gelas Cella.


"Tapi dia sudah terlihat mabuk berat." Balas Levi kembali.


"Mana aku tahu, mungkin dia tidak terbiasa minum. Sehingga ia mudah mabuk." Ungkap Kevin benar benar tidak mengerti apa yang terjadi pada Cella.


"Kau benar Kevin, mana mungkin dia terbiasa minum wine mahal seperti itu. Hidupnya yang bisa makan saja, seharusnya dia sudah bersyukur." Ungkap remeh Hana, yang dia ketahui jika Cella dan papa kandungnya selalu hidup dalam kesusahan. Tidak mungkin Cella bisa meminum wine mahal di saat hidupnya bersama papa kandungnya yang bekerja serabutan untuk mencari uang.


Kevin menatap tidak suka ke arah Hana, Kevin benci dengan orang orang yang selalu saja meremehkan dan merendahkan orang lain secara terang-terangan. Apalagi Hana tidak tahu jika Cella adalah benar benar seorang dokter. Kevin juga tahu gaji seorang dokter dapat di gunakan untuk hidup berkecukupan.


Sikap Hana membuktikan jika dia tidak tahu apapun tentang saudari tirinya tersebut. Kevin muak dengan segelintir orang orang busuk dan sombong seperti Hana dan juga Rina. Lebih baik pergi dan menemui putra serta istrinya di rumah sakit, dari pada menemani mereka yang tidak jelas dengan sifat yang sombong.


"Kau mau kemana, Kevin?" Tanya Levi melihat Kevin bangkit dari duduknya.


"Pulang, tidak ada gunanya aku berada di sini lebih lama lagi." Ucap Kevin sembari melirik ke arah Hana dan Rina.


Kevin berlalu begitu saja.


Levi dan Kristian saling memandang, mereka berdua cukup tahu jika lirikkan Kevin mengarah kepada Hana dan juga Rina. Levi dan Kristian tahu jika Kevin tidak begitu menyukai dua wanita yang selalu ikut di dalam kelompok mereka.


Levi dan Kristian bangkit dari tempatnya, mereka berdua juga akan pergi dari pesta yang tidak menyenangkan sama sekali.


"Mau kemana?" Tanya Rina melihat ke arah Levi dan Kristian.


"Pulang." Jawab singkat Levi, dan berlalu dari tempat itu begitu saja.


Rina dan Hana tidak dapat menahan mereka lebih lama lagi, sungguh menyebalkan bagi mereka berdua. Di saat Cella pergi, Kevin pun ikut pergi. Setelahnya Levi dan Kristian juga ikut pergi meninggalkan mereka berdua begitu saja. Semua mata memandang dengan senyum mengejek ke arah Rina dan Hana yang di tinggalkan oleh ketiga pria tampan begitu saja.


'Sial.' Itulah umpatan yang di gumamkan oleh Hana dan Rina di dalam hati mereka berdua.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.