
*** S. H. Hotel***
Diana dan Kevin segera membawa sang putra ke rumah sakit seperti saran Cella kepada mereka. Ada sebuah kecurigaan di balik perkataan Cella, dan itu akan terbukti setelah pemeriksaan akurat dengan beberapa alat kesehatan yang ada di rumah sakit selesai di lakukan.
Cella kini sudah berada di dalam kamarnya, ia yang basah kuyup harus segera mandi dan mengganti pakaian yang di gunakan jika tidak ingin masuk angin. Walaupun ia seorang dokter yang cukup jenius, jika tidak hati hati ia pun bisa sakit selayaknya manusia biasa.
Cella juga sangat yakin jika sebentar lagi dokter yang tengah menangani putra Diana akan menghunginya dengan segera. Semoga putra Diana tidak memiliki penyakit yang cukup meresahkan kedua orang tuanya. Kecurigaan Cella belum tentu benar, tetapi jika itu benar sulit untuk seorang anak berumur 4 tahun bertahan dengan sakitnya tersebut.
Cella duduk dengan tenang pada kursi balkon kamar hotelnya, sore yang cukup tenang dengan suasana cerah yang berawan putih. Cella hanya sendiri di kamar, sedangkan Hana belum kembali dan ia tidak peduli akan hal itu.
Beberapa saat kemudian terdengar suara dering ponselnya yang menandakan sebuah panggilan masuk dari seseorang. Nomer baru dan dia sangat yakin itu pasti dari pihak rumah sakit.
"Hallo, selamat sore…!!" Sapa Cella dengan nada yang terdengar sopan.
"Hallo, dengan dokter Princella Johanes." Ucap penelpon dari seberang.
"Iya dengan saya sendiri, ada yang bisa saya bantu?" Tanya balik Cella.
"Maaf dokter, saya dokter spesialis anak dari krumah sakit Hamilton. Bisa anda jelaskan kecurigaan yang anda tuliskan pada kertas yang anda titipkan kepada orang tua pasien?" Tanya sang dokter dengan suara terdengar serius.
Tidak mungkin Cella memberitahukan dokter tersebut, jika obat yang ia suntikkan adalah obat racikannya sendiri. Ini masih harus menjadi salah satu rahasianya, jika ia bisa membuat obat sendiri dan juga ahli meracik sebuah racun serta penawarnya. Untungnya Cella membuat sebuah obat penghilang rasa nyeri yang cukup bagus serta aman bagi semua penyakit dan juga umur.
"Saya hanya memberikannya obat penghilang rasa nyeri, dan sebuah alat bantu pernafasan yang telah saya berikan obat untuk melegakan pernafasannya." Jawab Cella dengan sikap tenangnya.
"Anda juga menulis sebuah kecurigaan tentang penyakit putra tuan Kevin. Apakah anda bisa menjelaskan ini dokter ?" Tanyanya.
Cella berpikir sejenak, mengapa dokter itu bertanya seperti itu? Apakah kecurigaannya benar?
"Anak itu terlihat kesusahan untuk bernafas, mulutnya sedikit membiru, pada wajahnya terlihat sedikit meringis saat dia berusaha untuk bernafas, karena dia lemah habis tenggelam di dalam kolam hari ini, anak itu tidak dapat menangis ataupun berbicara. Saya mencurigai sesuatu terjadi pada paru-parunya, seperti pembengkakan dan flek." Balas Cella apa yang menjadi kecurigaannya.
Dokter tersebut diam sejenak, lalu menjawab.
"Dokter, bisakah anda datang ke rumah sakit Hamilton sebentar hari ini."
"Ada apa dokter? Apakah kecurigaan saya salah? Maaf jika itu membuat anda marah."
"Tidak. Bukan itu maksud saya, dokter Princella. Dugaan yang anda curigai adalah benar. Ada pembengkakan dan terdapat flek pada paru-parunya. Saya hanya ingin anda melihat hasilnya, sepertinya anda salah satu dokter yang tahu cepat dengan ciri-ciri penyakit ini tanpa harus melakukan periksaan menggunakan alat kesehatan."
Cella terdiam, sungguh sangat kasihan anak itu. Bagaimana bisa kedua orang tuanya tidak tahu? Jika paru-paru anak mereka bermasalah. Cella tidak tahu penyakit paru-paru anak itu adalah sebuah penyakit bawaan sejak di lahirkan atau hanya gejala baru baru ini saja. Cella perlu memastikannya.
"Baiklah dokter, saya akan datang ke sana. Maaf bisa share lokasi, saya baru di negara ini. Baru saja tiba dari negara B." Balasnya jujur, agar orang tidak heran jika dirinya tidak tahu lokasi rumah sakit Hamilton.
"Tentu dokter. Saya akan share lokasi nya. Saya tunggu kedatangan dokter, terima kasih." Ucapnya.
"sama sama." Balas Cella. Sambungan telepon
mereka pun terputus.
Dokter itu segera mengirimkan lokasi yang akan di tuju oleh Cella. Cella tertegun pada nama rumah sakit tersebut, sangat tidak asing.
"Rumah sakit Hamilton." Ucap Cella membaca nama rumah sakit yang tertera pada map google.
"Apa rumah sakit ini milik keluarga Hamilton yang pernah aku kenal?"
"Sepertinya mungkin saja milik keluarga Hamilton, salah satu keluarga terpandang dan kaya raya. Tidak menutup kemungkinan keluarga itu bisa memiliki sebuah rumah sakit besar di negara ini." Gumam Cella pelan.
Cella dengan cepat mengganti pakaiannya, tidak lupa ia pada penyamarannya yang terlihat biasa saja. Dia tampil menggunakan setelan casual santai dengan sebuah kemeja putih dan celana Levis besar, di padukan dengan sepasang sepatu kets putih. Tidak lupa rambut panjangnya hanya di ikat kuncir kuda agar rapi sedikit, tentunya tanpa makeup sama sekali. Sungguh tidak mencerminkan seorang dokter.
Dengan berbekal sebuah tas ransel usang, semua perlengkapan yang ia perlukan ada di dalam tas tersebut. Tanpa menunggu ataupun meminta izin pada Hana, Cella keluar dari hotel dan menuju ke rumah sakit Hamilton dengan menggunakan sebuah taksi.
Tidak sulit untuk supir taksi menuju ke rumah sakit Hamilton. Hanya membutuhkan beberapa menit saja, mereka pun sampai di sana. Cella segera keluar dari mobil dan berdiri tegak di depan loby rumah sakit yang sangat besar dan terlihat mewah.
"Rumah sakit Hamilton." Gumam Cella pelan
Dia pun masuk dengan sebuah perasaan yang cukup tidak nyaman, namun dapat ia tepis demi seorang pasien anak dari temannya di masa bangku SMP dulu. Diana dan Kevin adalah satu teman sekolah, namun hanya Diana yang satu kelas dengannya, sedangkan Kevin satu kelas dengan anak laki-laki yang pernah memberikan sebuah luka hanya karena kesalah pahaman di antara mereka.
Cella menepis semu perasaan itu, kini dia adalah seorang dokter untuk seorang pasien. Bukan waktunya untuk bernostalgia ke masa lalu. Itu bisa ia lakukan setelah urusannya selesai.
"Selamat sore dokter Princella. Saya dokter Antoni, dokter spesialis bedah anak." Sapa ramah dokter pria paruh baya yang terlihat masih tampan pada usianya yang tidak lagi muda.
"Selamat siang dokter Antoni" Balas Cella ramah sembari menyambut uluran tangan dokter tersebut.
"Selamat datang." Basa basinya. Cella hanya tersenyum untuk menanggapi dokter yang terlihat ramah dan mudah tersenyum.
"Anda begitu sangat muda, namun memiliki pengamatan yang sangat bagus dan tepat. Sungguh di luar perkiraan saya, saya pikir anda adalah dokter yang sudah sebaya dengan saya." Ungkapnya. Cella hanya tersenyum tipis untuk menanggapinya.
"Maaf dokter, bisa saya melihat hasil yang ingin anda tunjukkan kepada saya." Ucap Cella langsung pada intinya.
"Tentu saja, dokter Princella."
"Panggil dokter Cella saja, dokter Antoni." Potong Cella, karena lebih nyaman jika nama kecilnya yang di panggil.
"Baik dokter Cella."
"Mari masuk, hasilnya ada di dalam. Pasien juga sudah ada pada penanganan saya saat ini." Ucapnya membimbing Cella masuk ke dalam ruang ICU.
Sebelumnya Cella telah di berikan sebuah jubah baju khusus untuk ruangan ICU, tangannya di berikan cairan steril agar menghilangkan segala kuman dan bakteri saat ingin menyentuh pasien.
Cella bertemu kembali dengan Diana dan Kevin. Putra mereka tertidur di atas ranjang dengan selang cairan infus pada lengan kanannya. Sebuah masker pernapasan menutupi hidung dan mulut anak laki-laki itu.
Tanpa saling bertegur sapa, Cella hanya diam menerima hasil dan rekam medis yang di berikan kepada Cella. Sebenarnya ini salah, dia bukan dokter di rumah sakit itu, dan tidak berhak mengetahui rekam medis yang bukan pasiennya.
Tanpa membuka rekam medis itu, Cella melihat ke arah dokter Antoni.
"Maaf dokter Antoni, tidak seharusnya saya melihat rekam medis yang bukan hak saya." Ucap Cella merasa tidak nyaman.
"Saya dan orang tua anak ini sudah memberikan izin kepada anda untuk melihatnya. Saya harap anda memberikan sebuah jawaban untuk ini." Ucap dokter Antoni.
Cella melihat ke arah Diana dan juga Kevin yang berdiri di samping ranjang sang putra. Diana hanya menganggukkan kepalanya tanda membenarkan perkataan dokter Antoni, matanya yang sembab menandakan jika ia baru saja selesai menangis. Apakah ada sesuatu yang serius terjadi pada putra mereka?
Cella menghela nafasnya perlahan, kemudian membuka rekam medis milik Kenzo dan mempelajari semuanya. Cella cukup terkejut melihat hasil yang menjadi kecurigaannya saat melihat Kenzo tadi sore.
Sesekali mata Cella melihat ke arah dokter Antoni, lalu kembali membaca rekam medis yang ada di tangannya. Ini sungguh sangat serius, bagaimana bisa paru-paru seorang anak memiliki begitu banyak flek berbintik-bintik, namun untungnya pembengkakannya tidak terlalu besar.
Tidak, pembengkakan pada paru-parunya dapat menyusut karena pengaruh obat penghilang rasa nyeri yang di suntikkan oleh Cella tadi. Cukup membantu mengurangi rasa sakit dan pembengkakan yang menyiksa anak tersebut.
"Dokter Antoni, sepertinya anak ini membutuhkan dokter ahli penyakit dalam dan paru. Ini tidak bisa di biarkan terlalu lama, takutnya bintik-bintik ini akan semakin membesar dan menjadi satu." Ucap Cella memberikan sebuah saran.
Dokter Antoni melihat ke arah Diana dan Kevin, seakan mereka berbicara melalui tatapan mata mereka. Cella hanya mengikuti sekilas pandang mata mereka.
"Tentu, itu juga yang saya sarankan kepada kedua orang tua anak ini." Ucapnya, namun tatapan matanya melihat ke arah Kevin dan Diana.
"Namun sayangnya, di rumah sakit ini belum ada dokter spesialis paru yang bisa menangani penyakit ini, dokter Cella." Balasnya.
"Bagaimana mungkin, dokter…?" Tanya heran Cella.
"Usianya terlalu kecil untuk melakukan sebuah pembedahan pada paru-parunya, 3 dokter spesialis paru kami tidak berani mengambil resiko tersebut. Ini cukup sulit mereka lakukan, dan mereka menyarankan membawanya ke luar negeri yang memiliki dokter spesialis paru yang berani menangani kasus ini."
Dokter itu benar, Kenzo terlalu kecil untuk melakukan tindakan operasi pada paru-parunya, dan hasilnya pun tidak dapat di prediksi akan bagus, mengingat cukup banyaknya bintik-bintik pada paru-parunya.
Diana terisak mendengar penjelasan dokter Antoni tentang putranya. Kevin dengan setia memeluknya dari arah samping, terlihat hangat, harmonis dan saling mendukung serta menjaga.
Cella cukup kasihan melihat kondisi Kenzo, dia terlalu kecil untuk mendapatkan penyakit itu. Cella tidak tega dan ingin melakukan sesuatu sebaik mungkin untuk membantu anak laki-laki yang cukup tampan, ketampanan yang ia dapatkan dari gen mama dan papanya yang juga cantik dan tampan.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.