
***Mansion Keluarga Audison***
Cella masih melihat intens uluran tangan tuan Mark Audison yang ada di hadapannya. Cella sama sekali tidak ingin menyambut uluran tangan papa tirinya itu.
Suasana menjadi sedikit canggung dan mencekam. Mama kandung Cella yang berdiri di samping Cella, merasa tidak nyaman akan situasi tersebut.
"Cella, sayang…bersikap sopanlah, tidak baik seperti itu kepada orang yang lebih tua." Ucap tegur mamanya secara halus.
Nyonya Audison masih mengingat jelas jika Cella tidak begitu menyukai suami keduanya itu. Sejak dulu mereka tidak pernah dekat, dan Cella beberapa tahun ini berada jauh dari mereka. Tidak menutup kemungkinan untuk keduanya masih terlihat kaku.
Cella sadar jika sikapnya tidaklah baik terhadap orang yang lebih tua, namun ia mengingat jika tuan Audison menginginkan dirinya kembali hanya untuk di jual dan di jadikan jaminan pelunas hutang keluarga Audison.
"Kabar ku sangat baik, tuan Audison." Balas Cella sembari menyambut uluran tangan tuan Audison.
Mereka saling menjabat sejenak, karena Cella dengan cepat menarik kembali tangannya. Ia merasa jijik menjabat tangan kotor yang di miliki oleh papa tirinya itu.
Sedangkan tuan Audison merasa jika Cella tidak pernah menganggap baik dirinya. Apakah dia peduli? Tentu saja tidak, tuan Audison hanya ingin memanfaatkan kedatangan putri tirinya tersebut, untuk menyelamatkan perusahaannya yang berada di ambang kebangkrutan dan juga menyelamatkan putri kandungnya, agar tidak jatuh pada seorang CEO tua bangka yang menjadi kolega terbesarnya selain Sean Hamilton.
Masih lekat dalam ingatan tuan Audison, jika dia begitu banyak memiliki hutang karena masalah keuangan perusahaan yang sudah salah jalan. CEO tua bangka yang begitu tergila-gila pada Hana putrinya, tentu saja tuan Audison tidak ingin menyerahkan Hana hanya untuk membayar hutangnya.
Sedangkan hutangnya pada Sean Hamilton, pria tampan dan kaya Raya itu menolak keras Hana yang ingin di berikan kepadanya sebagai jaminan. Pria sukses itu malah meminta Cella sebagai jaminan hutang itu. Sampai detik ini tuan Audison tidak mengerti maksud dari Sean Hamilton yang menginginkan Cella.
Dengan terpaksa tuan Audison menyetujuinya, agar semua berjalan dengan lancar. Hutangnya pada perusahaan CEO tua bangka akan lunas sekaligus putrinya Hana bisa lepas dari jerat pria tua itu. Bagi tuan Audison itu sudah cukup baik.
Ia akan mencari jalan lain untuk menjadikan Sean Hamilton sebagai menantunya, dia akan menggunakan semua cara agar Sean Hamilton dan putrinya Hana bisa bersama. Itulah janji tuan Audison kepada Hana yang begitu mencintai seorang Sean Hamilton yang selalu angkuh dan dingin tidak tersentuh oleh siapapun?
"Ma…antarkan Cella ke kamarnya. Dia pasti sudah lelah karena perjalanan yang cukup jauh." Ucap tuan Audison sembari duduk pada sofa tunggal.
"Baik pa…" Balas nyonya Audison patuh pada perintah suaminya.
Cella melihat ke arah mamanya yang sangat patuh pada suaminya itu, mamanya tidak banyak berubah dari segi sikap. Cella tidak suka.
"Tuan. Apakah tidak ada yang akan anda bicarakan padaku?" Tiba-tiba Cella bertanya, karena dia tidak ingin menahan lebih lama masalah yang tadi pagi ia dapatkan.
Sedangkan tuan Audison yang tidak tahu sama sekali pertemuan Cella dan Sean Hamilton. Mengerutkan keningnya tidak mengerti akan apa yang Cella maksudkan?
"Apa maksud mu?" Tanya balik tuan Audison menatap intens ke arah Cella.
Cella menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, ia berusaha mengatur aliran nafasnya.
"Aku sudah bertemu dengan Sean Hamilton. Apa maksud anda dengan kontrak jaminan yang menyatakan jika akulah jaminan anda untuk melunasi semua hutang perusahaan anda." Ungkap Cella tanpa ingin menutupi apapun.
Nyonya Audison cukup terkejut akan apa yang di katakan oleh Cella, karena sejatinya ia tidak tahu menahu tentang kontrak perjanjian yang di maksudkan oleh Cella.
Tuan Audison tahu arah kemana pembicaraan Cella, dia cukup tenang untuk menyikapi semuanya.
"Maafkan papa Cella…" Ucap tuan Audison dengan lembut, namun terputus karena penolakan dari Cella yang cukup membuat mereka terkejut.
"Kau bukan papa ku." Balas cepat dan tegas Cella untuk menolak apa yang di ucapkan oleh tuan Audison.
Tuan Audison masih berusaha tenang, dia hanya ingin menggunakan istrinya yang lugu untuk meluluhkan hati dan keras kepala Cella. Tuan Audison tahu jika Cella tidak bisa melihat mama kandungnya itu tersiksa atau berada di dalam masalah.
"Maaf jika itu mengganggumu." Ucapnya masih tenang.
"Apa maksudnya ini? Kontrak apa? jaminan apa?" Kini giliran nyonya Audison yang mengeluarkan pendapatnya.
Kedua orang yang terlibat perseteruan itu melihat ke arah nyonya Audison. Cella melihat sang mama sangat terkejut, itu artinya mamanya tidak tahu apapun mengenai kontrak jaminan yang di buat oleh suaminya.
Tuan Audison bangkit dari duduknya, dan melangkah mendekati sang istri. Pria tua itu memeluk istrinya sembari memasang wajah sedih dan menyesalnya.
"Maafkan aku ma…Papa tidak memiliki cara lain. Perusahaan kita dalam masalah serius dan berada di ambang kebangkrutan. Hanya tuan Sean Hamilton yang bisa membantu kita, dan dia mengajukan kontrak jaminan itu. Tuan Sean Hamilton sendiri yang langsung meminta Cella sebagai jaminannya. Bukan papa yang menentukannya. Awalnya papa ingin mengajukan Hana sebagai jaminannya, tetapi tuan Sean tidak mau. Papa tidak ada pilihan lain lagi, tolong mengertilah." Ungkap tuan Audison menjelaskan panjang lebar apa yang terjadi.
Tentu saja ia merahasiakan, jika dia juga ingin menyelamatkan Hana dari CEO tua bangka yang menginginkan Hana menjadi istri ke 4 nya.
Cella cukup mengerti penjelasan tuan Audison, tentu tidak mudah untuk Cella percaya semua apa yang tuan Audison ucapkan.
"Tolong ma…papa juga tidak rela dan sedih karena Cella akan menjadi korban di sini. Tapi tolong papa, untuk menyelamatkan perusahaan kita, ini demi Celo putra kita. Jika perusahaan itu bangkrut dan hilang, Celo tidak miliki apapun di masa depan." Bujuk tuan Audison merayu sang istri yang mudah sekali untuk di bujuk dengan rayuan.
Nyonya Audison terdiam dan berusaha mencerna apa yang di katakan oleh suaminya itu. Apa yang di ucapkan oleh suaminya adalah sebuah kebenaran. Jika perusahaan yang menjadi mata pencarian satu-satunya keluarga Audison menghilang, apa yang akan terjadi pada hidup mereka di masa depan. Nyonya Audison setuju dan mendukung sang suami yang menurutnya masuk akal. Tanpa ia memikirkan nasib sang putri yang di jadikan korban mereka.
"Sayang…Maafkan mama dan papa… Tolong lah kami, kami tidak ada pilihan lainnya lagi. Setidaknya pikirkan adikmu Celo yang tidak bersalah." Bujuk nyonya Audison sembari menggenggam erat kedua tangan Cella.
Cella masih diam. Dia sudah terjebak, apakah bisa dia menolak sang mama yang begitu ia kasihi dan sayangi. Apakah bisa Cella melihat sang mama masuk ke dalam penjara seperti ancaman yang di katakan oleh Sean tadi kepadanya.
"Mama…mama rela melihat aku menjadi korban dari keserakahan mereka…" Ungkap Cella dengan nada sedihnya. Ia tidak pernah menyangka jika sang mama adalah salah satu yang ikut menyakitinya. Namun tidak dapat Cella balas atau sakiti seperti musuh-musuhnya yang lain.
Air mata jatuh begitu saja pada pipi putih sang mama, sebenarnya ia berada pada dua pilihan yang sulit. Di antara putri tertuanya dan putra kecilnya. Keduanya tidak bisa ia abaikan begitu saja, tetapi Cella yang di anggap sudah dewasa bisa mengerti keadaan mereka.
"Maafkan mama sayang. Mama bersalah dan selalu menempatkanmu pada masalah mama, maafkan mama…!!" Ucap nyonya Audison menangis hingga menundukkan kepalanya.
Cella tahu jika pilihan mamanya sungguh berat saat ini, bagaimana Cella menyikapi. Ingin rasanya ia yang membeli perusahaan Audison agar berada di dalam kendalinya. Tetapi itu tidak dapat ia lakukan begitu saja.
Tiba-tiba teringat kembali Cella pada ucapan tuan Audison yang mengatakan, jika Sean Hamilton lah yang memilih dirinya sebagai jaminan kontrak tersebut.
'Apakah Sean Hamilton memiliki rencana lain dengan memilihku? Apakah ia ingin balas dendam padaku akan sakit hatinya dulu, atau dia hanya ingin mempermainkan aku saja?' Gumam Cella di dalam hatinya, begitu banyak pertanyaan dan dugaannya tentang Sean Hamilton.
'Baiklah, jika ini yang kau inginkan Sean Hamilton. Aku ikuti permainan mu, aku ingin melihat sampai di mana kemampuan mu untuk mempermainkan aku. Akan aku buktikan jika Princella Johanes bukanlah wanita sembarangan yang bisa di tindas semaumu.' Gumamnya lagi.
"Cella…!!" Panggil sang mama sembari mengguncangkan tubuh Cella yang masih fokus pada pemikirannya sendiri.
"Iya ma…?!" Balas Cella dengan nada yang terdengar lemah.
"Jika kamu tidak ingin melakukannya, jangan lakukan. Mama tidak ingin kamu ada dalam masalah nak…" Ucap lembut sang mama.
Bagaimana juga nyonya Audison adalah seorang ibu yang sangat menyayangi anak anaknya. Tidak akan bisa melihat semua anaknya menderita.
Sedangkan tuan Audison menahan gejolak dalam hatinya, mendengarkan sikap luluh sang istri agar Cella tidak melakukan hal yang tidak ia inginkan.
Cella menatap mata sang mama dengan dalam.
"Apa mama dan Celo bahagia selama ini?" Tiba-tiba Cella bertanya.
"I…Iya tentu saja…" Jawab gugup nyonya Audison karena mendapatkan pertanyaan seperti itu.
"Mama bahagia, dan Celo juga bahagia. Jadi mama harap kamu juga bahagia." Ucap nyonya Audison mencakup kedua pipi Cella.
Cella membalas memegangi kedua telapak tangan mamanya. Lalu berkata.
"Cella akan melakukan, apa yang bisa membuat mama aman dan bahagia." Balas Cella menekan setiap kata-katanya, tetapi tatapan matanya tajam mengarah pada tuan Audison yang ada di belakang sang mama.
Tuan Audison menatap dingin dan tajam ke arah Cella, karena dia tahu sorot mata Cella begitu tajam penuh akan aura yang tidak biasa.
"Apakah benar seperti itu, nak…?" Tanya sang mama tidak percaya.
"Iya." Angguk Cella membenarkan.
"Terima kasih sayang, mama sangat menyayangimu." Balas nyonya Audison sembari memeluk hangat dan sayang tubuh Cella. Ia begitu merasa beruntung memiliki seorang putri yang selalu dan bisa pengertian terhadap keluarganya.
Cella meresapi pelukan hangat dan sayang sang mama yang sudah lama tidak ia rasakan. Masih sama sehangat dulu.
"Baiklah kalau begitu, mama antar kamu ke kamar sekarang." Ucap nyonya Audison setelah melepaskan pelukan mereka.
"Tidak ma…Tunggu dulu, aku setuju melakukan kontrak jaminan itu dengan satu syarat." Ucapnya dengan melihat ke arah nyonya dan tuan Audison secara bergantian.
Nyonya dan tuan Audison saling memandang, mereka heran akan negosiasi yang di lakukan oleh Cella. Sebenarnya apa yang Cella inginkan?
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.