I'M Princella.

I'M Princella.
17. Kenzo Siuman.


***Rumah Sakit Hamilton***


Keputusan dan kesepakatan telah di ambil. Cella cukup terkesan akan jiwa bisnis Sean, pria itu cukup teliti dan pandai membaca peluang yang tidak akan merugikan dirinya.


Sean ingin melakukan kerja sama antara dua rumah sakit secara legal, agar aman di kemudian hari.


Cella yang juga memiliki jiwa bisnis, pasti akan melakukan hal yang sama seperti apa Sean lakukan.


Sean menginginkan sebuah perjanjian yang legal di antara kerja sama dua rumah sakit, agar semuanya aman terkendali di masa depan hingga Kenzo sembuh dari penyakitnya.


Sean menginginkan tanda tangan dan stempel resmi dari pemilik klinik Prince Healty langsung. Walaupun Sean tahu jika jati diri dari dokter jenius sangat misterius serta tidak banyak orang ketahui. Pria itu tidak mau tahu.


Namun Cella tentunya telah mengatasi hal ini sebelumnya. Pemilik klinik lain yang akan menggantikan posisi Cella tentunya telah di siapkan, mereka akan datang bersama dengan dokter Samuel Choi untuk menyelesaikan semuanya.


Jika Cella tidak memikirkan keselamatan Kenzo dan perasaan Diana teman baiknya dulu. Cella tidak sudi hingga turun tangan sampai seperti ini.


'Dasar pria licik.' Gumam Cella di dalam benaknya setelah keluar dari ruang kerja Sean.


Cella kembali lagi ke ruang perawatan Kenzo, mulai sekarang dia sudah resmi menjadi dokter di rumah sakit yang Sean miliki.


Sedangkan Sean dan Kevin masih berada di dalam ruang kerja tersebut.


"Ada apa di antara kalian berdua?" Tanya Kevin pada sepupunya itu.


Sean melihat ke arah Kevin.


"Tuan Audison berulah lagi." Balas Sean, Kevin tahu bagaimana liciknya pria tua itu sejak dulu.


"Tua bangka itu memiliki hutang pada beberapa perusahaan, termasuk pada perusahaan ku." Kembali Sean berucap.


Kevin masih setia untuk diam menyimak dan mengerti situasi yang akan Sean katakan.


"Pria tua itu mengajukan perjanjian pelunasan hutang dengan cara menyerahkan putrinya sebagai tumbal." Ungkap Sean. Kevin cukup terkejut.


"Maksudmu menyerahkan Rihana Audison?" Tanya Kevin.


"Iya." Sean membenarkan.


"Lalu kau terima…"


"Tentu saja tidak. Aku tahu ini adalah salah satu rencana liciknya, agar dapat mendekatkan putrinya itu padaku." Ucap Sean.


"Tentu saja aku lebih pintar untuk melakukan negosiasi yang menurutku lebih aman dan baik bagiku." Kata Sean kembali.


"Maksudmu?"


"Aku meminta Princella Johannes sebagai jaminan semua hutangnya, dan mulai hari ini Cella sudah resmi menjadi bawahanku." Terlihat senyum kemenangan di wajah Sean.


Kevin tentunya tahu di balik semua yang Sean inginkan, satu yang pasti. Sean hanya ingin mendapatkan Cella kembali seperti dulu sewaktu mereka remaja.


"Sebenarnya, kau memang menginginkan Cella menjadi milikmu." Celetuk Kevin dengan raut wajah datarnya.


Kevin tahu segalanya tentang Sean. Jalan kehidupan, cerita hidupnya dan juga bagaimana perasaan pria dingin itu selama beberapa tahun ini. Mereka adalah sepupu yang cukup dekat.


Sean terdiam akan perkataan Kevin.


"Setidaknya, bukan Hana. Cella lebih baik dari pada gadis licik itu."


Kevin juga tahu dan juga setuju akan perkataan Sean.


"Tentu. Cella jauh lebih baik." Balas Kevin setuju, tetapi wajahnya seakan mengejek sepupunya tersebut.


"Apa maksud dari raut wajahmu itu?" Tanya Sean curiga akan mimik wajah Kevin yang terlihat berbeda.


"Setidaknya, mulai hari ini hatimu yang dingin dan membeku itu. Akan mulai mencair dan hangat. Itu lebih penting." Balas Kevin sembari bangkit dari duduknya.


"Apa maksudmu?" Tanya Sean tidak mengerti.


"Kau akan tahu jika waktunya sudah tiba." Kevin melangkah untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Kevin…aku belum selesai bicara. Jawab pertanyaan ku, apa maksudmu?" Sean yang merasa penasaran akan maksud perkataan Kevin bangkit dari duduknya.


"Nikmati hari harimu. Tapi ingat satu hal…!" Ucapnya terjeda, Kevin berdiri di ambang pintu yang sudah terbuka dan berdiri menghadap ke arah Sean.


"Setidaknya jangan menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja, jika kau tidak ingin menyesal di kemudian hari. Semoga perjuangan mu akan mendatangkan kebahagiaan yang sudah lama kamu tunggu-tunggu. Inilah yang kau pilih sendiri." Ucapnya kemudian Kevin berlalu pergi dari tempat itu.


Sean terdiam dan mencerna dengan baik semua yang sepupunya itu katakan. Setidaknya satu hal yang Sean tangkap dari maksud perkataan Kevin. Jujur pada perasaan hatinya yang sebenarnya. Jangan pernah merusak lagi sebuah hati untuk sekarang.


"Setidaknya aku ingin memperbaiki semua kesalahan yang pernah aku lakukan. Kesalahan pahaman itu harus di luruskan." Gumamnya.


Sean melangkah untuk keluar dari ruang kerjanya. Dia harus kembali ke kantor, sebelumnya dia ingin melihat Cella yang sedang menemani Diana dan Kenzo di ruang ICU.


Pandangan mata dan wajahnya begitu terlihat datar. Setelah puas melihat apa yang ingin ia lihat, Sean pergi dan keluar dari rumah sakit tersebut.


...--------------------------------...


Satu minggu telah berlalu, kondisi Kenzo mulai stabil berkat pengawasan Cella secara intensif. Bahkan gadis itu tidak pulang sama sekali. Dia yang sudah di berikan ruangan khusus, membawa semua yang ia butuhkan untuk menangani Kenzo.


Dari kemarin Kenzo telah siuman dan mampu membuka matanya kembali. Melihat kedua orang tuanya yang selalu setia berada di sisinya, dan semua keluarga yang kini datang berkunjung melihat kondisinya.


"Mama…!" Panggil Kenzo terdengar begitu lemah melihat ke arah mamanya, Diana.


"Iya sayang, ada apa? Apa ada yang sakit" Begitu lembut belaian Diana pada pucuk kepala putranya. Dia bahagia melihat Kenzo membaik dan membuka matanya kembali.


"Tidak ma…" Gelengnya lemah.


"Apa Kenzo masih lama di sini?" Tanyanya dengan tatapan matanya yang sedih.


Diana tahu jika putranya tersebut sudah tidak betah berada di rumah sakit.


"Tidak sayang. Kenzo akan pulang dalam beberapa hari lagi. Kenzo harus benar benar tidak merasakan sakitnya lagi, baru bisa pulang." Begitu lembut Diana membujuk putranya tersebut.


"Sayang…kita pasti akan pulang, tapi setelah Kenzo sembuh ya nak…!"


"Kapan sembuhnya mama…?"


Diana terdiam, begitu juga dengan semua yang hadir di dalam ruangan tersebut. Tidak ada yang bisa memberikan sebuah kepastian.


"Satu minggu lagi." Jawab Cella dari ambang pintu.


Semua mata melihat ke arah pintu, dimana Cella datang bersama dengan dokter Antoni.


Cella masuk sembari tersenyum ramah ke arah keluarga Kevin yang hadir di sana. Dokter cantik itu mendekati Kenzo yang sedang merajuk pada sang mama.


"Kenzo akan pulang satu minggu lagi. Tapi dengan satu syarat." Ucap Cella.


Kenzo melihat intens ke arah Cella. Kemudian dia melihat ke arah sang mama sejenak yang hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


"satu syarat…apa itu dokter…?" Tanya Kenzo terdengar begitu lemah.


"Harus mengikuti semua yang dokter katakan. Apapun yang dokter berikan? Semua itu baik untuk Kenzo, apa bisa di terima?"Tanya balik Cella.


Kenzo melihat ke arah sang mama yang segera menganggukkan kepalanya.


"Iya dokter. Kenzo mau... !"


"Anak yang pintar."


Cella tersenyum sembari mendekati Kenzo dan membantunya untuk menaikkan sedikit ranjang atas Kenzo. kini Kenzo berada pada posisi sedikit duduk dan dapat melihat semuanya dengan leluasa.


"Dokter Cella…apa itu tidak masalah?" Tanya dokter Antoni terlihat khawatir melihat tindakan Cella.


Cella melihat ke arah dokter Antoni dan tersenyum.


"Tidak masalah, duduk sejenak akan merilekskan tubuh dan pikirannya agar tidak terlalu tegang. Tapi tidak boleh terlalu lama dan harus dalam pengawasan dokter." Balas Cella membuat dokter Antoni tenang.


"Bagaimana Kenzo, apakah posisi ini sudah nyaman?" Tanya Cella kepada Kenzo.


"Iya dokter... nyaman seperti ini." Balasnya dengan tersenyum.


"Ini hadiah dariku untuk Kenzo yang sudah semakin kuat dan sehat." Kata Cella sembari memberikan dua bungkus permen kepada Kenzo.


Kenzo melihat ke arah permen tersebut. Sebelum mengambil permennya, Kenzo melihat ke arah sang mama ingin meminta ijin. Diana percaya kepada Cella, jika apa yang ia berikan kepada putranya tidak akan berbahaya.


"Permen ini akan membuat Kenzo tambah kuat dan cepat sembuh." Ucap Cella kembali, melihat Kenzo ragu untuk mengambilnya.


Diana meraih permen tersebut dan membukakannya untuk Kenzo, lalu memasukkan ke dalam mulut Kenzo. Tentu saja bocah tampan itu dengan senang hati menerimanya dan mulai menghisap manisnya permen tersebut.


"Bagaimana?" Tanya Cella kepada Kenzo.


"Permennya enak, manis rasa susu strawberry." Balas Kenzo terlihat senang.


Memancing senyum dari semua orang yang hadir di sana, melihat senyum Kenzo begitu bahagia.


"Satu permen lagi, di makan setelah empat jam, ok…!"


"Ok dokter…!" Balas Kenzo terlihat senang sembari mengacungkan jempol kecilnya.


"Anak pintar. Terima kasih Kenzo sudah menjadi anak yang kuat." Ungkap Cella.


Membuat semua yang mendengarkan terharu. Sebuah ungkap semangat untuk Kenzo agar terus berjuang untuk sembuh dari penyakitnya.


"Terima kasih dokter cantik." Balas Kenzo.


"Baiklah…Kenzo harus banyak istirahat. Satu jam lagi harus segera tidur supaya cepat sembuh. Ok anak tampan…!"


"Ok dokter cantik…!" Balas Kenzo terlihat bahagia.


Semua ikut bahagia. Cella keluar dari ruangan tersebut setelah berpamitan, tentunya dokter Antoni dan Kevin menemaninya juga. Hari ini adalah kedatangan dokter Samuel Choi dan si pemilik klinik yang sedang menyamar.


"Dokter Cella…apakah boleh saya bertanya sesuatu…?" Tanya dokter Antoni apa yang mengganjal hatinya.


"Silahkan…apa itu dokter Antoni?" Tanya Cella.


"Permen tadi…apakah tidak apa apa dengan kondisi Kenzo sekarang." Tanya dokter Antoni penasaran karena Cella berani memberikan permen kepada Kenzo.


"Itu bukan permen sungguhan. Itu obat yang berbentuk permen, khusus di buat oleh dokter jenius untuk Kenzo. Jadi aman dan dapat membantu menghambat pengembangan flek pada paru parunya, juga menstabilkan stamina tubuhnya sampai siap untuk operasi." Balas Cella memberikan sebuah jawaban yang memenangkan bagi dokter Antoni dan juga Kevin yang ada di sana juga.


"Maaf dokter, saya hanya khawatir jika akan berdampak pada Kenzo." Kata dokter Antoni terlihat menyesal karena kekhawatirannya.


Cella tersenyum dan dapat mengerti.


"Tidak apa apa dokter Antoni." Balas Cella.


"Kenzo anak kecil yang begitu rapuh. Terkadang suasana rumah sakit akan membuat seorang anak tertekan, jadi kami hanya membuat suasana hatinya lebih baik. Salah satunya mengurangi rasa takutnya untuk minum obat. Bentuk permen mewakili agar anak tetap meminum obatnya dengan rutin, tanpa rasa takut." Penjelasan Cella.


"Anda benar dokter Cella. Dokter jenius anda memang benar benar cerdas dan memiliki perasaan yang sangat peka terhadap perasaan anak anak, sehingga memiliki pemikiran ide membuat sebuah obat dalam bentuk permen. Saya sangat terkesan."


Cella hanya tersenyum untuk menanggapi itu semua. Sedangkan Kevin hanya diam, sebenarnya dia mencurigai Cella adalah dokter jenius yang mereka maksudkan, tapi Cella sedang menyembunyikan jati dirinya.


Mereka terus melangkah menuju ruang meeting yang ada di lantai paling atas rumah sakit Hamilton. Di sana tempat pertemuan dan proses tanda tangan perjanjian di antara dua rumah sakit yang akan bekerja sama.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.,