
***Rumah Sakit Hamilton***
Tindakan operasi pertama Kenzo telah selesai di lakukan. Tentu saja yang melakukan operasi tersebut adalah Cella dan juga Aiko yang bekerja sama di ruang operasi.
Pengawasan intensif di lakukan oleh mereka berdua secara bergilir. Semua berjalan dengan baik, kondisi Kenzo dapat menerima baik pengobatannya.
Mereka terkesan akan niat kuat Kenzo yang ingin sembuh dari penyakitnya. Baik Cella dan Aiko senang menangani pasien anak sekuat Kenzo, anak yang tidak mudah putus asa dan terus berjuang melawan semua rasa sakitnya.
Tiga hari telah berlalu, kondisi Kenzo semakin membaik. Bahkan anak itu sudah siuman dan dapat menggerakkan perlahan tubuhnya. Tentu saja Cella dan Aiko senang akan semangat Kenzo tersebut.
Di sinilah mereka berdiri berdua. Di balkon lantai lima rumah sakit. Melihat pemandangan ibu kota di siang hari, sembari menikmati kopi hangat pada tangan mereka masing-masing.
"Kota yang indah." Komentar Aiko sembari menyeruput kopinya.
Cella melihat sejenak ke arah sampingnya, di mana Aiko berdiri.
"Indah bagi mereka yang memiliki kenangan yang juga indah." Balas Cella berdiri santai pada pinggiran besi.
Aiko tersenyum lucu mendengar jawaban Cella.
"Itu artinya, kota ini tidak indah di mata mu. Kota ini begitu mengerikan untukmu." Katanya. Aiko tahu bagaimana perjalanan dan kisah dari sahabatnya itu.
Cella terdiam akan perkataan benar Aiko.
"Apa kau sudah menemukan jawaban yang kau cari?" Tanya Aiko sembari memasukkan satu tangannya ke dalam saku jubah dokternya.
"Belum. Bukan jawaban yang aku dapatkan. Tapi sebuah jebakan dari orang yang sama."
Aiko melihat ke arah Cella.
"Miris sekali hidupmu. Apa kau akan diam saja?"
Cella tersenyum mendengar pertanyaan sekaligus jawaban Aiko.
"Tentu saja tidak. Aku akan menikmatinya, untuk membuang kenangan buruk itu hingga tidak tersisa lagi." Balas Cella.
"Bagus. Itulah Cella yang aku kenal." Aiko terlihat senang mendengar tujuan baik Cella, yang tidak akan diam saja pada orang orang yang sudah berani mengusik gadis itu.
"Aku akan selalu mendukung mu." Ucap Aiko terdengar tulus.
Begitulah Aiko yang Cella kenal. Akan dingin dan arogan kepada mereka yang tidak gadis itu sukai. Tetapi akan hangat dan ringan tangan, untuk membantu sahabat dan orang orang yang memang pantas untuk ia bantu.
"Terima kasih." Balas Cella.
Tatapan keduanya bertemu saat saling melihat.
"Terima kasih juga, kau mau datang untuk membantu anak dari sahabat ku." Ucap Cella tulus dengan senyum yang ia tampilkan.
"Dia pasti memiliki arti yang penting untukmu. Bagaimana aku bisa mengabaikannya?"
Cella kembali tersenyum tulus sembari mengangguk-aggukkan kepalanya tanda membenarkan tebakan Aiko.
Diana adalah satu-satunya teman masa remaja yang baik kepadanya. Bahkan Diana selalu membantu Cella dulu di saat gadis itu sering kekurangan uang, karena uang yang ia dapatkan dari keluarga Audison hanya cukup untuk biaya jajannya saja.
Diana juga selalu sopan kepadanya, di saat anak anak konglomerat begitu angkuh dan sombong kepada mereka yang miskin. Diana berbeda, dia gadis yang cantik dan baik hati.
Tentu saja Cella akan membalas semua kebaikan Diana dulu, dengan berusaha menyembuhkan putranya Kenzo.
"Kenzo anak yang kuat." Komentar Aiko kembali melihat ke arah pemandangan ibu kota.
"Iya dia anak yang kuat untuk bertahan, demi kedua orang tuanya yang juga terus mendampinginya."
"Apa sampai saat ini, kau tidak memiliki cara untuk pengobatannya?"
"Masih aku usahakan."
"Takdir hidup manusia tidak ada yang tahu. Tuhan begitu adil menciptakan umatNya di dunia ini." Kata Aiko.
"Tuan Kevin Aldelaric adalah pengusaha muda yang sukses di dunia bisnis. Memiliki kekayaan yang melimpah dan kekuasaan yang tidak dapat di pandang sebelah mata. Tapi dia tunduk dan tidak berdaya terhadap penyakit putranya. Sungguh miris…!" Komentar Aiko apa yang ia lihat dan ketahui.
"Hidup itu adil atau tidak adil. Tergantung pada mereka yang menjalaninya." Balas Cella.
"Ya seperti dirimu. Kau memiliki segalanya, semuanya. Kekuasaan, kekuatan, kekayaan yang melimpah. Apa lagi yang ingin kau cari di dunia ini?" Tanya Aiko.
"Kau tahu apa yang aku cari dan inginkan."
"Tinggal menikah dan memiliki keluarga dengan pasangan mu itu, beres bukan. Itukan yang kau inginkan. Memiliki keluarga yang saling mencintai dan hangat. Mengapa kau mempersulit hidupmu?"
Aiko tahu segalanya tentang Cella.
"Tidak semudah itu. Pasangan, menikah, dan memiliki keluarga yang hangat. Apa semua itu mudah untuk di dapatkan? Seperti membalikkan telapak tangan."
"Setidaknya cari kekasih. Saling mengenal, dan menikah setelah sudah lama kalian berkencan. Mudah bukan…!"
Cella tertawa lucu mendengar nasehat sahabatnya itu.
"Coba kau contohkan padaku."
"Baik. Akan aku contohkan padamu, aku akan memiliki kekasih, berkencan dan menikah."
Cella lagi lagi tertawa akan lelucon sahabatnya.
"Baiklah, lakukan seperti yang kau rencanakan." Balas Cella menepuk bahu sahabatnya.
Dia pun segera berlalu meninggalkan Aiko yang terus memanggil namanya.
"Dasar wanita ini…!" Kesalnya karena Cella meninggalkannya begitu saja di sana.
Sementara Cella berada di dalam ruang perawatan Kenzo untuk melihat kondisi anak itu. Aiko berada di loby rumah sakit, karena melihat sebuah keributan di sana.
Aiko berdiri menyaksikan beberapa pria berjas hitam, mereka sedang memaksa seorang dokter untuk melakukan tindakan kepada seorang pria yang terluka. Namun sikap mereka kasar dan tidak mau mengikuti aturan rumah sakit yang memintanya untuk pergi ke bagian administrasi terlebih dahulu.
Dokter itu pun mengarahkan untuk pasiennya di bawa ke UGD saja, tetapi temannya tidak ingin di tangani oleh dokter tersebut. Mereka menginginkan dokter senior untuk datang.
Dada Aiko seakan terbakar, dia marah melihat sikap arogansi pria pria tersebut. Aiko pun mendekati mereka.
"Ada apa ini? Kau… lepaskan dokter itu!" Tanya dan perintah Aiko melihat ke arah dokter yang sedang di cekal oleh salah satu pria berjas hitam.
"Siapa kau?" Tanya balik pria yang berada di samping pria yang sedang terluka.
Aiko melihat ke arahnya, dan berkata.
"Hei…apa kau buta? Kau tidak melihat aku menggunakan jubah dokter. Tentu saja aku seorang dokter di rumah sakit ini, kau pikir aku siapa?" Tanya Aiko mulai marah.
"Jadi kau dokter di rumah sakit ini. Kalau begitu panggilkan dokter senior mu untuk datang ke mari dan tangani tuanku…!"
Aiko kembali marah akan perintah pria itu, tapi dia mencoba untuk merendamnya. Menarik dan menghela nafasnya secara perlahan. Dia memilih untuk bersikap baik dan menyelesaikan urusan tersebut.
"Tuan…sebaiknya anda bawa tuan anda ke UGD agar cepat untuk di tangani oleh dokter jaga di sana…!" Ucap Aiko mencoba baik.
"Ternyata kau dokter bodoh yang tidak bisa mengerti perkataan ku."
"Bodoh…!" Gumamnya pelan. Dia di katakan dokter yang bodoh, dan itu telah memancing emosi untuk kembali naik pada puncaknya.
"Hai…tuan, sebaiknya kau cepat bawa tuan mu itu ke UGD sebelum dia mati kehabisan darah." Balas Aiko sedikit meninggikan nada suaranya.
"Lancang sekali kau…Beraninya menyumpahi tuan ku…! Kau sudah bosan hidup ya, apa kau tidak tahu siapa kami…?"
"Aku tidak peduli siapa kalian. Siapa pun yang datang ke rumah sakit ini adalah seorang pasien. Jika kau tidak suka untuk di tangani di sini, pergi dari rumah sakit ini. Cari rumah sakit yang bisa kau atur sesuka hatimu." Balas Aiko sengit.
"Kau…benar benar minta di hajar rupanya…!" Kata pria itu mendekati Aiko ingin menampar gadis itu.
Tentunya dengan mudah Aiko mencekal kuat tangan pria tersebut. Dengan gerakkan cepat dan kuat Aiko melayangkan tendangan kakinya ke arah perut pria itu.
Pria itu jatuh tersungkur dan menahan rasa sakit pada perutnya.
"Banjingan…Hajar wanita ini…!" Perintahnya pada semua anak buahnya.
Mereka pun menyerang Aiko secara bersamaan. Tentu saja Aiko tidak akan diam saja, dia menangkis semua serangan, dan melawan balik pria pria itu. Perkelahian pun terjadi, di saksikan oleh semua orang yang ada di dalam loby rumah sakit.
Beberapa menit telah berlalu, Aiko memenangkan pertarungan tersebut. Mereka tidak tahu siapa Aiko yang sebenarnya, gadis itu adalah salah satu orang kepercayaan Cella di dalam organisasi mafia milik Cella.
Tentu saja, Aiko dapat dengan mudah melawan pria pria yang bahkan lemah saat menyerangnya. Dengan senyum kemenangan, Aiko membersihkan dan merapikan jubah dokternya.
"Pak…amankan mereka…!" Perintahnya kepada tiga petugas keamanan yang datang ke sana.
"Kau…bawa pasien itu ke UGD dan tangani dengan baik…!" Perintahnya kepada dokter yang tadi di cekal.
"Aku harus melaporkannya kepada pemilik rumah sakit ini. Keamanan di rumah sakit ini kurang kuat…!" Gumamnya sembari berlalu pergi meninggalkan semua orang yang melihat perkelahian tersebut.
Tanpa Aiko sadari, seorang pria melihatnya dan terkesan akan cara bertarung Aiko. Terlihat luar biasa, baik, dan cepat dalam setiap serangan serta pergerakannya.
Sedangkan yang terjadi pada ruang perawatan Kenzo.
Teman-teman Kevin datang berkunjung. Mereka yang datang ada Sean, Kristian, Levi, Rina, dan Hana.
Tentu saja mereka cukup terkejut bertemu Cella dan mengetahui jika Cella benar benar seorang dokter. Terlebih lagi, mereka terkejut karena Cella adalah salah satu dokter di rumah sakit milik Sean Hamilton.
Terutama Hana yang tidak pernah memiliki bayangan ataupun pemikiran. Jika Cella dan Sean sudah bertemu beberapa kali. Sejak kapan? Itulah yang menjadi pertanyaan Hana.
Levi, Kristian, Rina, dan Hana melihat ke arah Cella yang tengah berdiri di samping ranjang Kenzo berdampingan bersama Diana.
"Dia dokter di rumah sakit mu, Sean?" Tanya Rina mewakili teman temannya.
"Iya. Ada masalah?" Tanya balik Sean dengan dinginnya.
Mereka tengah duduk pada sofa yang ada di ruangan itu. Ketika Sean mendapatkan kabar dari seseorang melalui panggilan di ponselnya.
Sean menerimanya, sedangkan yang lainnya hanya diam saja.
"Siapa dokter itu?" Tanya Sean.
Kabar keributan yang terjadi di loby lah yang Sean terima, dari salah satu anak buahnya di rumah sakit.
"Cari tahu, dan perintah kan untuk dia menghadap padaku." Itulah perintah Sean. Wajahnya terlihat muram karena kabar tersebut.
Pasalnya, dokter itu telah melawan orang yang seharusnya tidak dia lawan. Seorang bos mafia yang ada di kota mereka, itulah masalahnya. Sean tidak suka berurusan dengan seorang mafia ataupun organisasi Hitam lainnya.
Menurutnya. Jika dia berurusan dengan dunia mafia, tidak akan ada habisnya. Itu akan merugikan semua bisnisnya yang jauh dari dunia hitam. Sean tidak suka akan tindak kekerasan dalam berbisnis. Itulah Sean Hamilton.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.