I'M Princella.

I'M Princella.
10. Malam Pertama Sean.


***S.H. Hotel***


Cella melangkah dengan susah payah, langkah kakinya selayaknya orang yang sedang mabuk berat. Wajahnya yang memerah terlihat jelas seperti orang yang sedang mabuk.


Begitu banyak mata memandang aneh ke arah Cella, tidak banyak dari mereka yang tersenyum bahkan tertawa ringan melihat langkah oleng Cella yang berusaha tetap ada pada kesadarannya.


Cella tidak peduli akan pandangan semua orang, yang ia inginkan adalah cepat berada di dalam kamarnya. Merendam tubuhnya yang semakin panas ke dalam bathtub dengan air dingin, dan meminum sebutir obat yang bisa membuat kesadarannya kembali, walaupun ia tidak yakin jika kewarasan otaknya bisa kembali dengan baik. Satu yang pasti ia tidak ingin ada dalam bahaya dan merugikan dirinya sendiri.


"Sial, aku kecolongan. Tidak mungkin aku mendapatkan minuman yang di campur obat dari minuman yang di berikan oleh Kevin. Pasti minuman pertama yang sudah tercampur oleh obat. Sial…brengsek siapa yang ingin mencelakai ku?" Gumamnya pelan di sela-sela nafasnya yang mulai berat dan panas.


Cella masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai atas, di mana kamarnya berada. Diapun berusaha menekan tombol angka di mana kamarnya berada, namun pandangan matanya tidak jelas.


"Mau ke lantai berapa nona?" Tanya seorang nyonya tua yang ada satu lift dengannya.


Mereka hanya berdua di dalam lift tersebut. Tanpa Cella sadari jika dia sudah masuk ke dalam lift yang salah. Lift yang ia masukin adalah lift khusus untuk kamar hotel presiden suite dan VVIP.


"Lantai atas." Hanya itu jawaban yang bisa Cella berikan di sela sela nafasnya yang sesak dan tubuhnya yang semakin panas serta tidak nyaman.


"Nona baik-baik saja kan?" Tanya nyonya tersebut terdengar khawatir di telinga Cella.


"Iya saya baik."


"Apakah nona tidak salah masuk lift?"


Cella menggelengkan kepalanya, tidak banyak yang bisa ia ucapkan di saat nafasnya yang terus sesak memburu.


Nyonya itu percaya jika Cella tidak berbohong, andaikan nona yang ada di hadapannya salah kamar, dia akan kembali lagi mencari kamarnya yang benar. Dia hanya akan membantu nona yang sedang mabuk untuk menekan tombol lift agar mereka segera naik ke lantai atas.


Dia cukup kasihan melihat kondisi Cella.


"Nona, kenapa tidak minta bantuan salah satu karyawan hotel?" Tanya sang nyonya yang mengira jika Cella hanya seorang diri di hotel itu.


Cella hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin meminta bantuan siapapun? karena akan ada kontak fisik yang membuat dirinya akan bertingkah aneh dan tidak nyaman. Akan menimbulkan kesalahan fatal baginya. Lebih baik seorang diri kembali ke dalam kamar, itu lebih baik untuknya saat ini.


'Ting'. Terdengar suara pintu lift yang terbuka.


"Nona saya duluan, saya sudah menekan tombol lantai paling atas. Apa anda baik baik saja sendirian?" Tanya khawatir terdengar samar di telinga Cella.


Cella yang berusaha mengontrol reaksi tubuhnya, hanya menganggukkan kepalanya saja. Sang nyonya mengerti dan keluar dari dalam lift tersebut. Pintu lift pun tertutup kembali dan naik ke lantai atas mengikuti tombol yang sudah di tekan oleh nyonya tersebut untuk Cella.


Tanpa Cella sadari jika lift itu akan membawanya ke sebuah takdir yang tidak ada dalam bayangannya selama ini. Semua akan berjalan mengikuti takdir hidup mereka, semua sudah di atur oleh takdir mereka masing-masing.


...-----------------------------------------------...


Sebuah kamar mewah dengan lampu yang terlihat samar, kamar itu sedikit berantakan akan pakaian yang berserakan pada beberapa tempat.


Suara gemericik air di sebuah kamar mandi mewah terdengar jelas. Seorang pria yang kini sedang mengguyur tubuhnya dengan air dingin, sedang berusaha mengontrol tubuhnya yang panas akibat seseorang yang mencelakai dirinya beberapa jam yang lalu.


Terdengar suara gaduh di dalam kamarnya, dia tahu jika anak buahnya telah kembali dan melaksanakan apa yang ia perintahkan beberapa saat lalu. Dia yang sudah lelah menahan dan mengontrol reaksi dari tubuhnya, melilitkan handuk ke pinggangnya dan segera keluar dari kamar mandi ingin melihat apa yang di bawa oleh anak buahnya?


"Tuan…!!" Sapa salah satu anak buahnya yang berseragam jas serba hitam.


Pria yang di panggil tuan tersebut, melihat ke arah ranjangnya. Dia mengerutkan keningnya melihat apa yang sekarang ada di hadapannya?


"Siapa wanita ini, dan kenapa kau ikat dia?" Tanya sang tuan.


"Wanita ini yang datang sendiri ke lantai atas tuan. Dia sedang mabuk dan terus berontak ingin masuk ke dalam kamar ini, tuan." Balas anak buahnya.


Tuannya menatap dengan tatapan tajam.


"Kami terpaksa mengikatnya, karena dia terus melawan, tuan."


"Apa dia yang di kirimkan oleh Gio?" Tanya tuannya.


"Maaf tuan, kami tidak bisa menghubungi asisten Gio, tuan." Balasnya takut akan tatapan tajam tuannya.


Pria itu terdiam, dia yang sudah tidak dapat menahan gejolak pada tubuhnya yang semakin panas. Menjadikan kepalanya ikut tidak dapat berpikir jernih.


"Sial…!!" Umpat pria tersebut, anak buahnya terlihat takut jika ia telah membuat sebuah kesalahan.


"Kalian keluar sekarang juga." Usirnya.


Pria tampan itu adalah Sean Hamilton. Pria yang menjadi idola banyak kaum hawa, dia sekarang mendapatkan masalah yang cukup sulit. Malam ini tidak akan pernah ia lupakan, karena malam ini untuk pertama kalinya ia melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan selama hidupnya.


Malam pertamanya untuk menikmati sebuah kenikmatan dunia yang tidak pernah ia rasakan selama hidupnya. Malam pertama untuknya menyentuh tubuh seorang wanita, karena hal yang terpaksa untuk ia lakukan.


Dia terkena jebakan dari seseorang yang belum di ketahui siapa dalang dari masalahnya itu? Tubuhnya kini dalam pengaruh obat perangsang yang tidak bisa di obati dengan obat dari seorang dokter. Dokter pribadinya yang datang beberapa saat yang lalu menyarankan untuk Sean menuntaskan hasratnya, agar daya kerja otaknya tidak terganggu di masa depan.


Sean terpaksa melakukan hal itu, jika tidak tubuh dan otaknya tidak akan menjadi baik seperti biasanya. Sungguh sial baginya lagi, malam ini Sean kedatangan seorang wanita mabuk dengan penampilan yang acak-acakan.


Wanita yang tidak ia kenal, wanita yang terus menggeliatkan tubuhnya di atas ranjang. Sialnya lagi reaksi tubuh Sean menegang saat melihat gaun bawah wanita itu tersingkap ke atas. Memperlihatkan jelas bagian bawah yang hanya menggunakan segitiga bermuda yang terlihat lembut.


"Sial……Brengsek…!!" Umpatnya karena reaksi tubuh bagian bawah Sean tidak dapat di ajak untuk bekerja sama. Tubuhnya tersebut bangkit dan tegang menantang.


Sean mendekati ranjangnya dan naik ke atas untuk melihat wajah wanita yang kini wajahnya di tutupi oleh rambut panjangnya.


Perlahan Sean menyingkirkan rambut yang menutupi wajah wanita tersebut.


'Deg deg deg. ' Degup jantung Sean semakin tidak beraturan saat melihat wajah wanita yang ada di hadapannya tersebut. Mengingatkan dirinya pada seseorang di masa lalu.


"Upik Abu…!!" Gumamnya pelan.


Gumaman yang samar terdengar oleh wanita yang ada di bawah Sean. Matanya perlahan terbuka, kini pandangan mata mereka berdua saling memandang dan mengenali. Sean menelan salivanya akan tatapan mata wanita yang ada di bawahnya.


Begitu lembut dan teduh, tatapan yang sudah lama sekali tidak ia lihat selama ini. Hatinya merasakan sesuatu yang hilang telah kembali, apakah ini juga pengaruh obat atau pengaruh dari tatapan lembut mata wanita yang kini melihatnya intens?


"Tolong…!" Rintihannya dengan suara serak.


"Lepaskan, sakit…!" Ucap wanita itu.


Sean mengerti maksud dari wanita tersebut, dia pun melepaskan semua ikatan yang ada di tubuhnya. Begitu ikatannya semua terlepas, tatapan mereka kembali bertemu dengan sama-sama lembut dan ingin saling mengisi.


Entah terbawa akan pengaruh obat atau hasrat yang tidak dapat di bendung lagi. Sean dengan segera mencium bibir wanita atau gadis yang ada di bawahnya. Ciuman pertama bagi Sean, ciuman yang panas perlahan berubah menjadi lembut dan saling menikmati.


Keduanya kini sama-sama tidak dapat menahan keinginan mereka untuk segera di tuntaskan, kulit tubuh mereka yang saling bersentuhan memiliki rasa nyaman bagi mereka berdua. Ciuman lembut Sean mematahkan semua pertahanan mereka berdua, apa yang mereka berdua lakukan terus meminta lebih dan lebih.


Tanpa mereka berdua sadari, kini keduanya tidak lagi menggunakan sehelai benang pun. Perlahan Sean mencium lembut bibir wanitanya malam ini, sembari memasukkan perlahan sesuatu yang sudah lama menegang di bawah sana.


Tidak mudah bagi Sean untuk membuat tubuhnya masuk dan menyatu dengan tubuh wanita yang berada di bawahnya. Entah karena untuk pertama kalinya bagi Sean, ataukah ada sesuatu yang mengganjal keras di bawah sana?


Perlahan tapi pasti, walaupun dengan usaha yang tidak mudah. Akhirnya sesuatu yang menegang masuk ke dalam tempat seharusnya ia berada, beriringan dengan sebuah rintih kesakitan dari mulut wanita yang kini berada dalam kuasanya.


Sean merasakan sangat sulit untuk masuk ke dalamnya, begitu ia berhasil masuk dan mulai bergerak. Dapat Sean rasakan sesuatu yang hangat mengalir dari dalam tubuh bagian bawah wanitanya malam ini.


"Kau masih perawan?" Ucap Sean melihat ke arah wajah wanita yang ada di hadapannya.


"Sakit…!" Ucap wanita tersebut dengan air mata yang keluar dari pelupuk matanya.


Wajah dan tatapan matanya terlihat sedih, entah karena rasa yang teramat sakit, ataukah ada hal lainnya yang membuatnya menangis. Sean mencium lembut bibir wanitanya untuk meredam rasa sakit yang akan berubah menjadi sebuah kenikmatan.


Cukup lama mereka melakukan beberapa gerakan, keduanya sangat menikmati setiap gerakkan yang mereka lakukan. Di tambah dengan tangan sang wanita yang mengalung erat pada leher Sean. Membuat kesan pada Sean untuk memberikan sebuah kepuasan pada wanitanya malam ini.


Beberapa saat kemudian setelah lama menikmati permainan mereka dan bermandikan peluh, sesuatu terasa memaksa untuk keluar dan memberikan mereka sebuah puncak kepuasan yang akan membuat keduanya sadar dan tubuh mereka membaik serta nyaman kembali.


Mereka berdua saling memeluk erat dan mencapai puncak Bersama-sama. Seirama dengan sebuah rintihan yang terdengar lembut dari kedua mulut mereka. Nafas keduanya kini terengah-engah akan rasa lelah.


Sean memandang wajah wanita yang ada di hadapannya kini tengah tertidur karena kelelahan akan aktivitas mereka. Entah karena apa? Sean mencium lembut kening wanita yang terlihat memiliki kecantikan yang tersembunyi di balik wajahnya yang tidur tersebut. Ia ingin sekali kembali menatap mata yang lembut dan hangat yang membuatnya terlena, namun sayang mata itu tertutup rapat.


Sean yang juga kelelahan, menggulingkan tubuhnya ke samping dan ikut tertidur. Menyusul wanitanya untuk merengkuh indahnya mimpi malam ini.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.