I'M Princella.

I'M Princella.
16. Tindakan Cepat Cella.


***Rumah Sakit Hamilton***


Diana melepaskan pelukkannya. Tatapan matanya penuh harap ke arah Cella, wanita itu memiliki harapan besar agar Cella membantu menyembuhkan putranya, Kenzo Aldelaric.


Sean dan Kevin melihat ke arah dua wanita yang cukup mengalihkan perhatian mereka berdua.


Saat mereka larut dalam suasana tersebut, terdengar jelas suara peringatan dari mesin deteksi kesehatan Kenzo. Tekanan darah dan detak jantung Kenzo menurut, Pernafasan Kenzo bermasalah.


"Dokter Cella…!" Panggil cepat dokter Antoni yang ada paling dekat dengan ranjang perawatan Kenzo.


Tanpa banyak tanya, Cella tahu apa yang terjadi pada Kenzo. Dia meraih sebotol obat cair dari dalam tas yang ia bawa, melangkah cepat ke arah Kenzo dan menyuntikkan cairan itu ke selang infus Kenzo secara perlahan.


Cira segera melepaskan masker oksigen Kenzo dan menyingkirkan bantal yang Kenzo gunakan. Gadis itu melakukan beberapa tekanan cukup kuat dan teratur pada dada Kenzo, sembari sesekali memberikan nafas bantuan langsung ke mulut Kenzo. Kenzo mengalami gagal jantung karena pengaruh sakit yang mungkin tidak dapat di tahan oleh anak sekecil Kenzo.


Diana terlihat takut dan sudah menangis di dalam rangkulan Kevin, sedangkan Sean dan Gio yang ada di sana hanya melihat tindakan cepat Cella.


"Dokter Antoni, tolong ambil obat yang ada di dalam saku jubah saya, suntikan itu pada Kenzo. Lalu siapkan satu kantong darah untuk Kenzo." Perintah Cella kepada dokter Antoni yang masih ikut memantau kegiatan Cella.


Dokter Antoni melakukan apa yang di perintahkan oleh Cella dengan cepat. Kondisi Kenzo semakin menurut.


"Ayolah Kenzo.... kembalilah... !" Gumam pelan Cella masih dapat mereka dengarkan.


Suasana di dalam begitu menegangkan. Cella berusaha memberikan pertolongan terhadap Kenzo yang kondisinya semakin menurut. Cella harus fokus akan apa yang ia lakukan.


"Dokter, tolong siapkan alat USG." Pintanya kepada dokter Antoni.


Dokter Antoni dengan cepat menarik alat USG yang memang ada di dekat mereka. Dokter itu tahu apa yang harus ia lakukan, segera melakukan pengecekan pada kondisi paru paru Kenzo. Mereka cukup terkejut melihat paru-paru yang terlihat memiliki ukuran yang tidak normal.


"Lakukan transfusi darah, sekarang." Ucap Cella sedikit meninggikan nada suaranya.


Dokter Antoni berlari keluar untuk mengambil apa yang mereka butuhkan. Darah untuk Kenzo sudah di siapkan sejak anak itu masuk ke dalam rumah sakit.


"Ada apa Cella... ?" Tanya cemas Diana di sela sela tangisannya.


Wanita itu tahu kondisi putranya tidak baik baik saja. hatinya mendadak di hantam oleh rasa takut kehilangan sekarang.


Cella melirik sejenak ke arah Diana, lalu dia kembali fokus untuk membuat Kenzo normal.


"Ayo lah sayang.... kembalilah, papa dan mama masih di sini menemanimu, Kenzo." Ucap pelan Cella sembari melakukan penekan pada jantung Kenzo yang semakin menurun.


Mereka yang hadir dapat mendengar apa yang Cella ucapkan dengan pelan, sebuah bujukkan untuk Kenzo bertahan dan kembali normal.


Dokter Antoni kembali dengan satu kantong darah, kemudian dengan cepat memasukkan darah itu ke dalam tubuh Kenzo. Beberapa tetesan pertama cukup di percepat, kemudian mengatur normal tetesan selanjutnya.


Ada sedikit reaksi terhadap tubuh Kenzo. Cira melihat dan terus membuat normal kondisi Kenzo. Begitu penuh perjuangan untuk Cella dan dokter Antoni yang membuahkan hasil seperti harapan mereka berdua.


"Kondisi Kenzo stabil dokter Cella." Ucap dokter Antoni melihat ke arah mesin kesehatan yang terhubung pada Kenzo.


Cella diam terpaku di tempatnya. Memandang wajah Kenzo yang kini normal kembali. Suasana seperti itu sudah sering ia hadapi dan tangani. Cukup menegangkan, bahkan membuat tubuh dan pikirannya yang harus melawan rasa takut dan harus tetap fokus.


Cella beberapa kali menelan salivanya, dia menarik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan. Mengatur laju detak jantungnya yang ikut berdebar akan situasi tadi.


"Terima kasih Kenzo... Kamu anak yang kuat... " Ucap Cella menggenggam erat dan hangat tangan mungil Kenzo.


Cella yang sudah kembali normal pada kondisi tubuh, jantung dan pikirannya. Melihat ke arah dokter yang ada di hadapannya.


"Ini bisa saja terjadi lagi sewaktu-waktu dokter, dia harus segera di operasi." Ucap Cella.


"Kondisinya tidak memungkinkan dokter Cella." Balas dokter Antoni.


"Saya tahu dokter, tapi anda melihat sendiri kondisi paru parunya tadi kan?"


"Iya saya tahu."


"Setidaknya, kita lakukan untuk mengeluarkan cairan itu dari dalam paru-parunya. Itu yang sekarang bisa kita lakukan, agar pembengkakannya berkurang." Jelas Cella dengan raut yang serius.


"Apa anda yakin?"


"Setidaknya itu memperpanjang usianya. Mengurangi rasa sakitnya untuk sementara waktu." Jujur Cella.


"Apa yang terjadi? Ada apa dengan Kenzo?" Tanya Diana masuk ke dalam pembahasan antara dokter Antoni dan Cella.


Diana, Kevin, Sean dan Gio dapat mendengar jelas pembahasan keduanya. Dua dokter itu pun melihat ke arah keluarga Kenzo.


"Ada pembengkakan pada paru-paru Kenzo, itu sangat menyakitkan bagi Kenzo sehingga kondisinya menurun. Kenzo mengalami gagal jantung karena tidak dapat menahan rasa sakitnya." Penjelasan Cella yang sukses membuat semuanya terkejut.


"Apa tidak ada yang bisa di lakukan untuk Kenzo?" Tanya Kevin.


"Ada. Operasi untuk mengeluarkan beberapa cairan yang ada di dalam paru-paru Kenzo. Tapi kondisinya tidak memungkinkan. Kami harus memantaunya secara intensif beberapa hari ke depan, jika Kenzo memiliki peluang untuk di operasi. Kami akan lakukan, itu jika kalian mengijinkannya." Jelas Cella.


Begitu mengiris sakit hati Diana. Wanita itu menangis sembari menutup mulutnya tidak percaya akan apa yang putranya alami. Kevin merangkul sang istri untuk menenangkannya.


"Lakukan semua yang terbaik untuk Kenzo. Kami akan mengikuti dan mengijinkan semua tindakan yang akan di lakukan demi kesembuhannya." Ucap Kevin terdengar tegas.


Di balik ketegasannya, tersimpan rasa sesak dan sakit yang sama di dalam hatinya. Melihat putra kesayangannya begitu menderita dengan sakitnya saat ini.


"Baiklah." Balas dokter Antoni.


"Diana, kamu harus kuat. Jika kamu lemah seperti ini, Kenzo pasti akan sedih, percayalah dia juga sedang berjuang untuk melihat mu lagi." Ucap Cella tulus melihat ke arah Diana yang masih menangis dalam rangkulan Kevin.


Diana melihat ke arah Cella.


"Kenzo akan sadar dan baik baik saja. Yakinkan itu di hatimu. Kenzo dapat merasakan bagaimana perasaan hatimu saat ini. Kalian adalah ibu dan anak yang terhubung dalam ikatan yang tidak dapat di lihat oleh siapa pun, selain kau dan Kenzo." Ungkapan yang ingin membuat Diana kuat untuk mendampingi putranya yang sedang berjuang.


"Tentu Cella. Aku akan kuat, demi Kenzo." Balas Diana mencoba untuk tegar.


"Terima kasih." Ucap Diana yang dapat mengungkapkan perasaannya untuk menghargai usaha Cella tadi.


"Sama-sama. Malam ini aku akan menemani mu, aku harus memantau kondisi Kenzo sampai besok pagi." Balasnya.


Semua cukup diam tanpa komentar.


"Anda akan langsung ship malam di hari pertama kerja, dokter Cella." Ucap dokter Antoni melihat ke arahnya.


"Apa saya ada pilihan dokter. Bukankah Kenzo tanggung jawab saya sekarang."


"Iya. Tentu saja, terima kasih. Sedikit ilmu dari anda tadi menambah ilmu untuk saya." Ucap dokter Antoni, dia mengingat jelas tindakan yang di lakukan oleh Cella. Tindakan yang tidak pernah ia lakukan, dan ada di dalam pikirannya. Cukup menambah ilmunya sebagai seorang dokter.


"Sama-sama dokter." Balasnya singkat.


"Oya. Bagaimana dengan ijin tertulis saya sebagai dokter luar di rumah sakit ini?" Tanya Cella melihat ke arah dokter Antoni dan Sean secara bergantian.


Sean yang hanya menyimak dalam diam. Tahu maksud dari ucapan Cella. Dia pun harus memberikan jawabannya, dan membuat semuanya jadi mudah untuk kesehatan Kenzo.


"Aku sudah menyiapkannya. Tidak pernah aku sangka, aku akan melakukan dua perjanjian yang berbeda hari ini dengan orang yang sama." Kata Sean dengan berdiri tegak di hadapan Cella. Tentu perkataan Sean tidak ada yang mengerti, selain Cella, Gio dan Sean sendiri.


'Kau pikir siapa dirimu, Sean Hamilton. Sepertinya takdir baik sedang mendukung ku sekarang.' Batin Cella senang dapat mengalihkan perintah Sean.


Cella ingin tahu apa keputusan Sean terhadap pekerjaannya. Menjadi sekretaris dan asisten untuk Sean, atau menjadi dokter di rumah sakitnya untuk kesembuhan Kenzo. Pilihan yang mudah sebenarnya untuk Sean, tetapi cukup sulit karena ada di luar kendalinya.


"Kita bisa bicara di ruanganku." Ungkap Sean dengan raut wajah datarnya.


"Silahkan." Balas Cella dengan senang hati.


Sean melihat sejenak ke arah Kevin yang mengerti maksudnya. Kemudian dia melihat ke arah Cella, dan segera berlalu meninggalkan ruang perawatan Kenzo menuju ke ruang kerjanya yang ada di rumah sakit itu.


Di sinilah mereka berada. Dua berkas perjanjian kerja sama ada di atas meja kerja Sean. Perjanjian untuk kerja sama oleh dua rumah sakit, dan perijinan dokter luar masuk bergabung ke dalam rumah sakitnya.


"Kau cukup cerdik ternyata." Kata Sean tiba-tiba.


Kevin dan Cella melihat ke arah Sean. Cella mengerti maksud dari Sean, sedangkan Kevin tidak mengerti maksud dari sepupunya itu.


"Bukan cerdik tuan Hamilton. Hanya saja takdir baik selalu mendukung saya." Balas Cella tidak kalah datar dan dingin.


Kevin dan Gio dapat merasakan, betapa dinginnya ruang itu akan dua aura dari mereka.


"Hahaha.... Aku cukup terkesan. Aku tidak pernah tahu jika kau adalah seorang dokter yang cukup trampil dan handal." Sean tertawa lucu akan perkataan Cella.


"Tapi ingat perjanjian adalah tetap perjanjian yang harus di tepati. Dua perjanjian yang sama-sama penting. Ingat itu... !"


"Tentu saya tahu dan ingat tuan. Tapi anda harus bijak dalam mengambil keputusan, mana yang harus di dahulukan." Balas Cella dengan senyum tipisnya seakan dirinya sudah menang.


Sean tersenyum puas akan jawaban Cella yang terdengar tegas dan penuh peringatan untuknya. Kevin hanya diam saja, tidak mengerti apa yang telah terjadi pada keduanya.


'Kau cukup cerdik dan pandai memakai strategi. Aku suka, memang seharusnya kau seperti ini. Tegas dan penuh pertimbangan. Itulah wanitaku... Apapun yang kau inginkan aku coba untuk mengikutinya. Aku ingin lihat sampai di mana kau terlihat seperti ini.' Batin Sean puas akan sikap tegas Cella.


Mereka masih saling memandang dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga keputusan yang tepat dan tidak merugikan bagi mereka, telah di ambil. Tentunya semuanya akan berjalan mengikuti alur dari takdir yang sudah di gariskan, karena kebaikan akan selalu menang.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.