
***Rumah Sakit Hamilton***
Mereka masih berada di dalam ruang ICU, kondisi Kenzo masih stabil dan tidak terlihat sesak. Ia tertidur karena masih dalam pengaruh obat yang di berikan oleh Cella. Sedangkan dokter Antoni tidak memberikan obat apapun, sebab dia melihat masih cukup aman untuk saat ini.
"Maaf dokter Cella, saya mendengar jika anda dari negara B dan menjadi dokter di Prince Healthy Klinik. Apakah itu benar?" Tanya dokter Antoni melihat serius ke arah Cella.
Bagaimana dokter Antoni tahu itu? Cella pun mengingat jika tadi sore ia memperlihatkan kartu identitas dokternya kepada Kevin dan Diana, apakah mereka yang telah memberitahukan informasi itu kepada dokter Antoni?
Cella pun melihat ke arah Diana dan juga Kevin, tatapan mereka bertiga bertemu. Walaupun hanya diam saling memandang, itu sudah cukup sebagai jawaban untuk membenarkan dugaannya tersebut.
"Iya dokter, saya menjadi dokter spesialis bedah umum di sana." Ucap Cella mengakuinya.
"Kebetulan yang sangat bagus sekali. Saya mendengar dari seorang teman yang kebetulan tinggal di negara B, jika Prince Healthy Klinik adalah salah satu klinik yang cukup bagus dan populer di negara B. Walaupun klinik itu kecil namun setara dengan sebuah rumah sakit besar, peralatan dan perlengkapan kesehatan mereka sangat canggih dan juga lengkap." Ungkap dokter Antoni menjelaskan.
Cella diam mendengarkan dan mengamati. Dia dapat menangkap sesuatu yang akan di katakan oleh dokter Antoni selanjutnya.
"Saya juga mendengar, jika pemilik dari klinik itu adalah seorang dokter yang sangat jenius. Seorang dokter yang sudah sangat terkenal dapat menyembuhkan beberapa penyakit langka, dan belum pernah gagal sama sekali dalam penyembuhannya. Apakah anda bisa menghubungi beliau ?" Ucap dokter Antoni.
Cella sudah dapat menebaknya, ternyata pemilik klinik yang juga adalah seorang dokter jenius sudah terkenal sampai ke negara ini. Cella berpikir bagaimana caranya dia menghubungi pemilik klinik tempatnya bekerja? Sedangkan sang dokter menutupi jati dirinya, sangat misterius dan tidak suka muncul kehadapan publik.
"Maaf dokter Antoni, bukannya saya tidak mau menghubungi beliau. Tetapi saya tidak bisa melakukan hal itu, apakah anda tidak mengetahui rumor tentang dokter pemilik klinik tersebut?" Tanya Cella ingin menguji sampai mana dokter Antoni mengetahui tentang kabar sang dokter jenius.
"Iya tentu saja saya tahu, dokter Cella. Rumor yang saya dengar, dokter jenius pemilik klinik tersebut adalah seorang dokter yang misterius dan bekerja di balik layar, sosoknya tidak suka tampil atau di ketahui oleh publik."
'Ternyata dia juga tahu, karena itulah dokter Antoni meminta bantuan dariku untuk menghubunginya.' Gumam Cella di dalam hatinya.
"Mungkin anda bisa membantu sebagai perantara agar Kenzo bisa di tangani oleh beliau. Saya percaya jika kemampuannya memang sudah sangat di akui." Ungkap dokter Antoni sembari melihat ke arah Kenzo.
Tanpa Cella mengikuti pandangan mata dokter Antoni, dia sudah tahu ke mana pandangan mata itu mengarah.
"Dari mana anda sangat yakin jika beliau memiliki kemampuan yang sudah di akui. Apakah anda pernah bertemu dengannya?" Tanya selidik Cella.
"Tentu saja saya belum pernah bertemu dengannya. Anda pasti tahu dokter Roberto Carlos, dokter spesialis bedah jantung yang ada di negara N. Seorang dokter yang sudah bergelar profesor dan dokter yang sudah di akui kemampuannya di beberapa negara lainnya. Dialah yang memberitahukan kepada saya, jika dokter pemilik dari Prince Healthy Klinik adalah seorang dokter jenius yang menjanjikan, dan sudah beliau akui kemampuannya." Ungkap dokter Antoni dengan raut wajah yang terlihat sangat serius.
"Jadi saya percaya akan ucapan beliau."
"Apakah dokter Roberto Carlos menunjukkan bagaimana sosok dokter itu?" Tanya Cella dengan cepat.
"Tidak. Beliau hanya bertemu beberapa kali, dan sang dokter jenius tidak pernah mau untuk di dokumentasikan."
Cella tahu itu benar, dokter jenius yang sosoknya memang tidak suka di ketahui oleh publik. Dia cukup tahu jika tidak banyak yang tahu bagaimana sosoknya, hanya beberapa orang tertentu saja yang tahu bagaimana sosok sang dokter jenius.
"Jadi bagaimana dokter Cella? Apakah anda bisa menghubungi dokter pemilik klinik itu?" Tanya dokter Antoni pada intinya.
Cella terdiam, dia tidak tahu harus bagaimana untuk menjawab pertanyaan sekaligus keinginan dari dokter Antoni?
"Cella…!!" Panggil Diana datang mendekati Cella, dan langsung memegangi kedua telapak tangan Cella dengan tatapan mata yang terlihat memohon.
"Cella…aku mohon padamu bantulah kami, bantulah Kenzo. Dia masih begitu kecil untuk mendapatkan penyakit seperti ini." Mohon Diana dengan air matanya yang sudah tidak dapat ia tahan lagi.
Dokter Antoni yang merupakan salah satu dokter hebat di rumah sakit ini, jika ia mengatakan dan mengakui kemampuan seseorang, itu pastilah benar. Jadi Diana percaya jika dokter jenius yang mereka bicarakan bisa membantu Kenzo putranya untuk sembuh.
"Aku mohon Cella …!!" Ucapnya dengan nada suara yang terdengar putus asa, tangannya mulai gemetar.
Cella dapat melihat itu semua, jiwanya seorang dokter yang tidak bisa melihat penderita seorang pasien, terlebih lagi jika menyangkut keluarga pasien yang sedang berusaha memperjuangkan kesembuhan dari pasien tersebut. Namun ini sangat sulit bagi Cella untuk di lakukan, bagaimana bisa dia membuka jati diri dari sosok dokter jenius yang sudah lama bersembunyi dari publik?
"Diana. Akan aku usahakan semampu yang aku bisa, semua pasti ada jalan." Hanya itu yang bisa Cella katakan.
"Aku mohon Cella, selamatkan Kenzo …!!" Ucapnya dengan nada gemetar dan terlihat putus asa akan tangisannya yang terdengar sedih.
"Aku tidak ingin melihat Kenzo tersiksa karena sakitnya. Andaikan saja posisinya bisa di gantikan, aku rela untuk menggantikan posisi Kenzo membawa rasa sakit itu." Ucap Diana masih dengan linangan air mata pada pipi putihnya.
Cella mengerti bagaimana perasaan Diana? Ibu mana yang akan tega melihat putra dan putrinya menderita, apalagi sakit? Begitu juga dengan Diana yang begitu mencintai sang putra.
"Diana, akan aku bantu semampu ku. Namun putra mu harus di bawa langsung ke sana, karena mustahil baginya berada di luar tempat kuasanya sebagai seorang dokter, apalagi harus menangani pasien yang tidak memiliki kerja sama dengan rumah sakit ini." Balas Cella memberikan sebuah alasan.
"Saya bisa memberikan sebuah izin untuk beliau, jika beliau mau datang ke rumah sakit ini." Celetuk dokter Antoni.
Cella melihat ke arah Kevin yang datang mendekat, raut wajah Kevin tidak kalah khawatir akan kondisi sang putra.
"Bukan masalah biaya, ini masalah kesediaannya mau datang atau tidak ke rumah sakit ini. Setidaknya jika putra anda di bawa ke sana sebagai seorang pasien klinik, mereka ataupun pemilik klinik tidak akan menolaknya." Cella mencoba menjelaskan.
Semua terdiam dan mencoba mencerna penjelasan yang di katakan oleh Cella.
Sedangkan Cella tengah berpikir, bagaimana bisa dia yang baru datang ke negara ini? Harus kembali lagi ke negara B. Apakah hal itu bisa ia lakukan? Ataukah dia harus menggunakan cara lainnya untuk tetap tinggal di negara A, tetapi tetap membantu Kenzo yang sedang berjuang.
"Tapi maaf, aku tidak yakin beliau mau." Ucap Cella tiba-tiba.
"Apa maksudmu?" Tanya Kevin melihat heran ke arah Cella.
"Untuk mencari jadwal nya agar bisa bertemu, tidaklah mudah."
"Lalu kita harus bagaimana?" Tanya Diana masih dengan raut wajah yang berharap kepada Cella.
"Aku akan berusaha menghubunginya sebisa ku. Aku akan meminta bantuan kepada direktur klinik untuk menjadi perantara bagi kalian."
"Jika itu bisa kau lakukan, tolonglah lakukan yang terbaik untuk Kenzo." Ucap Kevin dengan sebuah harapan pada sorot matanya.
"Baiklah." Angguk Cella. Ia kalah akan harapan dua orang tua yang kini sedang berjuang demi kesembuhan sang putra.
Cella berlalu dari tempat itu untuk mencari jalan keluar. Sedangkan Diana memeluk sang suami karena tidak kuasa melihat penderitaan sang putra.
Pemandangan itu tidak luput dari pengelihatan Cella, dua orang tua yang saling mencintai dengan hangat dan penuh perjuangan demi putra mereka yang masih kecil.
Cella tidak bisa menolak untuk tidak membantu mereka, apalagi mengingat siapa Diana? Diana adalah seorang teman yang selalu tulus padanya dulu semasa sekolah di bangku SMP. Diana tidak pernah sekalipun menyakiti, menghina ataupun mengganggu dirinya. Diana satu satunya teman yang dulu sangat baik kepadanya.
"Paman Antoni…!!" Panggil Kevin melihat ke arah pria berjubah putih itu.
"Iya Kevin." Balas sang dokter yang merupakan paman dari sahabat sekaligus sepupunya.
"Apakah paman yakin, jika dokter yang paman maksudkan bisa membantu Kenzo untuk sembuh dari penyakitnya?" Tanya Kevin ingin kepastian.
"Tentu paman yakin, Kevin. Walaupun paman tidak pernah berjumpa dengan dokter itu. Paman yakin dari cerita beberapa dokter hebat dan ternama di berbagai negara yang paman kenal. Mereka mengatakan jika kemampuan dokter itu sangat luar biasa." Ungkapnya.
"Kau tahu Kevin." Ucap dokter Antoni kembali.
"Dokter itu bisa membuat dan meracik beraneka ragam obat obatan yang tidak bisa di buat oleh dokter biasa seperti paman. Dan jam terbangnya menyembuhkan seorang pasien, melebihi jam terbang paman yang sudah tua ini. Paman ingin sekali bertemu dan kenal dengannya. Apalagi paman dengar dia masih sangat muda. Wanita muda yang menjadi seorang dokter spesialis di usianya yang terbilang masih sangat muda." Ungkap dokter Antoni.
"Dan paman juga yakin, jika obat yang di berikan oleh dokter Cella pada Kenzo adalah salah satu obat racikan darinya. Itu terlihat dari tes darah Kenzo yang paman coba cek. Ada sebuah kandungan bahan obat di luar dari obat-obatan kesehatan yang biasa kami gunakan di rumah sakit ini."
"Apa itu berbahaya paman?" Tanya Kevin khawatir.
"Tidak. Paman malah takjub, terlihat dari pembengkakan pada paru-paru Kenzo yang tidak terlalu besar, lalu kondisi dan pernafasan Kenzo lebih baik dari seorang pasien paru-paru. Sebenarnya paman belum tentu bisa memberikan pertolongan pertama dengan menggunakan obat yang seperti itu. Obat seperti itu tidak ada di rumah sakit ini. Kami hanya akan menggunakan penghilang rasa nyeri biasa, dan itu tidak akan bisa memperkecil pembengkakan pada paru-paru Kenzo." Jelasnya.
Kevin mengerti jika dokter Antoni tidak akan berbohong.
"Percayalah Kevin, dan yakinkan dirimu. Semoga putra mu bisa di sembuhkan atas penanganan dari dokter jenius itu. Aku harap semuanya berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun? Kau dengar sendiri, jika 3 dokter spesialis paru di rumah sakit ini, menyerah untuk melakukan tindak operasi, selain pencangkokan paru-paru hidup untuk Kenzo." Ungkap dokter Antoni mengingat apa yang di jelaskan oleh 3 dokter spesialis paru yang mereka temui?
Ketiganya menyarankan untuk pencangkokan paru-paru dari manusia yang masih hidup dan sehat. Siapa yang mau melakukan itu? Tentu tidak ada, kecuali berhubungan dengan sendikat jual beli organ manusia di dunia hitam. Apakah Kevin mau melakukan itu? Membeli organ manusia dan tentu saja itu akan berhubungan dengan hukum di negara itu. Jika Kevin nekat melakukan hal itu, bagaimana dengan nama baiknya?
Kevin dan Diana merasa putus asa akan hal ini. Tidak ada harapan, walaupun ia nekat membeli organ manusia untuk sang putra. Namun untuk mendapatkan itu semua banyak hal yang akan Kevin hadapi. Rasa bersalah pada pemilik organ, berurusan dengan dunia hitam akan membuat namanya masuk ke daftar hitam, dan tentu saja dia akan berurusan dengan hukum.
Hanya satu harapan Kevin dan Diana sekarang, berharap sang dokter jenius yang sangat misterius, mau dan bisa membantu putranya untuk sembuh dari penyakitnya tersebut.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.