I'M Princella.

I'M Princella.
11. Upik Abu Ku.


***S.H Hotel***


Pagi yang sangat cerah menyinari dunia. Cahaya mentari merambat masuk pada celah celah jendela yang tirainya tidak tertutup dengan rapat.


Dua insan yang semalam telah menghabiskan malam bersama dengan kepuasan yang tidak dapat di ungkapan oleh kata-kata. Masih tertidur lelap karena rasa kantuk dan lelah yang menyerang mereka semalam.


Namun tidak dengan seseorang yang berada di luar kamar mewah hotel tersebut. Pasalnya pria yang ada di depan pintu kamar tuannya, kini sedang getar getir akan hukuman dari tuannya karena gagal untuk menjalankan perintah.


Pria itu adalah asisten pribadi Sean Hamilton, yaitu Giovan Richie. Pria tampan itu kini tengah menatap tajam ke arah dua anak buah yang sejak semalam menjaga pintu kamar tuannya.


Sedangkan yang ada di dalam kamar, kini salah satunya mulai sadar dan membuka matanya. Ia meringis karena merasakan seluruh tubuhnya sakit dan remuk redam. Perlahan mata wanita cantik ini membuka matanya, diapun mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia belum sepenuhnya sadar dan ingat apa yang semalam ia lalui bersama pria yang tidak di kenalnya.


Wanita itu adalah Princella Johanes, Cella melihat ke sekelilingnya karena dia merasa suasana kamarnya sangat berbeda.


"Mengapa semuanya terlihat berbeda dan mewah?" Ucap pelan Cella melihat ke sekelilingnya.


Hingga pandangan matanya berhenti dan terkejut melihat siapa yang ada di sampingnya sekarang? Dia bukan Hana yang satu kamar hotel dengannya. Yang ia lihat saat ini adalah seorang pria, dia kembali melihat langit-langit, sembari mengingat-ingat apa yang terjadi semalam?


Perlahan dia berusaha untuk mengingat sekilas beberapa ingatan semalam yang sudah ia lalui, Cella pun melihat ke dalam selimut. Benar saja, ia kini tidak menggunakan sehelai benang pun.


"Apa yang sudah aku lakukan? Tidak, ini tidak benar…!!" Ucapnya tidak ingin percaya yang sekarang terjadi padanya.


Bagaimana bisa ia berakhir di atas ranjang seorang pria asing semalam. Bodohnya dia, Cella merasa dirinya sangatlah bodoh. Air matanya mengalir begitu saja, namun hatinya sakit dan marah secara bersamaan. Dengan kasar Cella menghapus air matanya, dia sungguh kecewa dan marah kepada dirinya sendiri.


Tanpa sadar pergerakkan yang di lakukan oleh Cella, membuat pria yang ada di sampingnya terbangun.


"Kau sudah bangun." Sapa pria itu yang tidak lain adalah Sean Hamilton, pria yang tidak ingin Cella temui dan sangat ia hindari.


Cella terkejut mendengar suara pria yang ada di sampingnya. Dengan gerakkan cepat Cella bangkit dan duduk sembari menutupi tubuh polosnya dengan selimut yang ia pegang erat.


Tingkah laku Cella terlihat lucu di mata Sean. Tanpa keduanya sadari jika mereka saling mengenal saat di bangku SMP. Cella berusaha menutupi seluruh tubuh polosnya.


"Apa yang ingin kau tutupi? Semua sudah aku lihat semalam." Ucap Sean sembari bangkit dan duduk bersandar di atas ranjang. Terlihat jelas tubuh atas Sean yang telanjang.


Tatapan tajam Cella melihat ke arah Sean karena kesal mendengar ucapan Sean tadi. Kedua tatapan mata mereka bertemu, tatapan lembut dan hangat yang Sean lihat semalam kini telah berubah menjadi tajam dan dingin.


"Ada apa?" Tanya Sean tidak mengerti akan pandangan Cella padanya.


Tatapan keduanya masih saling melihat dan mengenali. Baik Cella ataupun Sean kini sudah sadar, jika mereka memang saling mengenal.


"Sean…!" ucap Cella mengenali Sean.


"Cella…!!" Ucap Sean mengenali Cella.


Cella dengan cepat bergerak untuk menarik selimut yang ia pakai, Cella dengan cepat bangkit mengambil gaun dan barang pribadi yang dia pakai semalam. Ia pun mencari sebuah kamar mandi, begitu ia mendapatkan apa yang ia cari segera Cella masuk ke dalam kamar mandi tersebut meninggal Sean begitu saja.


Sean terkejut akan siapa wanita yang menemaninya semalam? Sean segera melangkah ke arah lemari pakaian yang sudah tersedia pakaian untuknya di kamar pribadinya, pada hotel mikiknya tersebut.


"Jadi semalam aku tidak salah mengenali seseorang, dia benar benar Upik Abu." Gumamnya pelan sembari memakai pakaiannya.


Setelah selesai, dia pun kembali ke arah ranjang untuk mencari ponselnya yang ada di atas nakas samping ranjangnya. Namun pandangan matanya tertuju pada sebuah noda merah yang ada di atas sprei putih di atas ranjang. Noda yang membuktikan jika Cella wanita pertama baginya, dan Sean adalah pria pertama bagi Cella.


Senyum tipis terbit pada bibir Sean akan ingatnya semalam. Bagaimana mereka berdua menikmati malam bersama? dan ternyata itu adalah malam pertama bagi mereka berdua.


"Kau milikku sekarang Upik Abu. Kau datang sendiri padaku semalam tanpa aku undang. Tapi itu juga yang akhirnya mempertemukan kita, kau tidak akan bisa lepas lagi dariku." Gumamnya pelan dengan raut yang terlihat datar dan tatapan dinginnya.


Sean adalah pria dingin dan angkuh kepada semua orang yang tidak dekat dengannya. Namun Sean memiliki pribadi yang hangat, kepada keluarga dan beberapa teman baiknya. Semua mengenal bagaimana seorang Sean yang dingin dan angkuh serta kejam dalam dunia bisnis. Dia tidak tersentuh oleh siapapun?


Cukup lama Cella berada di dalam kamar mandi. Cella kini sedang berdiri di depan cermin setelah selesai memakai pakaiannya, sudah tidak terhitung lagi berapa kali ia menghela nafasnya.


"Sean Hamilton." Gumamnya pelan.


Genggaman tangan Cella erat akan amarah yang tidak bisa ia tahan. Ingatan akan siapa Sean Hamilton yang ingin ia hindari selama ini, kembali datang. Cella menatap pantulan dirinya di depan cermin.


"Kau bodoh Cella, apa yang sudah kau lakukan? Pria yang sejak dulu kau benci, pria itu telah merenggut sesuatu paling berharga yang kau miliki. Kau wanita bodoh, Cella." Ucap Cella menyalahkan dirinya sendiri dari pantulan yang terlihat pada cermin di hadapannya.


Air mata sedih, kecewa dan marah menjadi satu keluar begitu saja dari matanya. Begitu sial hidupnya saat kembali lagi ke negara A, negara yang penuh akan kenangan buruknya dahulu. Untuk menyesal pun tidak ada gunanya, kini hal yang paling berharga sudah tidak ada lagi pada dirinya. Apakah bisa ia menjalani hidupnya di masa depan?


"Sial…sial…sial…!!!" Umpat Cella pada dirinya sendiri sembari memukul keras meja wastafel yang ada di hadapannya.


Nafas Cella terengah-engah karena amarah dan kecewa yang sedang ia luapkan. Dia harus memutuskan untuk kembali menjalani hidup seperti biasanya, karena untuk menyesali semua yang terjadi tidak ada gunanya lagi. Sean Hamilton akan tetap menjadi kenangan buruk baginya, dulu, sekarang dan di masa depan.


Dia pun memutuskan akan menghadapi Sean, lalu pergi untuk tidak bertemu kembali, dia ingin ini adalah pertemuan mereka untuk terakhir kalinya. Semoga tidak ada pertemuan selanjutnya lagi.


Cella keluar dari kamar mandi, dengan hati yang sudah ia teguhkan untuk tidak terlihat lemah di depan Sean. Dia hanya akan bertemu hari ini dan tidak akan berjumpa lagi.


"Akhirnya kau keluar juga." Sapa Sean yang sedang duduk pada sofa yang ada di dalam kamar mewah tersebut.


Cella hanya melihat Sean sekilas, dia memakai sepatunya dan meraih tasnya yang ada di atas nakas samping ranjang. Matanya terpaksa melihat sesuatu hal yang sangat memalukan bagi dirinya. Sebuah noda merah di atas sprei putih, sebuah bukti atas perbuatan mereka berdua.


Kepalan kuat tangan Cella menggenggam kuat tali tasnya. Dengan senyum yang diam diam Sean terbitkan pada wajah tampannya. Sean tahu kemana arah pandangan mata Cella tertuju? Dia sengaja tidak menutupi noda tersebut. Sean ingin menunjukkannya kepada Cella, sekaligus menggodanya adalah hal yang selama ini ingin ia lakukan sejak kepergian Cella dulu.


Tatapan tajam Cella melihat ke arah Sean, setelah ia menutupi noda merah tersebut dengan menarik kain lainnya. Dia sungguh terhina akan hal itu, sedangkan Sean terlihat bahagia serta menikmatinya.


Tanpa pikir panjang dan banyak berbicara lagi, ia ingin keluar dan meninggalkan pria yang membuat hari pertama dan pagi pertamanya di negara A rusak. Cella melangkah cepat sembari menahan rasa sakit pada bagian bawah tubuhnya. Dia ingin segera keluar, namun di halangi dengan cepat oleh pria lainnya yang menatap dengan sama dinginnya seperti Sean. Pria itu adalah asisten Giovan Richie.


"Menyingkir…!!" Ucap Cella dengan tekanan pada perkataannya.


Tatapan Cella tidak kalah dingin terhadap pria yang ada di hadapannya tersebut.


"Silahkan duduk, nona…!!" Balas Gio sembari mengulurkan tangannya mempersilahkan Cella untuk duduk pada sofa yang ada di dekat mereka. Sedangkan Sean hanya diam saja.


"Menyingkir dari hadapanku." Ucap Cella menolak perintah Gio.


"Kau ingin mendengar sebuah kabar dengan cara duduk atau berdiri?" Kini Sean yang membuka suaranya.


Sean tahu jika Cella tidak akan mudah untuk di bujuk, Sean tahu jika Cella sangat keras kepala. Dia harus memakai sebuah trik untuk menaklukan wanita yang ada di sampingnya.


Sedangkan Cella melihat ke arah Sean dengan pandangan bencinya melihat pria tersebut.


"Mark Audison, papa tirimu itu telah menjualmu kepadaku." Ucapnya lagi.


Sukses membuat Cella melihat Sean tajam tidak percaya akan pendengarannya.


"Urusan kalian berdua tidak ada hubungannya dengan ku." Balas Cella dengan nada yang terdengar tidak suka.


"Jika kau tidak percaya, baca surat perjanjian itu. Jika kau menolak dan melanggar surat tersebut. Keluarga Audison dan juga mama mu akan aku jebloskan ke dalam penjara." Ancam Sean tanpa melihat ke arah Cella.


Cella terdiam karena nama mamanya kini di bawa-bawa. Bagaimana bisa Sean dan Audison melakukan hal itu kepadanya yang baru saja tiba di negara ini kemarin siang.


"Apakah ini perbuatan jahat kalian." Ucap Cella sembari melangkah dan berdiri tepat di hadapan Sean, dia pun meraih surat perjanjian yang ada di atas meja kaca di hadapannya.


Cella coba untuk membacanya dengan cepat, dia cukup cerdas untuk bisa cepat mengerti dari isi perjanjian tersebut.


Di saat Cella serius membaca isi perjanjian yang ada di tangannya, Sean dengan mudah melihat secara leluasa wajah Cella yang terlihat cantik natural. Cella tidak menutupi sama sekali wajahnya yang terlihat putih bersih dan mulus. Bintik-bintik hitam yang semalam Sean lihat ternyata hanyalah buatan Cella untuk menutupi kecantikan dirinya.


Sean memandang Cella dari bawah hingga ke atas kepalanya secara diam diam. Sungguh dia tidak percaya, jika Upik Abu nya sudah menjelma menjadi wanita yang sangat cantik dengan bentuk tubuh yang tinggi langsing berisi, tidak kalah dari seorang super model yang pernah ia kenal.


'Kau Upik Abu ku yang sudah menjelma menjadi seorang wanita yang sangat cantik.' Gumam Sean di dalam hatinya sembari terus memandang intens ke arah wajah cantik Cella.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.