
***Restauran Mewah***
Cella setuju melakukan kontrak jaminan yang terjalin di antara tuan Audison dan Sean Hamilton, dengan satu syarat. Cella tidak ingin tinggal di mansion keluarga Audison, dia ingin tinggal sendiri pada tempat yang ia inginkan.
Tanpa banyak berpikir tuan Audison tentu saja setuju akan syarat yang di ajukan oleh Cella. Tentunya membuat sang mama merasa sedih, karena Cella tidak bersama dengannya lagi.
Kini di sinilah dirinya, berada pada sebuah apartemen mewah yang ia miliki secara pribadi. Semua itu dapat di nikmati dengan cepat, atas bantuan dari beberapa anak buahnya yang cepat tanggap dalam bekerja.
Cella membutuhkan ruang dan tempat pribadi untuk ruang kerjanya sebagai seorang dokter, pembisnis dan juga ahli IT di dalam organisasi mafia yang ia geluti.
Jika Cella tinggal pada mansion keluarga Audison, semua pekerjaan Cella akan terbatas. Cella tentu tidak leluasa untuk melakukan semua pergerakannya.
Hari ini Cella memiliki pertemuan yang sudah di atur oleh tuan Audison. Mereka akan menandatangani kontrak jaminan tersebut, tentunya Cella akan selalu menepati semua janji dan keputusan yang ia buat.
Cella telah siap dengan pakaian santainya, dengan menggunakan celana kain hitam yang di padukan dengan kaos ketat berwarna putih, dan juga jaket kulit berwarna hitam. Tidak lupa rambut panjangnya hanya di ikat kuncir kuda agar rapi. Sedangkan pada wajahnya masih setia akan bintik-bintik hitam yang ia buat sebagai penyamaran dirinya.
Cella memasuki sebuah restauran yang cukup mewah dan kini berdiri di ambang pintu restauran tersebut. Seorang pelayan wanita restauran itu menatapnya remeh dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Kaca mata tebal Cella sungguh mencerminkan Cella bagaikan orang biasa yang tidak pantas masuk ke dalam restauran tersebut.
"Apakah anda sudah memesan meja, nona?" Tanya pelayan itu.
""Tidak. Tapi saya sudah memiliki janji temu di sini bersama seseorang." Jawab dingin Cella. Dia tidak suka melihat sikap remeh pelayan itu padanya.
Tanpa banyak bicara Cella menunjukkan sebuah pesan whatsapp kepada pelayan itu. Terlihat jelas nomer kamar VVIP restauran yang hanya di pesan oleh orang-orang penting dan tertentu.
Kembali tatapan remeh sang pelayan melihat Cella.
"Kenapa? Apa kau pikir aku berbohong? Apa perlu aku panggilkan orang yang telah memanggilku ke sini untuk keluar dan menjemput ku, karena tidak di izinkan masuk?" Balas Cella tidak salah sinis.
"Tidak. tidak sama sekali." Saat pelayan itu melihat nomer ruang VVIP tersebut, diapun mengingat jika ruangan itu sudah di pesan atas nama tuan Sean Hamilton.
Mana berani sang pelayan akan berurusan dengan tuan Sean Hamilton yang begitu angkuh, dingin, kejam, dan arogan.
"Silahka, nona. Saya antar lewat sini." Ucap ramah pelayan secara tiba-tiba.
Kemana hilangnya sikap remeh pelayan tadi saat melihat penampilan fisiknya. Ruangan yang di tuju oleh Cella, begitu mewah dan privasi.
Di sinilah mereka sekarang. Cella, Sean Hamilton, dan asisten pribadi Sean.
Sean begitu heran melihat penampilan biasa Cella hari ini, tidak seperti wanita-wanita lainnya yang ia kenal. Mereka akan tampil cantik dan anggun dengan perhiasan, mak-up serta gaun mewah mereka. Namun Cella jauh dari kata itu semua, Cella cukup sederhana senyaman yang ia inginkan.
"Apa kau selalu berpenampilan seperti ini?" Tanya Sean akan penampilan Cella.
Sean sudah tahu bagaimana wajah asli Cella yang cantik walaupun tidak memakai polesan make- up sama sekali, wajah cantik yang tertutup oleh bintik-bintik hitam yang sengaja Cella buat. Apalagi Sean dapat mengingat bagaimana mulusnya kulit putih Cella, dan juga kemolekan tubuh Cella yang indah.
Saat Sean memikirkan malam itu, tiba-tiba tubuhnya bereaksi.
'Sial. ' Umpat Sean di dalam hatinya, karena tubuhnya begitu cepat merespon hanya karena memikirkan bagaimana cantik dan moleknya tubuh Cella.
"Apa ada masalah padamu?" Tanya Cella tidak ingin basa basi lagi.
"Serahkan surat perjanjian yang harus aku tanda tangani. Aku sibuk dan masih ada urusan penting hari ini." Ucap Cella tidak ingin berlama-lama bersama Sean.
Dirinya begitu tidak suka berada dekat dan lama bersama Sean. Cella cukup menahan amarah yang kapanpun bisa memuncak.
"Kau sibuk? Apa yang bisa kau kerjakan?" Tanya Sean tidak percaya jika Cella adalah orang yang super sibuk akan semua pekerjaannya.
"Kau tidak perlu tahu apa pekerjaanku."
Sean tertawa meremehkan.
'Kau begitu terlihat jelas tidak suka berada di dekatku. Selajutnya apakah kau bisa menghindari kedekatan kita di masa depan?' Gumam Sean di dalam hatinya.
Cella menatap tajam Sean yang sedang tertawa meremehkannya.
"Baiklah. Gio…berikan berkas kontrak yang harus ia baca dan tanda tangani." Perintah Sean pada asisten pribadinya itu.
"Baik tuan." Balas Gio dengan segera melakukan apa yang di perintahkan tuannya.
"Silahkan di baca dengan teliti, nona." Ucap Gio sembari meletakkan berkas di hadapan Cella.
Tanpa banyak berpikir dan bicara lagi, Cella meraih dan membaca semua isi yang ada di dalam berkas tersebut.
Kontrak akan berlaku selama waktu yang tidak di tentukan.
Kontrak menyatakan jika Cella akan menjadi sekretaris sekaligus asisten pribadi cadangan untuk Sean.
Cella bekerja tidak mendapatkan gaji sama sekali, karena Cella akan bekerja secara gratis tanpa bayaran.
Aturan kontrak bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti aturan yang di tentukan oleh Sean.
Jam kerja Cella mengikuti jam kerja Sean.
Itulah isi aturan kontrak yang harus Cella patuhi. Untuk membantah ia pun tidak bisa, begitu mahal harga yang ia bayar untuk menyelamatkan perusahaan Audison, mama dan adiknya.
"Apakah kontrak ini masuk akal, bagaimana aku bisa bekerja secara gratis tanpa di bayar. Lalu biaya hidupku bagaimana?" Tanya Cella tidak percaya jika Sean tega tidak memberikan dirinya gaji atas pekerjaannya.
"Untuk bayaran ataupun gaji, kau minta saja pada tuan Audison. Kau pikir melunasi hutang perusahaan Audison yang begitu besar cukup memakai gajimu selama seumur hidup." Ucap Sean lagi-lagi meremehkan.
Cella sebenarnya tidak keberatan apakah ia memiliki gaji ataupun tidak. Ia hanya mempertanyakan itu agar Sean menganggap dirinya masih wanita biasa dengan kehidupan yang biasa juga. Sean tidak boleh tahu kalau Cella tidak butuh uang yang Sean miliki sepeserpun.
Cella cukup mampu dan kaya, tidak kalah dari kekayaan yang Sean miliki. Namun itu adalah salah satu rahasia yang harus ia simpan dengan rapat dan tidak ada yang boleh tahu.
Cella menghembuskan nafasnya perlahan, sekedar meringankan beban amarahnya saat ini
"Apakah aku tidak mendapatkan hari libur?" Tanya Cella.
"Jika aku libur, atau melakukan perjalanan bisnis dan kau tidak ikut. Di sanalah kau bisa libur." Balas Sean dengan dinginnya.
Dari beberapa aturan kontrak yang sudah di tentukan, Cella hanya bertanya masalah hari libur dan gaji. Membuatnya sedikit kecewa, tidak ada perlawanan sedikitpun.
"Rupanya kau begitu menyayangi mama mu. Sehingga rela melakukan apa yang di inginkan oleh tuan Audison." Celetuk Sean.
Cella melihat ke arah Sean yang ada di hadapannya.
"Setiap anak pasti akan menyayangi mama mereka. Anda pasti tahu maksud saya kan, tuan Sean Hamilton."
Sean terdiam, ia sangat mengerti apa yang di ucapkan oleh Cella.
"Cepat tanda tangani, dan kau bekerja mulai besok pagi. Aku tidak ingin kau terlambat di hari pertama mu bekerja." Ucap tegas Sean memeberikan sebuah peringatan bagi Cella.
"Iya aku mengerti."
"Oya. Satu lagi…!" Ucap Sean terhenti sejenak.
"Apa itu tuan?" Tanya Cella merasa penasaran.
"Apakah bisa kau tampil lebih baik lagi? Lihatlah penampilanmu, apakah bisa di katakan sebagai seorang sekretaris dan asisten pribadi dari Sean Hamilton?" Ucapnya sembari melihat keseluruhan penampilan Cella yang terkesan biasa saja.
Cella tidak menjawab, cukup malas dia berbicara jika itu sudah menyangkut soal penampilannya. Cella akan tetap pada penyamarannya. Cella tidak peduli penampilannya pantas ataupun tidak menjadi sekretaris dan asisten cadangan Sean Hamilton.
'Tentu saja aku akan tampil dengan apa yang aku inginkan. Aku ingin lihat sampai mana kau bisa bertahan dekat bersamaku, tuan Sean Hamilton? Kontrak tanpa batas waktu yang di tentukan, apakah ini masuk akal? Dasar pria brengsek.' Gumam Cella di dalam hatinya.
"Mengapa diam saja? Apakah ada yang kau pikirkan, atau ada yang ingin kau tanyakan?" Tanya Sean di sela-sela pikiran Cella.
"Kontrak tanpa batas waktu yang ditentukan, apakah itu masuk akal, tuan Sean?" Tanya Cella ingin tahu apa pendapat Sean mengenai itu.
"Apakah kau keberatan atas aturan itu?" Tanya balik Sean.
'Aku tahu kau tidak akan mengalah dan selalu saja seenak maumu sendiri. Kau egois Sean Hamilton, pria licik dan brengsek seperti mu. Harus mendapatkan pelajaran yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu.' Gumam kembali Cella di dalam benaknya.
"Apa aku punya pilihan, jika aku mengatakan keberatan. Apakah anda akan merubah aturan itu?" Tanya Cella.
"Jika kau bersikap dan bekerja dengan baik, tentu saja akan ada kelonggaran dan perubahan pastinya aku lakukan pada aturan waktu kontrak itu." Jawab Sean.
'Apa kau pikir aku akan percaya dengan pria licik seperti dirimu?' Gumam Cella dalam benaknya.
Cella diam tidak ingin menjawab apapun? Dia sudah cukup mengerti apa yang di inginkan Sean. Sean hanya akan menjadikan Cella sebagai hiburan dan kacungnya seperti dulu lagi. Namun ada yang tidak Sean ketahui, jika Cella yang sekarang bukanlah Cella yang dulu.
"Baiklah tuan. Jika tidak ada yang di bicarakan lagi. Bisakah kita tanda tangani ini dengan cepat?" Ucap Cella ingin segera menyelesaikan urusan mereka dan pergi ke rumah sakit, untuk melihat kondisi putra dari temannya Diana yang sudah menjadi pasiennya sekarang.
Sean terdiam dengan tatapan datar melihat ke arah Cella. Cella tidak ingin menanggapi. Ia memutuskan untuk menandatangani kontrak tersebut, lalu ingin segera pergi.
Sean yang juga tidak ada pilihan lain, ikut menandatangani kontrak tersebut. Satu berkas ada padanya, dan satu berkas ada pada Cella.
"Baiklah Cella, sampai bertemu besok pagi. Semoga hari-harimu akan menyenangkan saat bekerja bersamaku." Ucap Sean mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Sampai bertemu besok pagi, tuan Sean." Balas Cella menyambut uluran tangan Sean.
Cukup lama mereka saling berjabat tangan dan memandang dengan pikiran mereka masing-masing. Tanpa mereka ketahui jika itu adalah awal dari segalanya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.