
Terimakasih sudah mampir
Jangan lupa klik jempol
Tinggalkan komentar
Klik ❤️ juga yah apalagi Vote ❤️❤️❤️
Setelah sampai di kantin Olivia ingin sekali langsung pulang tapi sudah janji dengan Para Nyai.
"yuks guys kita berangkat," ucap Olivia sambil menahan sakit dipundaknya karena cengkraman Ariz.
"Kenapa nyai rempongk buru- buru amat santuy aja," ucap Aliana.
"Mau berangkat sekarang atau nanti, kalau ga aku pergi nih bad mood aku," ucap Olivia langsung pergi meninggalkan mereka.
"Kenapa dengan Olivia yang," tanya Devano sambi melihat kepergian Olivia.
"Tidak tahu tadikan dia berbincang dengan Ariz mana aku tahu," jawab Rena sambil meminum es jeruk yang belum habis.
"Kanjeng Nyai kayanya dia lagi butuh sendiri, biarkan dulu," ucap Aliana sambil mengedipkan mata, kode agar pacarnya tidak tahu.
Setelah beberapa menit kemudian dari arah belakang seseorang datang.
"Guys aku jalan duluan," ucap Ariz tiba-tiba dengan nada kesal sambil melambaikan tanganya.
"Haiz kenapa lagi dengan mereka, sayang walau hubungan mereka tidak akur jangan sangkut pautkan dengan kita yah," ucap Devano sambil mencium tangan kanan Rena yang mencoba meyakinkan Rena.
"Ya tergantung, iyakan Nyai receh kalau kalian bantu Ariz menyakiti Olivia kami tidak terima juga, " ucap Rena sambil menatap Aliana.
"Betul itu kalian kalau ikut campur urusan mereka awas aja, apalagi klo menyakiti Olivia aku tidak akan segan lagi loh," ucap Aliana.
Mereka hanya menjawab dengan anggukan saja.
.
.
.
.
Dikantor Alexander Company
Di Gedung yang menjulang tinggi keatas ada seseorang yang datang ke kantor tersebut dengan setelan jas berwarna abu abu membuat kegantengannya menjadi pusat perhatian para karyawan Alexander Company.
"Selamat siang, bisa saya bantu Tuan," tanya resepsionis.
"Saya mau bertemu dengan Deniz Samuel Alexander," ucapnya.
"Apakah Tuan sudah membuat janji dengan Big Bos kami," ucap resepsionis.
"Belum, tolong telepon asistennya saya Hendrik Sanjaya datang menemuinya," ucap Hendrik.
Resepsionis itu langsung menelpon Asistand Jo
Kring ... Kring ...
"Hallo Tuan Jo, di lobby ada tamu atas nama Hendrik Sanjaya ingin bertemu dengan Big Boz," tanya Hana resepsionis.
"Suruh naik saja, lain kali kalau dia datang suruh langsung naik ya Hana jika Big Boz ada di Kantor, tolong antarkan ke atas!" jawab Asistand Jo.
"Baik Tuan saya akan mengantar Tuan Deniz ke ruangan Big Bos," ucap resepsionis sambil menutup telepon.
"Mari Tuan Hendrik Saya antarkan Anda ke Ruang Big Bos," ucap Hana resepsionis.
"Ok," jawab Hendrik singkat.
Resepsionis cantik itu menunjukkan jalan menuju keruangan Big bos, di lantai tertinggi Hendrik sudah melihat Jo ada didepan lift, untuk menyambut sahabat karibnya dimasa kuliah dulu.
"Baru sepuluh hari gewe disini, gimana kabar lo dan si dingin Big Bos?" tanya Hendrik.
"Kabar gewe baik, kabar Big bos juga baik dan kamu tahu tidak Si dingin Bigbos sudah menikah dan wanitanya waw cantik luar biasa," ucap Jo kegirangan, Jo kalau ketemu sahabat karibnya Hendrik tidak bisa menjaga sikap.
"Benarkah penasaran gewe Jo," ucap Hendrik.
Setelah sampai di ruangan Deniz, Asisten Jo mempersilahkan Hendrik untuk masuk.
Tok ... Tok ...
"Tuan, Tuan muda Sanjaya sudah datang," ucap Asistand Jo sambil membuka pintu kaca kantor Bigbos.
"Emm," jawabnya
"Huh, cuma jawaban itu saja kau bener keterlaluan kawan," ucap Hendrik.
"Gewe lagi sibuk ada perlu apa lo kemari," ucap Deniz sambil mengetik laptop mengerjakan kerjaanya karena ingin cepat2 pulang ingin bersama sang istri untuk mendekatinya.
"Gewe kesini mengundang lo ke Acara Amal yang diadakan oleh Orang tuaku," ucap Hendrik sambil menaruh undangan di atas meja, "Jo bilangin sama sobat kita ini jangan kerja terus, nanti ga ada yang mau sama si dingin Bigbos kita ini, jangan kebanyakan lembur nanti istrinya di ambil orang," ledek Hendrik.
"Sialan lo," jawab Deniz sambil melempar kertas kepadanya
Jo yang sedari tadi diam mendengar Hendrik bicara seperti itu langsung menghampirinya.
"Jangan seperti itu omongan adalah doa," merangkul pundak dan menjapit kepala Hendrik sambil pura-pura memukul kepalanya padahal cuma menyentuh rambut Hendrik saja.
Deniz yang dari tadi hanya duduk saja langsung berdiri dan memukul lengan sobatnya itu berulang kali sehingga Hendrik jadi teraniaya oleh mereka berdua, sambil bersindau gurau karena sudah lama tidak bertemu.
"Huh, kalian ini kaku sekali kerjaan terus di pikirin hidup ini ga cuma duit yang dicari, tapi kebahagian karena bahagia itu tak ada nilainya," ucap Hendrik terengah-engah.
Jo selama ini hanya diem saat menjadi asistend pribadinya menjadi berubah saat Hendrik datang. Jo diam bukan berarti takut bercanda dengan Deniz tapi menghargai Deniz sebagai bosnya.
"Heleh bontot kau bocil gendut yang menggemaskan bisa bawel juga, kukira mau kasih undangan nikah huh," ucap Deniz.
"Undangan menikah menyusul sebentar lagi, lagi pendekatan sama si Tomboy Kecil," ucap Hendrik sambil duduk di sofa.
"Huh, si Tomboy kecil cinta pertama lo itu," ucap Jo.
"Yooii, sekarang makin Cantik aja bro, jodoh emang tidak kemana gewe cari dari awal datang ga ketemu, eh ... dia datang dengan sendirinya, bahagia rasanya!" ucap Hendrik membanggakan diri sendiri.
"Masih kalahlah sama istri gewe cantiknya," ucap Deniz tidak mau mengalah.
"Waw si dingin Bigbos ini laku juga sejak ditinggal .... upss," ucap Hendrik sambil menutup mulutnya.
"Jangan sebut wanita sialan itu lagi," ucap Deniz meninggi
"Baiklah, oiya undangan ini pasangan yah jadi lo harus bawa kakak ipar, gewe jadi penasaran secantik apa kakak ipar, jangan bawa asistendmu yang gay ini," ucap Hendrik sambil menepuk pundak Jo.
"Sialan Lo, gewe bukan gay tapi belom ada pasangan aja hahaha ... gewe buktikan bawa pasangan tapi siapa yah?" ucap Jo sambil mikir siapa yang mau diajak.
"Jangan kebanyakan mikir cepat tua, bro gewe ga janji bisa datang kebetulan gewe ada di luar Kota, doain ja biar cepat selesai," ucap Deniz sambil meminum kopi buatan Jo yang sudah disiapkan.
Ditengah perbincangan bersama kedua Sahabatnya Deniz mendapat telephone. Di handphone Deniz terdapat nama Momo memanggil, dengan sigap Deniz menjauh dari mereka.
Deniz yang mendapat telephone dari Olivia merasa bahagia karena Olivia minta izin terlebih dahulu sebelum pergi. Walau Deniz tau kalau hati Olivia belum bisa melupakan mantan pacarnya setidaknya Olivia menghargai Deniz kalau dia adalah suaminya.
Gewe \= aku ( bahasa baru dari author )😁😁
Terimakasih sudah mampir
Jangan lupa klik jempol dan komentar
Maaf ada bahasa baru yang Outhor pake
Jika suka bahasa baru othor komen yah