
...~Happy Reading~...
“Assalamualaikum … “ Wajah Hilal yang semula terlihat begitu Lelah dan frustasi setelah melihat perdebatan kakak pertama nya yang berujung jatuh nya talak, membuat perasaan Hilal semakin kacau.
Namun, saat ia membuka pintu ruangan putri nya, seketika itu juga air mata tak kuasa untuk ia tahan. Rasa senang dan bahagia Ketika melihat sang istri sudah berada di ruangan putri nya, membuat hati Hilal lega.
Laki laki itu segera mempercepat langkah nya, dan tanpa aba aba tiba tiba ia langsung memeluk istrinya dari belakang, tanpa memperdulikan apapun. Bahkan, Hilal sampai tidak memperhatikan bahwa di dalam ruangan itu masih ada kedua mertua nya. Karena saat ini yang ada di benak nya hanya bertemu dan bisa memeluk istrinya.
Hilal tidak perduli, bagaimana nanti dirinya akan mendapatkan pukulan atau bahkan makian dari Khalifa karena kelancangan nya. Yang terpenting, saat ini dirinya bisa memeluk sang istri lebih dulu, itulah yang ada di pikiran Hilal.
“Alhamdullilah, terimakasih. Akhirnya kamu datang hiks hiks. Aku sudah berusaha mencari kamu, menemui kamu tapi begitu sulit. Aku seneng banget kalau pada akhirnya kamu mau dating kesini, kami merindukan mu Sayang, sangat merindukan kamu.”
Deg!
Jantung Khalifa berdetak dengan begitu cepat, panggilan kata saying yang Hilal ucapkan, nyatanya mampu membuat air mata yang semula sudah surut, kini Kembali mengalir deras lagi.
“Maafin aku, begitu banyak luka yang sudah ku berikan ke kamu. Aku memang laki laki bodoh, dan tidak tahu diri, maafkan aku Khalifa. Aku janji akan memperbaiki semuanya, aku akan menjadi lebih baik lagi, tapi aku mohon jangan pergi. Jangan pernah berniat untuk meninggalkan kami, aku mohon.” Pinta Hilal lagi Panjang lebar masih dengan posisi yang sama, yakni memeluk Khalifa dari belakang.
Sementara itu, Aca yang mendengar suara ayah nya begitu serak dan di sertai oleh isakan tangis hanya bisa terdiam Sambil memiringkan kepala nya ke samping. Sedikit heran, karena ayah nya selama ini mengatakan padanya agar ia tidak menangis, akan tetapi mengapa kini justru dial ah yang menangis.
Tak berbeda jauh dari Aca, abi Mike dan umma Chila pun sama, keduanya Nampak sedikit terkejut sampai mengerutkan dahi kala melihat Hilal menangis sambil memeluk istrinya.
“Mas … “ Khalifa berusaha melepaskan pelukan Hilal, namun laki laki itu menggelengkan kepala dan semakin mengeratkan pelukan nya.
“Ayah kok peluk peluk Bunda telus?” tanya Acá memanyunkan bibir nya sebal, membuat Hilal baru tersadar bahwa kini dirinya berada di tempat yang kurang tepat.
“Maaf abi, Umma … “ ucap Hilal masih dengan suara serak nya.
Abi Mike hanya diam menganggukkan kepala, sedangkan umma Chila tersenyum begitu tulus dan lembut kepada menantu nya, “Karena kamu sudah disini, Umma dan Abi pamit pulang dulu ya?”
“Umma!” protes Khalifa langsung hendak menghampiri ibu nya, akan tetapi di tahan oleh sang anak.
“Bunda mau pelgi tinggal Acá lagi?’ tanya gadis kecil itu kembali memasang wajah murung nya, membuat Khalifa semakin tak tega dan akhirnya ia menggelengkan kepala.
“Selesaikan semuanya sayang, Umma yakin, ini semua sudah di atur sama Allah. Bismilah, percayakan semuanya kepada Sang Pencipta ya Sayang,” bisik umma Chila terdengar begitu lembut di telinga Khalifa, membuat wanita itu hanya bergeming di tempat nya.
“Acá sayang, cepet sembuh ya Nak. Oma sama Opa harus pulang dulu, nanti insyaallah kami akan datang lagi,” imbuh umma Chila kini hendak berpamitan kepada cucu nya.
‘’Aca sudah sembuh Oma, kan sudah ada bunda na Acá,” jawab anak kecil itu Sambil terus menggenggam tangan Khalifa seolah takut akan di tinggalkan.
Lagi lagi umma Chila tersenyum, ‘’Baiklah, assalamualaikum … ‘’
‘’Walaikumsalam … ‘’
Setelah kepergian abi Mike dan umma Chila, kini ruangan itu terasa sangat canggung. Hilal maupun Khalifa keduanya terdiam, karena Hilal masih merasa sangat malu dengan putri nya yang sempat protes tadi. Ia sangat ingin bicara berdua hanya berdua dengan istrinya, akan tetapi tidak mungkin dirinya meninggalkan Aca karena kini sedang tidak ada orang.
‘Astaghfirullah!’ gumam Hilal mengusap wajah nya cukup kasar.
...~To be continue …....