
...~Happy Reading~...
Menempuh perjalanan beberapa saat kini akhirnya Khalifa dan Abi Mike sudah tiba di Pondok. Khalifa bisa melihat ada beberapa mobil baru di halaman Pondok, yang menandakan bahwa tamu dari ibunya sudah tiba.
Tidak ingin membuat ibu nya khawatir karena melihat matanya sembab, dan akan mengacaukan reuni itu,akhirnya Khalifa memilih untu langsung pulang ke rumah mertua nya.
“Sayang, kamu yakin?” Abi Mike merasa sedikit ragu dengan keputusan putri nya.
“Insyaallah Khalifa yakin Abi. Lagipula, Kalifah tidak mau mengganggu acara Umma,” Khalifa berusaha tersenyum se tenang mungkin untuk meyakinkan ayah nya, “Sebentar lagi, mba Hasna akan datang kesini Abi.”
Setelah cukup ama Khalifa meyakinkan sang ayah, kini pada akhirnya dengan berat hati abi Mike menganggukkan kepala nya. Ia mengusap lembut kepala putri nya lalu memeluk nya sebentar sebelum akhirnya ia berpisah di halaman itu dan masuk ke dalam rumah masing masing.
“Assalamualaikum ... “ ucap Khalifa memasuki rumah.
Sepi! Itulah yang Khalifa dapatkan saat pertama kali masuk ke sana. Tidak ada siapapun, Khalifa tahu itu, karena kedua mertua nya sedang menghadiri acara ke kampung sebelah, sedangkan suami dan anak nya ada di rumah sakit.
Khalifa menarik napas nya dengan cukup berat lalu hendak pergi ke kamar. Namun, niat itu harus terurung saat ia mendengar suara langkah kaki sedikit cepat memasuki rumah nya.
“Assalamualaikum ... “
“Walaikumsalam,” Khalifa yang sudah menaiki tangga hingga setengah perjalanan kini akhirnya turun kembali dan menyambut kedatangan kakak ipar nya, “Ada apa mba?”
“Ah syukurlah kamu sudah di rumah Khal! Mba mau bicara sama kamu dari tadi.” Tanpa aba aba, Hasna menarik tangan Khalifa dan mengajak nya untuk duduk di sofa.
“Sepertinya penting banget ya Mba?” tanya Khalifa semakin penasaran.
“Hilal pingsan di toilet!” Khalifa langsung mengerjapkan matanya berulang, mencoba mencerna kembali apa yang di katakan oleh kakak ipar keduanya, “Tadi mba ke sana mau lihat perkembangan Aca, tapi dia lagi nangis.”
“M—Mas Hilal pingsan mba? K—kenapa bisa? T—tadi Khalifa ke sana semuanya sehat! Bahkan Khalifa sempat bicara sebentar dengan nya,” wanita itu bergumam lirih sambil menundukkan kepala.
Hilal pingsan tidak penting, dan ada yang lebih penting. Sebentar Khalifa merasa kata kata ini sedikit menyakitkan, bagaimana bisa orang pingsan di toilet masih di katakan baik baik saja dan tidak penting, batin Khalifa.
“Jadi gini, tadi itu a—“
“Assalamualaikum .... “ Pembicaraan Khalifa dan Hasna terhenti, kedua wanita yang tengah bicara di ruang tamu itu sama sama menoleh saat mendengar ada seorang tamu yang datang.
Khalifa pun dengan terpaksa izin pamit kepada kakak ipar nya untuk membukakan pintu. Seorang santriwati yang mengantarkan sebuah paket untuk Khalifa. Dan setelah menerima nya, Khalifa pun kembali masuk dan menemui Hasna.
“Apa iu Khal?” tanya Hasna penasaran, sebuah amplop sedang yang tidak di ketahui siapa pengirim nya.
“Khalifa gak tau Mba,” jawab Khalifa membolak balikkan amplop tersebut, “Sudahlah buka nanti aja Mba, kita lanjut lagi Mba tadi sampai mana.”
Khalifa meletakkan amplop itu di atas meja, lalu kembali melanjutkan pembicaraan nya dengan hasna. Namun, entah mengapa matanya terus tertuju dengan isi amplop terebut, sehingga membuat nya lupa dan tidak bisa nyambung dengan apa yang di katakan oleh Hasna.
“Buka saja Khal kalau kamu penasaran. Mba juga soalnya,” Hasna terkekeh pelan.
Khalifa pun menganggukkan kepala, lalu mengambil amplop di atas meja itu dan segera membuka nya. Untuk sesaat, Khalifa terdiam, ia menatap Hasna lalu amplop dan Hasna dan amplop kembali, seolah hatinya sedang sedikit cemas dan takut.
Takut, memang nya apa yang ia takutkan? Sangat tidak mungkin jika amplop itu berisi bom, atau bahkan surat gugatan perceraian dari Hilal. Itu lebih sangat tidak mungkin, tapi entah mengapa Khalifa merasa benar benar takut saat akan membuka nya.
‘Astagfirullah aladzim!’ Khalifa langsung menutup mulut nya dengan tangan saat melihat isi dari amplop tersebut, sontak saja hal itu membuat Hasna semakin penasaran dan segera mengambil amplop di tangan Khalifa untuk melihat nya juga.
‘Astagfirullah!’ eskpresi nya sama seperti Khalifa yang begitu terkejut melihat isi dari amplop tersebut.
...~To be continue .... ...