
...~Happy Reading~...
“Kamu gapapa?” Abi Mike menggenggam tangan putri nya saat sudah memasuki mobil, rasanya begitu sakit dan sesak kala melihat putri kesayangan nya kii menangis karena seorang laki laki.
Bukan berarti ia tidak menyayangi Maira. Namun, selama ini memang lah Khalifa yang sangat jarang menangis. Maira, sedikit bar bar namun cengeng, sedangkan Khalifa begitu lembut tapi kuat dan jarang menangis.
Memang benar, Khalifa sangat jarang menangis. Akan tetapi, sekalinya gadis kecil nya itu terluka dan menangis, maka itu akan terus berlanjut.
Tidak akan reda hanya dalam waktu satu dua jam. Berbeda dengan Maira, walau pun cengeng tapi ia begitu mudah luluh. Sedangkan Khalifa, walau pun mulut nya berkata iya, namun hatinya kaan terus membekas.
“Kenapa kamu harus menyembunyikan ini dari Abi dan Umma, hem?”
Khalifa hanya mampu menundukkan kepala nya sambil menangis, ia sudah tidak tahu harus berkata apalagi. Karena kini, hati dan pikiran nya benar benar begitu sakit, karena memikirkan Aca yang tidak mau bertemu dengan nya.
Mungkin, Khalifa bisa untuk tidak bertemu dengan Hilal. Tapi untuk Aca, ia benar benar tulus, mengingat sejak bayi anak itu hampir selalu bersama nya. Dan kini, hanya karena satu kesalahan yang ia buat, seolah ia akan kehilangan Aca selama nya.
“Khalifa, lihat Abi. Sayang ... “
“A—Abi hiks hiks, apakah Khalifa jahat? Apakah Khalifa terlalu egois? Kenapa Abi? Kenapa Khalifa harus melakukan itu dulu? Kenapa Khalifa harus menurunkan foto itu, kenapa Khalifa harus menyembunyikannya dan kenapa Khalifa harus gegabah hiks hiks.”
Tangisan Khalifa pecah di dalam mobil ayah nya, berulang kali wanita itu memukul dada nya yang terasa begitu sesak melihat pemandangan dimana Aca yang begitu asik bersama Mila sedangkan dengan dirinya tidak mau bertemu. bahkan, Khalifa ingat jelas bagaimana Aca membuang wajah nya saat melihat kedatangan nya.
“Enggak sayang! Kamu tidak jahat! Kamu juga tidak egois, sudahlah Abi mohon jangan pikirkan mereka lagi. Untuk saat ini, tenangkan diri kamu dulu. Abi yakin, ini akan segera berlalu, ini salah salah paham dan kurang nya komunikasi. Abi yakin, semua akan kembali baik baik saja, Aca akan kembali sama kamu lagi. Iya?”
Entah mengapa, pikiran Khalifa hanya tertuju pada wanita ibu dari dua anak itu. Sejak perdebatan antara dirinya dan Hilal hingga Aca, entah mengapa pikiran nya terus menjurus untuk menuduh wanita itu. Mengingat perdebatan nya dengan Mila semalam, membuat Khalifa merasa semakin takut jika apa yang ia pikirkan memang benar adanya.
Drrtt ... Drrtt ...
Getaran di ponsel Khalifa seketika membuat tangisan wanita itu terhenti. Ia melihat nama kaka ipar nya tertera di layar ponsel, membuat nya segera menghapus air mata dan lekas menjawab panggilan telfon itu.
“Assalamualaikum mba Hasna.” Ucap Khalifa dengan suara sedikit serak.
“Walaikumsalam, Khalifa kamu gapapa kan? Kamu dimana? Bisa ketemu sama mba sebentar?” tanya mba Hasna beruntun dan sedikit panik.
“Khalifa sama Abi mba di jalan mau pulang.” Jawab Khalifa melirik ke arah nya yang kembali mengemudikan mobil nya. Abi Mike memilih diam karena tidak ingin menganggu putrinya.
“Ah begitu, ya sudah. Nanti mba mampir ke Pondok, ada yang mau mba sampaikan ke kamu.” Ucap mba Hasna membuat Khalifa semakin penasaran.
“Iya mba,” Khalifa menganggukkan kepala nya lalu mematikan sambungan telfon nya.
Begitu sambungan telfon terputus, Khalifa terdiam untuk sesaat. Memikirkan kembali dengan apa yang kira kira akan di katakan oleh mba Hasna.
Mengapa suara nya terdengar seperti orang khawatir dan sedikit panik. Tak ingin menerka nerka Khalifa pun segera meminta tolong ayah nya untuk mempercepat laju kendaraan nya agar lebih cepat tiba di Pondok.
...~To be continue ......