
...~Happy Reading~...
Keesokan hari nya, Khalifa merasa tubuh nya sudah membaik. Setelah perdebatan nya dengan Milla semalam, kini wanita itu memilih untuk pulang lagi ke rumah orang tua nya.
Pagi ini, Khalifa berniat untuk ke rumah sakit untuk memastikan keadaan putri nya, setelah tadi dirinya bertemu dengan ayah mertua nya yang sedang berada di halaman bersama abi Mike. Kini, Khalifa bisa bernafas lega kala mendengar kabar bahwa keadaan Aca sudah membaik.
“Kamu pergi sama Abi,” Baru saja Khalifa hendak masuk ke dalam mobi, akan tetapi tangan nya segera di tahan oleh sang ayah, “Abi juga mau lihat keadaan Aca.”
“Tapi Abi, bukankah hari ini Abi akan—“
“Itu bisa di tunda! Tunggu sebentar, Abi akan bersiap!” Khalifa hanya menganggukkan kepala nya pelan.
Sedikit bingung, karena hari ini seharusnya sang ayah harus bekerja di luar untuk menemui teman lama nya. Kemarin, tanpa sengaja Khalifa mendengar pembicaraan abi Mike dengan temannya.
Tapi kini, justru malah memilih menemani nya ke rumah sakit. Seolah tahu bahwa putri nya sedang tidak baik baik saja, tentu saja Mike lebih memilih mendampingi putri nya.
“Umma gak ikut Abi?” tanya Khalifa saat memasuki mobil bersama ayah nya.
“Umma kamu sedang menunggu tamu, Sayang. Makanya, kita pergi berdua.”
“Tamu? Siapa?”
“Tante Naura,”
“Ah, sepertinya Khalifa mencium sesuatu disini.” Goda Khalifa sedikit terkekeh.
Bukan bermaksud kurang ajar, hanya saja Khalifa merasa lucu dan kini ia paham mengapa abi Mike memilih pergi meninggalkan Pondok dengan alasan ingin mengantarkan nya.
Karena nanti akan kedatangan tante Naura, dimana wanita itu sudah pasti akan datang bersama suami dan para sahabat nya, mungkin.
Sedikit cerita yang Khalifa tahu, tentang asmara antara umma Chila dengan suami tante Naura. Dan bagaimana permusuhan halus antara abi nya dengan uncle Clayton, membuat Khalifa merasa gemas sendiri.
“Astagfirullah, sudahlah jangan membahas hal yang tdiak penting, sekarang kita fokus tujuan kita saja.” Kekehan Khalifa semakin tak bisa di tahan kala melihat raut wajah ayah nya yang sedikit kesal.
Setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit, tanpa sadar kini mobil yang di tumpangi abi Mike dan Khalifa sudah tiba di rumah sakit tempat Aca di rawat. Abi Mike menyuruh Khalifa untuk masuk lebih dulu, karena ia harus mengangkat panggilan telfon dari istri nya.
"Tapi Abi jangan lama lama ya?" gumam Khalifa sedikit pelan, entah mengapa ia merasa sedikit ragu untuk berjalan sendiri menemui anak dan suami nya.
Entah karena dirinya terlalu overthinking atau memang firasat nya yang sedang tidak bisa di ajak kerjasama. tapi ia merasa bahwa ia begitu takut untuk berjalan sendiri.
"Iya Sayang, sebentar lagi. Ini Umma kamu menitip sesuatu," ucap Abi Mike tersenyum sambil mengusap kepala putri nya
Khalifa pun akhirnya menganggukkan kepala dan bergegas untuk masuk menuju ruangan Aca. Beruntung, tadi Khalifa sempat menanyakan lebih dulu alamat kamar dimana Aca di rawat kepada umi, jadilah kini wanita itu tidak perlu bertanya lagi kepada perawat dan bisa langsung menuju ruangan Aca.
Suami? Hingga saat ini, Hilal tidak mengirimi nya pesan, bahkan chat Khalifa sejak semalam belum di buka, yang mana berarti mungkin laki laki itu tidak membawa ponsel. Pikir Khalifa.
“Assalamualaikum ....” Baru saja Khalifa membuka pintu, tiba tiba ia langsung di buat mematung di tempat.
Pemandangan yang membuat dada nya sedikit sesak, kini menjadi sambutan pertama kala ia datang. Pantas saja, tadi waktu dirinya berpamitan dengan umi Nilla ia tidak menemukan keberadaan kakak ipar nya.
Karena wanita itu ternyata sudah berada di rumah sakit, mengantarkan Hilal dan Aca makanan. Entah sejak kapan, tapi kini Khalifa sangat tidak menyukai keberadaan wanita tersebut.
“Mas—“
“Kenapa baru datang!”
Deg!
Hanya tiga kata, namun terdengar begitu menusuk kala di sampaikan dengan nada yang begitu datar dan dingin membuat dada Khalifa semakin terasa sesak.
...~To be continue ... ...