Bunda Untuk Nasha

Bunda Untuk Nasha
Bab 43


...~Happy Reading~...


“Kenapa Mas? Kenapa Mas mau ke dokter kandungan?” Khalifa mendongakkan kepala nya, menatap lekat wajah suami nya yang kini terlihat begitu pucat, namun begitu menyakitkan untuk Khalifa.


Hilal menarik napas nya panjang sambil memejamkan mata nya singkat, ia mendekati Khalifa dan mengajak nya untuk duduk. Dengan lembut, laki laki itu menggenggam jemari tangan Khalifa, membuat hati wanita itu semakin terasa tersayat.


“Apakah mba Mila yang menyuruh kamu Mas? Apakah dia yang meminta kamu untuk membawa ku periksa? Kenapa? Apakah Aca saja tidak cukup buat kamu? Apakah kamu juga akan menuntut ku untuk segera hamil sama seperti mereka, dan—“


“Ssstttt!” Hilal meletakkan jari telunjuk nya di bibir Khalifa, satu tangan nya lagi terulur untuk menghentikan ucapan sang istri, “Aku sama sekali tidak bermaksud menuntut kamu. Sungguh.”


Hilal kembali menarik napas nya dengan berat, lalu ia menjelaskan tentang bagaimana yang di katakan oleh dokter beberapa waktu yang lalu ketika dirinya pingsan, karena dokter tidak menemukan gejala sakit apapun di tubuh Hilal.


Maka dari itu, dokter menyarankan agar Hilal memeriksakan istrinya yang mungkin sedang mengandung. Tanpa pikir panjang, bahkan Hilal sampai meninggalkan Aca hanya dengan perawat demi dirinya bisa segera mendatangi Khalifa.


Namun, respon yang dia terima justru Khalifa malah ketakutan dan menangis karena nya. Walau pun sebenarnya Hilal sendiri masih sedikit bingung, mengapa dirinya mendapatkan tatapan kebencian dari Khalifa dan juga Hasna. Bahkan, pipi mulus nya harus terkena tamparan maut dari sang kakak.


“Aku hanya ingin memastikan saran dari dokter. Jika memang benar sudah ada, alhamdulilah bukankah kita harus bersyukur dan menjaga nya? Dan jika pun memang diagnosa dokter salah, maka aku juga tidak akan kecewa.”


“Khalifa! Maaf jika memang perkataan ku sebelumnya membuat kamu sakit. Maaf jika memang sikap aku menyakiti hati kamu, tapi sungguh aku sama sekali tidak berniat sejauh itu, aku—“


“A—aku tidak mungkin hamil Mas,” potong Khalifa dengan cepat, ia melepaskan tangan Hilal yang menggenggam tangan nya lalu memundurkan posisi duduknya untuk menjaga jarak.


Kepala nya kembali tertunduk, dada nya kian terasa sesak dan hatinya begitu sakit, “M—mungkin wanita lain yang hamil.”


“Apakah kamu yakin Mas?” tanya Khalifa dengan suara bergetar, “Bagaimana jika ternyata wanita lain yang sedang hamil anak kamu?”


Deg!


Hilal langsung terdiam, tatapan yang semula begitu sendu dengan penuh harapan. Kini seketika langsung sirna, dalam sekejap raut wajah nya berubah menjadi datar saat mendengar perkataan dari istrinya.


“Astaghfirullah, Khalifa apa yang kamu bicarakan? Wanita lain? Apakah menurut kamu aku se bajingan itu sampai melakukan hal yang paling di laknat oleh Allah SWT?”


Hilal mengepalkan tangan nya, rahang nya mengeras dan nafas nya sedikit memburu, ia tidak menyangka jika Khalifa bisa memiliki pikiran sejauh itu tentang dirinya. Dia memang seorang duda, tapi dirinya bukan seorang player dan ia sangat tahu dimana batasan nya.


Jangankan untuk berbuat zina, untuk sekedar membalas tatapan mata yang bukan mahram nya saja ia selalu berusaha menghindar. Lantas mengapa kini istrinya sendiri begitu tega memfitnah nya sekejam itu.


Dan entah mengapa, mendapatkan tuduhan seperti itu membuat mata Hilal berkaca kaca, hatinya sesak dan rasanya ia sangat ingin menangis. Padahal, dirinya sangat jarang menangis, lantas mengapa hanya mendapatkan tuduhan seperti itu saja membuatnya ingin menangis.


Apalagi ketika ia melihat istrinya terisak di depan nya, hati Hilal semakin ikut sakit, dan ia juga sangat ingin menangis sambil memeluk istrinya.


Akan tetapi, ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan air mata itu, ia menarik napas nya dengan cukup panjang lalu kembali mendudukkan diri di depan Khalifa untuk bicara dengan kepala dingin.


‘Kenapa aku jadi cengeng? Apakah aku ketularan Aca? Astaghfirullah.’ gumam nya dalam hati.


...~To be continue .... ...