
...~Happy Reading~...
“Maafkan aku Mas, tapi bagaimana jika kamu yang ada di posisi ku? Apa yang akan kamu lakukan jika kamu melihat ku seperti ini dengan laki laki lain? Apakah kamu ikhlas Mas? Dan apakah kamu masih bisa berfikir positif tentang ku?”
Wajah Khalifa berderai air mata, hatinya begitu sesak saat harus menyerahkan foto yang baru saja ia terima beberapa waktu yang lalu dari seseorang yang tak ia kenal.
“Jika memang kamu masih bisa berfikir positif jika aku yang berada di foto itu, ku akui kamu memang laki laki yang hebat Mas.” Untuk sesaat, Khalifa terdiam. Wanita itu menarik napas nya dengan cukup panjang lalu ia hembuskan lagi perlahan, “Antara hebat karena masih memiliki pikiran positif, atau karena memang kamu tidak perduli jika aku yang di sentuh laki laki lain.”
Bibir tipis yang hampir tak pernah tersapu lipstik itu sedikit melebar menyunggingkan sebuah senyuman tipis sambil tangan nya terus mencoba menghapus air mata yang terus turun membasahi pipi nya.
“Maafkan jika istri mu ini tidak sempurna. Berulang kali aku mencoba dan kini aku sadar bahwa aku memang tidak akan bisa sesempurna Ning Kirana. Aku tidak akan bisa menggantikan nya, aku lelah Mas.”
Suaranya semakin bergetar dengan tangan yang terkepal erat, dadanya sesak hingga membuat nafas nya sedikit naik turun, “Aku bukan wanita sempurna. Aku masih banyak kekurangan, dan mungkin selamanya aku tidak akan bisa menjadi sempurna. Tolong pikirkan baik baik Mas, apakah benar kamu mengalami hal seperti yang kamu rasakan karena kehamilan ku? Karena saat ini, aku sedang datang bulan.” Imbuh Khalifa panjang lebar dengan di sertai senyuman getir di wajah nya.
“Sudah dua hari ini, aku sedang datang bulan. Karena itu kemarin aku tidak bisa ikut hadir dalam haul ning Kirana.” Lagi lagi bibir itu tersenyum di sertai air mata yang terus mengalir deras, “Lebih baik, kamu temui wanita itu dan pastikan bahwa dia—“
Grepp!
Diam nya Hilal, bukan karena ia membenarkan apa yang ada di pikiran Khalifa. Bukan maksud nya juga untuk tidak menyangkal, ia sengaja diam karena ingin memberikan ruang untuk Khalifa mengeluarkan semua keluh kesah nya.
Berbagai potongan demi potongan puzzle kini seolah berselancar di kepala Hilal, membuat laki laki itu memilih diam namun juga mencerna setiap kejadian dan kata yang dia dengar.
“Hiks hiks, a—aku pikir cinta itu akan tumbuh dengan seiring nya waktu. A—aku pikir, lambat laun aku benar bisa menggantikan posisi ning Kirana untuk kamu dan Aca. T—tapi, hiks hiks, tapi nyatanya semua sia sia. Semua usaha yang ku lakukan kini sudah tak ada artinya lagi dan—dan aku menyerah Mas, aku capek hiks hiks.”
“Cinta hanya sepihak dan aku tidak sekuat yang aku bayangkan di awal. Kita berjalan menggunakan dua kaki, lantas bagaimana jika salah satu kaki itu rapuh dan memilih untuk berhenti melangkah? Aku tidak sanggup jika harus berjalan hanya dengan menggunakan satu kaki, aku tidak seistimewa itu dan aku tidak sesempurna itu.”
Khalifa terus meluapkan semua perasaan nya dalam pelukan Hilal, sedangkan laki laki itu masih memilih diam dan membiarkan Khalifa untuk bicara. Saat ini, hatinya juga tak kalah sesak dari Khalifa, ia semakin mengeratkan pelukan nya sambil terus mengusap lembut punggung wanita itu dengan perasaan yang sama hancur nya.
“Maafkan aku Khalifa, maafkan aku. Tapi percayalah, apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku mohon, tenanglah, aku akan menjelaskan semuanya, jangan menangis lagi Khalifa aku mohon.” Seketika itu juga, tangisan Khalifa terhenti.
Bukan karena perkataan Hilal yang menyuruhnya untuk berhenti, akan tetapi ia terdiam lantaran mendengar suara Hilal yang begitu serak dan parau. Apakah suaminya menangis juga? Pikir Khalifa, ia tidak bisa melihat wajah suaminya karena saat ini Hilal begitu erat memeluk nya sehingga wajah mereka tidak saling menatap.
...~To be continue.......