Bunda Untuk Nasha

Bunda Untuk Nasha
Bab 52


...~Happy Reading~...


Beberapa detik setelah Melly keluar, Khalifa pun segera berjalan melangkah mendekati brankar Aca. Dan tanpa membuang waktu, wanita itu langsung memeluk gadis kecil nya begtu saja dengan sangat erat, hingga membuat Aca sedikit terkejut namun ia juga tersenyum Bahagia.


Wajah yang semula begitu murung, kini seketika langsung ceria Ketika ia mendapatkan pelukan dari ibu nya. Tanpa sungkan dan takut lagi, Aca pun membalas pelukan itu dengan tak kalah eratnya, hingga membuat abi Mike dan umma Chila saling melempar senyum kelegaan.


“Hiks hiks hiks, kenapa bisa seperti ini? Kenapa Aca tidak berhati hati hiks hiks?” tanya Khalifa di sertai dengan isak tangis nya.


Isak tangis yang sejak tadi sudah ia tahan, kini akhirnya pecah Ketika Sudah bisa memeluk Aca, putri kecil nya.


“Aca mau minta duit tadi na, tapi na kaki Acá licin, jadi acá pleset,” Cerita gadis kecil itu membuat Khalifa langsung melepaskan pelukan nya, sekali lagi ia menatap lekat wajah gadis kecil itu dengan tatapan yang begitu merindu.


Sungguh, Khalifa sangat merindukan suara khas dari Aca. Suara kurang jelas namun terdengar begitu merdu dan indah di pendengaran nya, dan kini setelah hampir sepuluh hari, akhirnya Khalifa bisa mendengar suara itu lagi.


“Kenapa Acá mau minta duit? Kepada siapa? Dan mau untuk apa?” tanya Khalifa Sambil menghapus air mata nya.


Aca berusaha bangkit mengubah posisi menjadi terduduk, dan segera Khalifa pun membantu.


“Acá kan mau pulang. Aca mau minta maaf sama Bunda kan, tapi na Aca gak punya duit, telus Acá mau minta duits ama Abang kan, telus na kaki Aca licin telus pleset deh, sini Aca dalah dalah banyak banget, telus di obati sama doktel telus sekalang Aca sembuh, telus bunda datang. Aca na makin sembuh deh, » jelas nya panjang lebar membuat umma Chila dan abi Mike sedikit bingung karena tidak mengerti, namun tidak dengan Khalifa.


Wanita itu jelas sangat mengerti dengan apa yang di maksud oleh Acá, membuat bibir nya kembali melengkung membuat sebuah senyuman indah di wajah nya,.


”Bunda cantik kaya Aca kalo senyum. Kata Ayah, Acá juga cantik kalau senyum, makana, Acá gak buleh nangis, jadi na tadi Acá gak nangis, Cuma sedikit aja, sedikitttttt!” imbuh Acá menyatukan jari jempol dan telunjuk nya seolah memberikan bayangan seberapa sedikit nya tangisan dan air matanya.


Khalifa terkekeh, ia merasa ganjalan dalam hatinya yang sejak tadi membuat perasaan nya kacau, kini seolah hilang. Batu besar yang mengganjal itu seolah lenyap dalam seketika.


“Mas … “ Hilal menegur kakak pertama nya, seketika membuat perdebatan kedua nya terhenti, “Istighfar, ini tempat umum.”


“Astagfirullah!” Arman langsung mengusap wajah nya kasar.


“Kalau memang kamu sudah tidak sanggup, ya sudah! Pulangkan aku sekarang juga !’’ ucap Milla tiba tiba membuat darah Arman kembali mendidih.


‘’Jadi ini final kamu ?’’ Arman menatap lekat wanita di depan nya, wanita yang sudah menemani nya hampir lima belas tahun lamanya. Dan wanita yang sudah memberikan nya dua buah hati, namun kini ia merasa sudah tidak sanggup lagi.


Berbagai upaya ia lakukan untuk menuruti semua kemauan istrinya, bahkan sampai rela mengkhianati adiknya sendiri, akan tetapi itu masih terlihat kurang dan selalu kurang di mata Mila.


“Mas, istighfar, jangan gegabah!” Hilal berusaha menyadarkan kakak nya, mengusap bahu kokoh itu dan hendak mengajak kakak nya pergi untuk menghindar agar tidak sampai mengeluarkan kata kata yang tidak sepantas nya.


Namun, Arman menolak, matanya masih menatap lekat pada wanita di depan nya yang terlihat masih begitu emosi lantaran keinginan nya yang tidak terpenuhi lagi, “Mulai hari ini—”


“Kenapa? Kamu mau nalak aku? Ya sudah silahkan!” Bukan meminta maaf atau berusaha membujuk suaminya, justru Milla semakin membangkitkan amarah Arman, hingga membuat laki laki itu semakin hilang kendali.


“Baiklah, jika memang itu mau kamu! Mulai hari ini, kamu bukan lagi istriku!’’ ucap Arman dengan begitu tegas dan lantang hingga membuat Melly yang berada di tempat cukup jauh dari keduanya, langsung terkejut dan berlari menghampiri kakak nya.


Milla hanya bisa diam dan mengepalkan tangan nya erat, tak menyangka jika ternyata suami nya benar benar akan mengucapkan kata seperti itu. Dan tanpa banyak bicara lagi, dengan raut wajah datar dan di ngin nya, Arman segera pergi meninggalkan área parkir.


...~To be continue …....